Oleh: Dr. Jamhuri Ungel, MA*
Khayalan adalah gambaran atau bayangan yang muncul dalam pikiran dan belum tentu sesuai dengan kenyataan.
Dalam bahasa Arab, khayāl (خيال) berarti bayangan, imajinasi, atau gambaran dalam pikiran.
Dari definisi di atas bisa kita pahami bahwa khayalan adalah suatu kegiatan yang tidak nyata atau tidak riil. Dalam pelaksanaannya, khayalan adalah suatu gambaran, suatu imajinasi yang kejadiannya belum tentu sama dengan yang dipikirkan. Banyak di antara kita yang mengatakan bahwa khayalan itu adalah sesuatu yang tidak bermanfaat, namun ketika kita pelajari dan renungkan secara mendalam bahwasanya khayal itu adalah sesuatu yang sangat dipentingkan.
Dalam tulisan ini saya ingin mencoba menggambarkan bahwa sebenarnya khayalan adalah wujud dari aktivitas seseorang yang disebut menghayal.
Jadi, bila kita lihat pendapat para ulama, di antaranya adalah Imam Al Ghazali, beliau mengatakan bahwasanya kehidupan di dunia ini adalah kehidupan yang tidak sebenarnya atau kehidupan khayalan. Sedangkan kehidupan yang hakiki adalah kehidupan di alam setelah kematian.
Dari ungkapan ini kita pahami bahwa makna hidup sekarang dalam pendapat Al Ghazali adalah khayalan dan baru kita berhenti untuk menghayal adalah ketika nanti kita hidup pada kehidupan yang selanjutnya, yaitu kehidupan setelah kematian.
Dari sini juga kita bisa pahami bahwa apa pun yang kita lakukan di dunia ini bukanlah merupakan suatu perbuatan yang akan menghasilkan sesuatu yang pasti, tetapi kepastian dari hasil perbuatan yang kita lakukan dalam hidup sekarang ini terjelma atau terwujud di dalam kehidupan setelah kematian.
Banyak firman Allah yang bisa kita pahami merupakan sesuatu bentuk isyarat untuk kita menghayal, di mana Allah mengatakan bahwa penciptaan surga yang merupakan suatu tempat yang sangat indah dan keindahan surga itu di luar bayangan manusia atau di luar khayalan manusia.
Ayat ini sebagai isyarat berbentuk suruhan supaya kita menghayal bagaimana keindahan surga, yang dapat kita wujudkan dalam kehidupan di dunia.
Khayalan ini dapat kita gunakan untuk mendapatkan nikmat yang bersifat materil dan immateril. Ketika kita ingin mewujudkan khayalan sebuah kesenangan yang bersifat materi tentu menjadikan kita berusaha dengan sungguh-sungguh.
Bersungguh-sungguh dalam menyiapkan untuk mewujudkan hasil khayalan kita sehingga dengan harapan hasil khayalan akan terwujud dengan indah, kemewahan, kesenangan yang berakhir dengan kepuasan.
Demikian juga ketika kita melaksanakan perintah Allah. Allah dan Rasulullah memerintahkan kita sebagaimana termaktub dalam Alquran dan hadis, perintah tersebut dihayal, direnung dengan sungguh-sungguh, dengan menggunakan kemampuan tenaga dan ilmu pengetahuan yang kita miliki sehingga apa yang diperintah oleh Allah akan menghasilkan suatu perbuatan yang betul-betul sempurna Allah.
Ini menunjukkan bahwa Allah mengisyaratkan kita untuk menghayal apa yang harus kita kerjakan ketika Allah dan Rasul memerintahkannya.
Contoh lain bisa kita ambil ketika Rasulullah SAW mengatakan bahwa menuntut ilmu itu adalah fardhu, menuntut ilmu itu ke mana pun boleh bahkan sampai ke negeri Cina.
