Sandang, Pangan, Papan: Tiga Kebutuhan Rumah Tangga yang Wajib Diusahakan

oleh

Catatan Mahbub Fauzie, S.Ag., M.Pd. (Penghulu Ahli Madya/Kepala KUA Kecamatan Atu Lintang, Aceh Tengah)

Membangun keluarga yang sakinah tidak cukup hanya dengan cinta dan kasih sayang. Rumah tangga juga membutuhkan ikhtiar nyata agar kebutuhan hidup dapat terpenuhi. Karena itu, Islam mengajarkan bahwa setiap kepala keluarga harus memiliki semangat bekerja, berusaha, dan tidak berpangku tangan menunggu rezeki datang dengan sendirinya.

Allah SWT berfirman: “Apabila salat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi; carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.” (QS. Al-Jumu’ah: 10).

Dalam kehidupan rumah tangga ada tiga kebutuhan pokok yang dapat kita singkat dengan istilah SPP, yaitu Sandang, Pangan, dan Papan.

Sandang adalah pakaian yang kita kenakan setiap hari. Pakaian tidak harus mahal atau bermerek. Yang terpenting adalah layak dipakai, menutup aurat, bersih, nyaman, serta mampu melindungi tubuh dari panas maupun dingin. Kesederhanaan dalam berpakaian tidak mengurangi kehormatan seseorang, justru mencerminkan sikap hidup yang bijaksana.

Pangan merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditunda. Keluarga membutuhkan makanan yang sehat, bergizi, halal, dan baik (thayyib). Makanan tidak harus selalu mahal atau mewah. Bahkan, kebiasaan terlalu sering membeli makanan siap saji hanya karena praktis sering kali membuat pengeluaran membengkak, sementara kualitas gizinya belum tentu baik.

Memasak di rumah memiliki banyak kelebihan. Selain lebih hemat dan lebih terjamin kebersihan serta kandungan gizinya, ada nilai kasih sayang yang tumbuh di dalam keluarga. Suami dan anak-anak menikmati hidangan yang dimasak oleh istri dan ibu mereka. Kebersamaan saat menyiapkan dan menyantap makanan menjadi perekat hubungan keluarga yang sering kali tidak tergantikan.

Selanjutnya adalah papan, yaitu tempat tinggal. Rumah yang nyaman tidak harus megah. Yang lebih penting adalah aman, sehat, bersih, dan memberikan ketenangan bagi seluruh anggota keluarga. Bila belum mampu memiliki rumah sendiri, menyewa rumah yang sesuai kemampuan tentu bukanlah aib.

Namun, bila memungkinkan, jangan terlalu lama bergantung atau menumpang kepada orang tua. Belajar hidup mandiri akan melatih tanggung jawab sekaligus menghindarkan berbagai persoalan yang mungkin muncul dalam kehidupan bersama.

Semua kebutuhan tersebut tentu memerlukan biaya. Oleh sebab itu, bekerja adalah bagian dari ikhtiar yang mulia. Jika belum memiliki pekerjaan tetap, jangan berputus asa.

Lihatlah potensi yang ada pada diri sendiri. Manfaatkan keterampilan yang dimiliki. Amatilah lingkungan sekitar, peluang apa yang bisa dikerjakan untuk memperoleh rezeki yang halal.

Rasulullah SAW bersabda: “Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil kerja tangannya sendiri. Sesungguhnya Nabi Dawud a.s. makan dari hasil kerja tangannya.” (HR. Al-Bukhari No. 2072).

Di desa, misalnya, tidak semua kebutuhan harus dibeli. Pekarangan rumah dapat dimanfaatkan untuk menanam sayuran, cabai, tomat, atau rempah-rempah.

Memelihara ayam, itik, atau ikan juga dapat membantu memenuhi kebutuhan lauk keluarga. Langkah-langkah sederhana seperti ini mampu mengurangi pengeluaran sekaligus memperkuat ketahanan pangan keluarga.

Jika belum memiliki pekerjaan tetap, jangan pernah menyerah. Allah SWT berfirman: “…Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11).

Seorang mukmin harus yakin bahwa Allah SWT adalah Maha Pemberi Rezeki. Namun, keyakinan itu harus disertai usaha. Allah tidak mengajarkan umat-Nya untuk bermalas-malasan. Bahkan seekor semut yang kecil saja harus keluar dari sarangnya untuk mencari makan. Apalagi manusia yang dianugerahi akal, tenaga, dan berbagai kemampuan untuk berusaha.

Allah SWT juga menegaskan: “Dan tidak ada suatu makhluk melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya.” (QS. Hud: 6).

Bekerja bukan sekadar mencari uang, tetapi juga menjaga kehormatan diri, memenuhi amanah keluarga, dan menjadi bentuk ibadah kepada Allah SWT. Selama pekerjaan itu halal dan dilakukan dengan sungguh-sungguh, setiap tetes keringat yang keluar demi keluarga akan bernilai pahala di sisi-Nya.

Rasulullah SAW juga mengingatkan: “Cukuplah seseorang dianggap berdosa apabila ia menyia-nyiakan orang yang menjadi tanggungannya.” (HR. Abu Dawud No. 1692).

Karena itu, mari kita jadikan semangat bekerja sebagai budaya dalam keluarga. Berusahalah sesuai kemampuan, hiduplah sederhana, manfaatkan setiap potensi yang Allah titipkan, dan iringi setiap ikhtiar dengan doa serta tawakal. Jangan malu bekerja selama pekerjaan itu halal. Yakinlah, Allah tidak akan menyia-nyiakan hamba-Nya yang bersungguh-sungguh dalam berikhtiar.

Semoga Allah SWT melimpahkan rezeki yang halal, berkah, dan mencukupi kebutuhan Sandang, Pangan, dan Papan bagi setiap keluarga, sehingga terwujud rumah tangga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. Aamiin.[]

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.