Oleh Ansar Salihin*
Rangkaian Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV Aceh berlanjut dengan diskusi sastra bertajuk “Nusantara Puisi Musikal, Teaterikal, dan Puisi Visual” yang berlangsung di Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh, Sabtu, 27 Juni 2026.
Diskusi ini menghadirkan tiga narasumber dari disiplin seni yang berbeda, yakni Jose Rizal Manua dari Jakarta, Davi Abdullah dari Aceh Bergerak, dan Acep Zamzam Noor dari Jawa Barat.
Perbedaan latar belakang tersebut menjadikan pembahasan tidak hanya berpusat pada puisi sebagai teks, tetapi juga pada bagaimana puisi terus hidup melalui musik, teater, film, hingga teknologi digital.
Diskusi ini menarik karena mengangkat satu persoalan yang semakin relevan dalam perkembangan seni kontemporer, yaitu alih wahana.
Ketika puisi berpindah ke medium lain, apakah ia kehilangan jati dirinya, atau justru memperoleh ruang hidup yang lebih luas? Ketiga narasumber menjawab pertanyaan itu dari sudut pandang yang berbeda, namun saling melengkapi.
Jose Rizal Manua membuka diskusi dengan mengajak peserta memahami bahwa setiap karya sastra menyimpan ruang imajinasi yang tidak sepenuhnya perlu dijelaskan. Menurutnya, ketika puisi diadaptasi menjadi film atau teater, yang berpindah bukan seluruh isi puisinya, melainkan ruh dan pengalaman estetik yang dikandungnya. Adaptasi bukanlah proses menyalin, tetapi sebuah penafsiran kreatif.
Untuk menjelaskan gagasannya, Jose Rizal mengangkat pengalaman menarik mengenai puisi Malam Lebaran karya Sitor Situmorang. Puisi tersebut selama bertahun-tahun menjadi bahan diskusi para sastrawan karena citraan “bulan di atas kuburan” yang begitu kuat membangkitkan imajinasi pembaca.
Namun, ketika Sitor menjelaskan bahwa puisinya lahir dari pengalaman sederhana saat berjalan menuju rumah Pramoedya Ananta Toer dan melihat bulan di atas kompleks pemakaman Tionghoa, sebagian pembaca justru merasa kehilangan. Imajinasi yang selama ini mereka bangun seakan runtuh oleh penjelasan yang terlalu sederhana.
Dari kisah itu, Jose Rizal menunjukkan bahwa puisi memiliki wilayah yang tidak selalu harus diterangkan secara rasional. Ada ruang yang sengaja dibiarkan terbuka agar pembaca bebas membangun maknanya sendiri.
Barangkali, di situlah letak kekuatan puisi. Ia tidak memberi jawaban, tetapi menghadirkan kemungkinan-kemungkinan tafsir.
Pandangan tersebut diperkuat melalui contoh film puisi Tak Kubur garapan Garin Nugroho yang mengangkat puisi Ibrahim Kadir. Film hitam putih itu tidak memindahkan puisi secara harfiah, tetapi menghadirkan pengalaman visual yang memperkaya makna karya aslinya.
Dengan demikian, alih wahana bukanlah upaya menggantikan puisi, melainkan membuka pintu bagi pengalaman estetik yang baru.
Jose Rizal juga mengungkapkan bahwa sejumlah karya W.S. Rendra pernah dibeli oleh rumah produksi milik Deddy Mizwar untuk diadaptasi menjadi film. Walaupun proyek tersebut tidak pernah terealisasi, kisah itu menunjukkan bahwa karya sastra selalu memiliki kemungkinan untuk terus hidup dalam medium yang berbeda.
Seorang sutradara bisa saja terinspirasi oleh isi puisi, judulnya, suasananya, bahkan biografi penyairnya. Tidak ada satu pola yang baku dalam proses kreatif tersebut.
Jika Jose Rizal berbicara tentang pengalaman estetik, maka Davi Abdullah mengajak peserta melihat puisi dari perspektif kolaborasi lintas disiplin. Menurutnya, makna sebuah puisi selalu bergantung pada siapa yang membacanya.
Seorang pelukis akan menangkapnya sebagai inspirasi visual, seorang sineas menerjemahkannya menjadi bahasa gambar, sementara musisi dapat mengolahnya menjadi komposisi bunyi. Perbedaan tafsir inilah yang membuat puisi tidak pernah berhenti melahirkan karya baru.
Davi menegaskan bahwa film merupakan salah satu medium yang paling terbuka terhadap kolaborasi. Di dalamnya bertemu sastra, musik, tari, teater, seni rupa, fotografi, hingga teknologi digital.
Oleh karena itu, ketika puisi memasuki dunia film, yang terjadi bukan sekadar perubahan bentuk, melainkan proses transformasi yang menghasilkan identitas artistik baru.
