Ketika Anak Perempuan Kehilangan Tempat Aman

oleh

Oleh : Izzatur Rusuli*

Ada satu pertanyaan yang terus mengganggu pikiran saya beberapa hari terakhir: sebenarnya, seberapa aman anak-anak perempuan kita hari ini?

Sebagai seorang yang lama berkecimpung dalam isu parenting, psikologi anak, dan kesehatan keluarga, saya semakin sering menemukan kenyataan yang menyedihkan: banyak anak tumbuh di tengah rumah yang lengkap secara fisik, tetapi rapuh secara emosional.

Mereka punya sekolah, punya telepon genggam, punya pakaian bagus, bahkan tampak ceria di media sosial. Tetapi di dalam dirinya, banyak yang sedang merasa sepi, tidak didengar, tidak dipahami, dan tidak benar-benar memiliki tempat aman untuk bercerita.

Di titik itulah dunia luar masuk mengambil mereka.

Karena itu, ketika muncul pengakuan tentang dugaan adanya sindikat yang menjadikan anak-anak sekolah sebagai “selimut” bagi lelaki berduit atau orang-orang berpengaruh, saya tidak melihatnya sekadar sebagai kasus kriminal biasa.

Saya melihatnya sebagai alarm psikologis yang sangat serius tentang rapuhnya perlindungan emosional terhadap anak-anak kita.

Masyarakat sering gagal memahami bahwa eksploitasi terhadap anak dan remaja jarang dimulai dengan kekerasan brutal. Banyak kasus justru dimulai dari sesuatu yang tampak sederhana: perhatian kecil, pujian, pemberian hadiah, diajak makan, merasa “dimengerti”, lalu perlahan dibangun ketergantungan emosional. Anak-anak yang haus perhatian sangat mudah masuk ke dalam perangkap seperti itu.

Dalam psikologi perkembangan, remaja adalah fase pencarian identitas dan kebutuhan diterima secara sosial. Mereka sedang belajar memahami nilai dirinya. Mereka ingin dianggap berarti.

Ketika kebutuhan emosional itu tidak terpenuhi secara sehat di rumah atau lingkungan pendidikan, maka mereka menjadi jauh lebih rentan terhadap manipulasi relasi.

Karena itu, saya selalu mengatakan kepada para orang tua: jangan pernah berpikir ancaman terbesar bagi anak hanya narkoba atau pergaulan bebas. Ancaman terbesar hari ini adalah ketika anak merasa sendirian secara emosional.

Anak yang merasa aman di rumah biasanya akan kembali bercerita.

Anak yang merasa didengar tidak mudah mencari pelarian.

Anak yang tumbuh dengan pelukan emosional yang cukup lebih sulit dimanipulasi oleh perhatian palsu dari luar.

Tetapi inilah problem keluarga modern hari ini. Banyak orang tua hadir secara finansial, tetapi tidak hadir secara psikologis. Kita terlalu sibuk memenuhi kebutuhan hidup, tetapi sering tidak benar-benar mengenal dunia batin anak-anak kita sendiri.

Kita tahu jadwal sekolahnya, tetapi tidak tahu apa yang sedang membuatnya cemas. Kita tahu nilai akademiknya, tetapi tidak tahu siapa yang diam-diam sedang mendekatinya di media sosial.

Lalu ketika anak-anak mulai terjerumus, masyarakat buru-buru menghakimi mereka.

Ini yang membuat saya sangat prihatin sebagai pemerhati parenting dan perempuan. Dalam banyak kasus eksploitasi seksual, masyarakat kita sering lebih ganas kepada anak perempuan dibanding kepada laki-laki dewasa yang menjadi pelaku utama.

Korban dipermalukan. Namanya dibicarakan. Karakternya dihancurkan. Sementara lelaki yang membeli tubuh dan masa depan mereka sering justru tetap hidup nyaman di tengah masyarakat.

Padahal relasi seperti ini hampir selalu timpang.

Anak-anak sekolah tidak memiliki kematangan psikologis yang sama dengan orang dewasa. Mereka mudah dipengaruhi, mudah dibentuk, dan sering tidak benar-benar memahami konsekuensi jangka panjang dari relasi yang mereka jalani.

Karena itu, ketika orang dewasa memanfaatkan kerentanan psikologis mereka demi kepuasan pribadi, maka itu bukan sekadar dosa moral. Itu adalah bentuk kekerasan psikologis.

Yang membuat persoalan ini semakin menyakitkan adalah karena ia terjadi di tengah masyarakat yang dikenal religius. Kita hidup di daerah yang penuh syiar agama, pengajian, dan simbol kesalehan. Tetapi terkadang kita terlalu fokus menjaga citra sosial, sementara kesehatan psikologis anak-anak justru luput dari perhatian.

Kita rajin mengajarkan anak mengaji, tetapi lupa mengajarkan mereka tentang batas tubuh dan relasi sehat. Kita sibuk menjaga anak perempuan agar “tidak memalukan keluarga”, tetapi kurang membangun keberanian mereka untuk bicara ketika merasa tidak aman. Kita sering mengajarkan kepatuhan, tetapi tidak cukup mengajarkan perlindungan diri.

Padahal parenting dalam Islam sesungguhnya sangat menekankan kasih sayang dan perlindungan terhadap anak. Rasulullah SAW adalah figur yang sangat lembut kepada anak-anak dan perempuan. Beliau membangun rasa aman, bukan rasa takut. Karena itu, rumah dalam perspektif Islam bukan hanya tempat tinggal, tetapi tempat jiwa anak bertumbuh dengan tenang.

Saya percaya bahwa persoalan seperti ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan pendekatan hukum. Hukum memang penting. Pelaku harus dihukum. Jaringan harus dibongkar. Tetapi jika kita tidak memperbaiki kesehatan emosional keluarga dan lingkungan sosial kita, maka kasus serupa akan terus muncul dalam bentuk yang berbeda.

Kita membutuhkan lebih banyak rumah yang hangat.

Lebih banyak ayah yang benar-benar hadir mendengarkan anak perempuannya.

Lebih banyak ibu yang menjadi sahabat emosional anaknya.

Lebih banyak sekolah yang peduli pada kesehatan mental siswa, bukan hanya prestasi akademik.

Lebih banyak tokoh agama yang berbicara tentang perlindungan anak, bukan hanya tentang moralitas perempuan. Dan yang paling penting: kita membutuhkan masyarakat yang berhenti menyalahkan korban.

Sebab anak-anak yang terluka tidak membutuhkan hinaan tambahan. Mereka membutuhkan perlindungan, pendampingan, dan pemulihan psikologis agar tidak membawa trauma itu sepanjang hidup mereka. Karena luka masa kecil yang tidak disembuhkan sering tumbuh diam-diam menjadi kecemasan, ketakutan, bahkan kehancuran hidup ketika dewasa nanti.

Pada akhirnya, ukuran kemajuan sebuah masyarakat bukan hanya seberapa megah masjidnya atau seberapa ramai syiar agamanya. Ukuran sejatinya adalah: apakah anak-anak perempuannya merasa aman tumbuh di dalamnya.

Dan jika hari ini anak-anak kita mulai kehilangan rasa aman itu, maka sesungguhnya yang sedang berada dalam bahaya bukan hanya mereka—tetapi nurani sosial kita secara bersama-sama. []

 

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.