Oleh : A Zaki Mubarak*
Makrifat bukanlah ilusi. Mengenal dan “bertemu” dengan Allah bukanlah imajinasi langitan yang tak berpijak di bumi. Memang khalwat di tempat sunyi adalah pilihan nir resiko, tapi khalwat di tempat ramai adalah tanggung jawab khalifah di bumi.
Seorang salik harus memastikan hatinya terus dzauq (rindu) kepada Allah namun raganya selalu berbicara dan memikirkan umat. Jasadnya tidak mengenal kamus “lari dari tanggung jawab sosial”, namun harus jadi motor penggerak bagaimana bumi dimakmurkan.
Dia mampu uzlah bathin dengan segala perjuangan dan rintangan, satu kaki berpijak di bumi, kaki lainnya tetap melangit. Itulah makrifat modern yang bisa dilakukan walau tidak mudah diimplementasikan sang Salik.
Tempatnya di mana? Masjid. Ini adalah satu situs yang menghubungkan langit dan bumi. Sebuah tempat di mana suara bumi diantarkan ke langit, kemuliaan langit diturunkan ke bumi.
Tafakur dikaji secara mendalam dari ayat qauliyah hingga kauniyah di hingar bingar mic, dzikir dikumandangkan dalam alunan wirid yang menggema, serta diam berkontemplasi di sudut masjid yang ramai tetapi bernuansa syahdu dan sepi.
Itulah masjid. Tempat khlawat yang tidak menyendiri, tempat mihrab yang switch mode-nya secepat kilat, tempat di mana jarak hamba dan tuan tidak terlalu jauh.
Dalam lima menit berkomunikasi dengan Allah, sepuluh menit berdzikir melalui ayat dan doa, lantas lima menit merasakan kehadiran Allah di rumahnya untuk urusan langitan.
Lantas, raganya segera diaktifkan. Berkumpul untuk mendiskusikan ekonomi, karena apa kata dunia jika tulang punggung ekonomi retak dan rapuh. Diskusi agar umat kuat di ekonomi dan sejahtera dalam keluarga dikonsepsikan di depan para tokoh.
Mereka tahu, dari pikiran terbuka politisi, pejabat, pemuka, jelata yang sudah mengintegrasikan akal dan spiritual akan lahir gagasan dan praktik relevan agar umat terselamatkan. Kada al faqru an yakuna kufran (hampis saja kefakiran berujung kekafiran). Bicara ekonomi di masjid bukan hanya menggenapi nafsu bahimiyah tapi nilai kekhalifahan mulia yang harus dibuka dan dibina.
Pun tentang politik. Walau hati terpaut kepada Sang Khaliq, pikirannya pun tahu bahwa berpolitik bukan untuk meliarkan nafsu sabu’iyah. Bukan untuk menindas yang lemah, bukan untuk bertahta menyingkirkan kaum papa, bukan pula untuk mengeruk dana umat demi kesenangan belaka.
Ia hadir di masjid untuk menepi dan bemunajat pertolongan Ilahi, agar kekuasaannya tak berujung kuasa tanpa makna. Agar tanda tangannya adalah tenaga menggerakan umat. Agar hadirnya mengubah pada kebaikan.
Agar titahnya adalah jalan kemajuan, serta perintahnya adalah wakil suara Tuhan untuk berperan. Di sinilah makna politisi yang bermakrifat, genggaman kuasanya dikendalikan nafsu kamilah, raganya selalu berkiblat pada tujuan manusia sebagai khalifah.
Maka, di masjidlah tempat peradaban itu mengemuka. Mereka berkhalwat pada kesendirian yang berjamaah. Dari lorong tazkiatun nufus setiap jamaah, sesiapapun mereka, untuk mengetuk pintu langit. Dari sudut riyadhah taswiyatul qulub mereka yang menautkan diri dengan Allah.
Dari podium dan pengeras suara yang membongkar Sirr Allah secara terbuka dan menggema, di sinilah embrio makrifat itu terbentuk. Lalu, makrifat ini bekerja bukan hanya untuk dirinya sekedar hamba, namun kesadaran makna hidup untuk bermanfaat bagi dunia.
Kepatuhan atas adagium “Kualitas hidup dunia yang pendek, menentukan kualitas hidup akhirat yang panjang” menjadi garis tuntun yang membimbing dirinya sebagai manusia bumi.
Durasinya tak lama, lantas segera ia berangkat, pulang ke haribaan-Nya. Langitlah tempat ia pulang. Bumi tempat menanam benih, Langitlah tempat memanen. Itulah makna makrifat sejati seorang hamba di hadapan Tuhan, sang Kekasihnya. Di mana? Di masjid!
(Refleksi setelah berdiskusi di Masjid Agung Ruhama, Takengon bersama Bupati, KakanKemenag, Rektor IAIN Takengon, BWI, Tokoh Zuama dan Ulama Aceh Tengah)






