Oleh : Sertalia*
Haili, berkantor di beberapa instansi itu paling hanya menceramahi dan mengutak-atik apa yang sudah berjalan dengan baik.
Kalau ingin memperbaiki tata kelolanya, bukankan kajian tim sudah memenuhi apa yang harus dibenahi dan dievaluasi, bukan malah berkantor dan duduk menceramahi pegawai di instansi tersebut.
Contoh sudah ada, ketika berkantor di RSUD Datu Beru, apakah persoalan disana benar-benar tuntas? Jawabannya, tidak.
Masalah klasik masih terus terjadi disana. Yang ada hanya, orang dan pemainnya saja yang berganti, sementara masalah tidak benar-benar selesai.
Seorang pemimpin harusnya memberi kepercayaan kepada bawahannya, dengan terus memantau dan mengevaluasi kinerja.
Kepercayaan adalah sebuah keniscayaan dalam kepemimpinan. Jika seorang pemimpin tidak percaya dengan apa yang sudah diperintahkan ke bawahannya, maka evaluasi segera. Bukan malah pindah kantor, jika demikian ada yang tidak beres dengan psikologis pemimpin itu, dan kadang kala banyak yang berbisik sebagai pemimpin terburuk sepanjang sejarah.
Haili seorang birokrat, seharusnya sudah memahami dan menguasai komunikasi hierarki. Karena hal itu merupakan fondasi utama dari berjalannya roda pemerintahan yang stabil dan akuntabel. Ketika kondisi seperti ini terjadi hampir dipastikan ia tidak paham soal itu.
Dalam sistem birokrasi, komunikasi bukan sekadar bertukar informasi, melainkan cerminan dari pembagian wewenang, tanggung jawab, dan kepatuhan hukum.
Penyelesian masalah di rakyat jangan di samakan dengan prilaku dan cara para agen dan toke yang suka membohongi para konsumennya. Ini pemerintahan apa yang di ucapakan dan di kerjakan harus ada keberlanjutannya. Bukan sekedar selesai di depan kemudian tak lagi di urus.
Jangan hanya lihat usaha dan rugi mu tapi lihat lah sejauh mana upayamu dapat membawa rakyat ke sejahtra secara adil. []