Pandangan itu terasa relevan dengan perkembangan industri kreatif saat ini. Davi mencontohkan bagaimana teknologi kecerdasan buatan (AI) mulai dimanfaatkan untuk memvisualisasikan sejarah dan kebudayaan Aceh.
Tokoh-tokoh seperti Laksamana Malahayati, misalnya, dapat diperkenalkan kembali kepada generasi muda melalui media visual yang lebih akrab dengan kehidupan mereka. Teknologi, dalam pandangannya, bukanlah ancaman bagi sastra, tetapi sarana untuk memperluas cara masyarakat mengapresiasi karya budaya.
Namun, ia mengingatkan bahwa teknologi hanyalah alat. Yang lebih penting adalah menghadirkan ruang belajar yang mempertemukan para praktisi dengan generasi muda yang ingin berkarya.
Kreativitas, menurutnya, tidak tumbuh karena paksaan, tetapi berkembang ketika seseorang diberi kesempatan untuk belajar sesuai minat dan passion yang dimilikinya.
Sementara itu, Acep Zamzam Noor mengajak peserta melihat persoalan alih wahana dari sudut pandang yang lebih filosofis. Menurutnya, perkembangan puisi menuju berbagai medium baru bukanlah fenomena yang benar-benar baru.
Sastra sejak lama telah berdialog dengan musik, teater, dan seni pertunjukan. Yang berubah hanyalah perangkat teknologi dan cara penyampaiannya.
Acep menjelaskan bahwa dalam dunia sinema dikenal konsep poetic film, yakni film yang menjadikan puisi sebagai fondasi narasi visual.
Dalam bentuk ini, makna puisi tidak hanya dibangun melalui kata-kata, tetapi juga melalui komposisi gambar, ritme penyuntingan, suara, dan musik. Semua unsur tersebut bekerja bersama untuk menghadirkan pengalaman yang berbeda dari pengalaman membaca teks.
Menurutnya, setiap adaptasi pasti melahirkan tafsir baru. Karena itu, tidak tepat jika film dinilai berdasarkan seberapa setia ia menyalin puisi.
Film memiliki bahasa artistiknya sendiri, sebagaimana puisi memiliki kebebasan dalam menggunakan bahasa. Yang terpenting adalah apakah karya baru itu tetap mampu menyampaikan pengalaman estetik kepada penikmatnya.
Pandangan Acep menjadi penegas bahwa inovasi tidak berarti meninggalkan tradisi. Sebaliknya, tradisi justru memperoleh kehidupan baru ketika bersedia berdialog dengan perkembangan zaman.
Puisi tetap menjadi pusatnya, sementara medium penyampaiannya terus berkembang mengikuti perubahan masyarakat.
Jika dicermati secara keseluruhan, ketiga narasumber sebenarnya berbicara tentang gagasan yang sama, yakni puisi tidak pernah berhenti hidup karena ia mampu beradaptasi. Jose Rizal Manua menekankan pentingnya menjaga ruang imajinasi dalam karya sastra.
Davi Abdullah memperlihatkan bahwa kolaborasi lintas disiplin membuka peluang lahirnya bentuk-bentuk artistik baru. Sementara Acep Zamzam Noor mengingatkan bahwa setiap inovasi harus tetap berpijak pada nilai estetik dan tradisi sastra.
Diskusi ini juga memperlihatkan bahwa alih wahana bukanlah ancaman bagi puisi. Justru melalui musik, teater, tari, film, dan media digital, puisi dapat menjangkau khalayak yang lebih luas, terutama generasi muda yang akrab dengan budaya visual.
Tantangannya bukan lagi mempertahankan puisi dalam bentuk yang lama, melainkan menjaga agar kedalaman makna, keindahan bahasa, dan nilai kemanusiaan yang dikandungnya tidak hilang dalam proses transformasi tersebut.
Pada akhirnya, diskusi sastra ini mengingatkan bahwa puisi bukan sekadar rangkaian kata-kata yang dibaca di atas kertas. Puisi adalah pengalaman batin yang mampu menjelma ke dalam berbagai bentuk seni tanpa kehilangan jiwanya.
Selama seniman terus membuka ruang dialog antardisiplin dan tetap menghormati esensi karya sastra, puisi akan selalu menemukan cara baru untuk berbicara kepada zamannya.
Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan industri kreatif, kemampuan puisi untuk terus bertransformasi justru menjadi bukti bahwa sastra tidak pernah usang, melainkan selalu menemukan kehidupan baru dalam setiap generasi.
*Penulis adalah peneliti/editor The Gayo Institute dan Peserta PPN XIV 2026 asal Aceh-Indonesia