Hadits ini menunjukkan bahwa kita disuruh secara sungguh-sungguh untuk menuntut ilmu dengan nilai wajib, artinya tidak mengenal kata tidak untuk menuntut ilmu, tidak mengenal batasan usia dan tempat, bahkan ke negara yang dianggap komunis sekalipun seperti Cina. Namun, kesungguh-sungguhan kita tentang apa yang diperintahkan oleh Allah diharapkan dijalankan secara sungguh-sungguh.
Saya teringat dengan bagaimana orang tua kita mengajarkan untuk bisa hidup menghayal tentang masa depan kita masing-masing.
Cara yang digunakan oleh orang tua kita untuk menghayal adalah melalui contoh keberhasilan yang didapat akan berakhir dengan kesenangan, seperti yang digambarkan oleh orang tua kita bagaimana orang-orang yang berhasil dalam pendidikan. Selanjutnya dapat bekerja sebagaimana yang dia cita-citakan ataupun yang diharapkan oleh orang tuanya.
Dengan contoh itu biasa kita akan merangkai khayalan dalam benak kita sehingga kita mempunyai keinginan untuk berperan sebagaimana khayalan kita. Kita akan bersungguh-sungguh untuk belajar dan apabila khayalan itu secara serius kita laksanakan dapat dipastikan keberhasilan akan terwujud.
Namun, apabila kita tidak menghayal atau tidak mampu menghayal tentu kita tidak serius dalam melakukan pekerjaan-pekerjaan yang kita lakukan sehingga hasilnya juga pasti tidak sesuai dengan yang kita harapkan.
Demikian juga dengan pekerjaan-pekerjaan yang dihayalkan oleh orang tua kepada kita sehingga sebenarnya kita adalah orang-orang yang menjalani khayalan-khayalan orang tua kita dan apabila khayalan orang tua tersebut kita jalani secara serius maka kemungkinan harapan yang ditanamkan dalam khayalan orang tua tersebut akan terwujud dalam kehidupan diri kita sebagai anak.
Dalam agama disebutkan bahwa melaksanakan ibadah haji adalah suatu kewajiban bagi semua kaum muslimin dan muslimat, namun dibatasi bagi mereka yang mampu. Karena pahala dari melaksanakan haji sangat besar, maka semua orang menghayal untuk melaksanakan ibadah haji dan mereka akan menghayal dan berusaha sekuat tenaga dengan harapan dapat mewujudkan keberangkatan pelaksanaan ibadah haji.
Walaupun demikian, karena beratnya khayalan dan upaya yang dilakukan maka Allah mencukupkan pelaksanaan ibadah haji itu untuk sekali dan pahala yang diberikan untuk sekali itu memadai untuk kehidupan manusia itu sendiri. Dalam contoh ini bisa dipahami bahwa peran khayalan dalam kehidupan manusia sangat diperlukan.
Perintah Allah kepada kita tidak bisa secara serta-merta langsung kita laksanakan, tetapi perintah tersebut harus dipahami, dihayal, dibawa dalam lamunan keseharian sehingga ketika berusaha dan bekerja secara serius.
Pelaksanaan sebelum keberangkatan adalah merupakan jelmaan khayalan, bahkan khayalan terhadap pelaksanaan ibadah haji melalui manasik-manasik yang akan dijelmàkan di tanah suci.
Ketika sedang mengajar di ruang kelas saya mencoba untuk meminta mahasiswa untuk menghayal tentang kemampuan, keseriusan mereka menjalani atau belajar di perguruan tinggi, sejauh mana mereka mampu menghayal tentang cita-cita mereka, persiapan yang mereka lakukan sampai mereka berhasil.
Banyak di antara mereka tidak mampu menghayal karena mereka terbiasa dengan pekerjaan-pekerjaan yang tidak memunculkan khayalan dalam kehidupan mereka seperti halnya main game dan TikTok. Selanjutnya kita yakin bahwa kita hidup sekarang merupakan hasil khayalan masa lalu kita.
Demikian juga dengan apa yang dilakukan oleh generasi muda sekarang merupakan proses dari khayalan kita sebagai orang tua dan juga proses khayalan generasi muda atau anak-anak kita sendiri. []





