Takengon-LintasGAYO.co : Program Gerakan Kampung Sadar dan Peduli Lestari di seputar Danau Laut Tawar Kabupaten Aceh Tengah yang digelar LIPGA beberapa hari ini resmi ditutup, Sabtu 30 Mei 2026.
Kegiatan yang diisi dengan Lomba Produk Kerajinan Daur Ulang tingkat Pelajar Kampung seputar Danau Laut Tawar ini mengusung tema Sampah adalah Berkah “Ubah Sampah Plastik Menjadi Karya Bernilai. Demikian dituturkan Direktur Eksekutif LIPGA Kabupaten Aceh Tengah, Sunardi Gustiawan. SB, M.A.P.
“Program ini dilaksanakan LIPGA setelah melalui seleksi ketat seluruh Indonesia dengan skema hibah dan Perjanjian Kemitraan antara LIPGA dan Yayasan Penabulu selama 3 (tiga) Bulan Maret sampai Mei 2026,” ungkapnya.
Ada 9 rangkaian kegiatan yang dimulai dari Perkenalan Program ke Pemerintah Kabupaten, Kecamatan dan Reje, Sosialisasi dan persetujuan dimulainya Programm Diklat peningkatan pengetahuan tentang pengelolaan sampah dan tanggap bencana, Peningkatan pendapatan masyarakat melalui Bank Sampah, Kampanye melalui poster berbingkai, Aksi melalui gotong royong dan Pendampingan, Monitoring dan Evaluasi Program.
Adapun target program, dirincikan Gusti antara lain berkurangnya sampah yang dibuang sembarangan (ke danau) dan parit-parit yang airnya langsung ke danau dengan tersediaanya tempat-tempat sampah (sampah organik dan sampah anorganik).
Berikutnya, tumbuhya kesadaran dan kepedulian masyarakat dengan cara peningkatan pengetahuan tentang pengelolaan sampah dan aksi nyata “Lihat dan Ambil Sampah”.
“Kita juga berharap peningkatan ekonomi masyarakat melalui Pembentukan Bank Sampah Kampung,” katanya sambil menimpali agar terciptanya produk kerajinan daur ulang sebagai produk bernilai ekonomi.
Program ini juga bertujuan menumbuhkan semangat dan budaya gotong royong dengan slogan “Kampung Bersih” melalui pembentukan komunitas masyarakat sadar dan peduli.
“Kita juga mengkampanyekan Sampah ku tanggungjawab ku melalui pemasangan poster edukasi berbingkai,” cetusnya.
Dilanjutkan Gusti, program yang dilaksanakan hanya 3 (tiga) bulan ini tidak mungkin merubah pola pikir semua pihak dengan serta merta.
“Ini hanya pilot projek perlu tindaklanjut program kedepannya dari Pemerintah Kabupaten, Kecamatan dan Kampung dan menjadikannya sebagai program prioritas di kampung masing masing bahwa pengelolaan sampah dan tanggap bencana itu darurat dan penting dilakukan apalagi pasca bencana besar di Aceh tanggal 26 Nopemebr 2025 lalu,” paparnya.
Pihaknya mengucapkan terima kasih kepada Uni Eropa dan Yayasan Penabulu pada program CO-EVOLVE 2 melalui Lokadaya dan skema hibah Lokadana serta Pemerintah Kabupaten, Kecamatan, Kampung dan masyarakat penerima manfaat program atas dukungan dan partisipasi dalam program. [*]









