Radikal-Gila : Rekayasa Atau Realita

oleh

Oleh : Johansyah*

Sebuah film berdurasi tiga puluh menit saya ikuti sambil merebahkan diri di sudut ruang tamu. Dalam film ini dikisahkan sepasang suami-istri yang sudah lama menikah.

Mereka sudah dikaruniai dua anak, satu putra dan satu putri. Keseharian keluarga ini begitu mesra. Tapi belakangan agak terusik selama sang suami berkenalan dengan seorang janda kaya yang kebetulan baru pindah dekat rumah mereka.

Si janda kaya ini terlihat memang agak peramah pada sang suami. Jika si suami lewat depan rumahnya, si janda menyapa dengan nada lembut. Istri yang memperhatikan tingkah si janda ini tampak kurang senang. Api cemburunya sedikit demi sedikit membara di hatinya.

Sebenarnya si istri bukan tipe pecemburu, tapi untuk kali ini dia benar-benar tidak tahan dengan cara si janda yang berlebihan. Sejak itu, dia perhatikan ada beberapa perubahan dari suaminya.

Gaya berpakaian, perhatian kepada anak-anak dan juga sering mengadakan acara di luar tanpa memberitahu sang istri. Biasanya ke mana pun pergi selalu memberikan informasi, baik melalui whatsapp, atau videocall. Tapi kini tidak lagi, semua banyak yang berubah.

Si istri adalah perempuan salehah dan sangat setia. Dia pun mengenang masa-masa pahit dulu manakala sang suami tidak memperoleh pekerjaan, hanya menjadi pengangguran. Merasa kasihan, istri lalu berinisiatif untuk menjual warisan dari orangtua agar si suami dapat menggunakannya sebagai modal usaha.

9Sang suami tentu menyambut rencana ini dengan rasa gembira. Mereka pun membuka usaha kecil-kecilan. Perlahan tapi pasti, usaha mereka berkembang pesat hingga hanya dalam waktu sekitar dua tahun, mereka memiliki usaha besar dan maju.

Bisa dikata, untuk tingkat di kampung atau mungkin kecamatan, merekalah di antara orang yang tersukses.

Sayang, si suami yang mulai hidup merasakan hidup mapan agaknya lupa diri. Ambisi duniawi telah mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan. Kesenangan baginya adalah sesuatu yang dapat dinikmati dan dirasakan secara langsung.

Hal ini membuatnya bersikap acuh terhadap keluarga. Dan ini menimpanya setelah secara inten menjalin komunikasi dengan si janda kaya.

Ironisnya, si janda merayunya agar mau berkerja sama membuka usaha dalam skala besar. Benar saja, usaha tersebut langsung berjalan. Hanya saja, keuntungan yang diperoleh sepenuhnya dikelola oleh si janda.

Dengan kelicikannya, si janda mengklaim bahwa perusahaan itu bangkrut. Mau tak mau harus gulung tikar.

Bukan main kecewanya si suami. Ada juga rasa tidak percaya terhadap perempuan itu. Tapi apa pun ceritanya, nasi sudah jadi bubur. Si istri yang agaknya sudah mengerti ending dari kerja sama mereka hanya bisa mengatakan; bukankah dulu engkau yang merasa yakin bahwa bekerja sama dengannya akan mendatangkan keuntungan yang besar’?

Dia diam tak mampu menyangkal kalimat yang dilontarkan sang istri. Dia hanya merasa bahwa selama ini sudah melakukan banyak kesalahan. Oleh karena itu dia memohon kepada istri agar diberikan kesempatan untuk memperbaikinya.

Dia juga berjanji akan menghabiskan hidup untuk membangun keluarga seperti dulu lagi.
Itulah cuplikan cerita singkat tentang kesetiaan istri yang tidak dihargai oleh suami. Saya pun terpikir dengan kondisi negeri ini yang lebih kurang memiliki alur cerita sama dengan kisah di atas.

Soal berbicara Indonesia, kita tidak akan mungkin lepas dari pembahasan tentang kontribusi umat Islam bagi tegak dan berdirinya bangsa ini meskipun tentu tidak menafikan kontribusi kaum minoritas.

Umat Islam Indonesia dalam perjalanan sejarah persis seperti gambaran istri dalam kisah di atas. Umat ini sangat setia terhadap bangsa ini. Mereka berkorban harta hingga nyawa. Tapi tampaknya beberapa tahun belakangan kesetiaan ini sepertinya tidak dihargai, bahkan yang muncul kemudia sebaliknya.

Seolah-olah umat muslim Indonesia mengancap eksistensi negara ini. Mereka diidentikkan dengan terorisme dan radikalisme.

Hal ini bisa dilihat dari berbagai pandangan ‘aneh’ yang muncul beberapa waktu lalu. Seperti pernyataan menteri agama yang mewanti-wanti gerakan redikal itu tumbuh dan berkembang melalui masjid. Orang-orang yang good looking dan hafizh qur’an kemudian dicurigai sebagai bibit-bibit radikal. Ditambah lagi dengan wacana sertifikasi ulama.

Kemarin ada peristiwa yang cukup mengagetkan kita, yakni penusukan Syeh Ali Jaber di Bandar lampung. Dalam video singkat tersebut tampak seorang pemuda tiba-tiba lari ke arahnya dengan menusukkan pisau ke tangan bagian atas beliau. Warga yang melihat itu spontan menghadang pelaku dan menghantam hingga babak belur.

Sebelum aparat memberikan keterangan atas tragedi ini, publik sudah mulai menebak arah keterangannya. Bahwa kemungkinan besar si pelaku akan dinyatakan sebagai orang yang mengalami gangguan jiwa.

Ternyata benar, orangtuanya mengatakan memang si anak ini mengalami gangguan jiwa. Lebih kurang aparat keamanan memberikan keterangan yang sama meskipun menegaskan akan mendalami kasus tersebut.

Munculllah kemudian komparasi di ranah publik. Waktu dulu Wiranto ditusuk seseorang, pelakunya langsung dicap sebagai radikalis. Tapi giliran ulama ditusuk, pelakunya dinyatakan mengalami gangguan jiwa.

Hanya saja kemudian orang merasa aneh, ternyata ada orang gila ‘terlatih dan terdidik’ yang bisa mengetahui sasaran serangannya dengan fokus. Sungguh orang gila yang luar biasa, karena memang di luar kebiasaan. Biasanya orang gila itu tidak punya target khusus dan tidak merencanakan serangan.

Entahlah bumi nusantara ini. Kini kita diliputi perasaan aneh dan terkadang seperti terasing dan menjadi tamu di rumah sendiri. Kita mayoritas tapi serasa minoritas. Kita seolah tidak berdaya mengatasi situasi ini. Benarkah muslim Indonesia berpotensi besar mengubah haluan ideologi negara ini, ataukah yang sebenarnya terjadi adalah sebaliknya?

Saya hanya berharap ending dari persoalan ini persis seperti kisah dalam film di atas. Artinya berharap pihak-pihak yang menaruh curiga dan sudah menyakiti umat Islam benar-benar sadar dengan kontribusi umat Islam dan kekeliruan yang mereka buat.

Karena saya sangat yakin ada realitas tersirat di balik realitas radikalisme maupun realitas di balik ‘gangguan jiwa’. Seharusnya ini hanya dalam film, bukan dalam realitas kita Indonesia. Wallahu a’lam bishawab!

*Pegawai Dinas Syari’at Islam dan Pendidikan Dayah Kabupaten Aceh Tengah dan Ketua Persatuan Mahasiswa Takengon (PERMATA) IAIN Ar-Raniry tahun 2000.

Comments

comments