Nabi Ibrahim, Parenting, dan Kegelisahan Keluarga Modern

oleh

Oleh : Izzatur Rusuli (Dosen IAIN TAkengon)

Salah satu krisis terbesar dunia modern hari ini bukan hanya krisis ekonomi, bukan pula krisis teknologi, melainkan krisis pengasuhan. Banyak orang tua berhasil membangun rumah besar, tetapi gagal membangun kedekatan emosional dengan anak-anaknya.

Banyak keluarga tampak religius di ruang publik, tetapi rapuh dalam komunikasi di dalam rumah. Anak-anak tumbuh dengan fasilitas yang semakin lengkap, namun tidak selalu tumbuh dengan rasa aman, ketenangan, dan kehangatan batin yang cukup.

Dalam konteks inilah, kisah Nabi Ibrahim AS menjadi sangat relevan untuk dibaca kembali, bukan sekadar sebagai kisah spiritual Iduladha, tetapi sebagai model parenting yang luar biasa dalam sejarah kemanusiaan.

Al-Qur’an tidak hanya menampilkan Ibrahim sebagai nabi besar, tetapi juga sebagai ayah yang berhasil membangun hubungan spiritual, emosional, dan psikologis yang sangat kuat dengan anaknya.

Keberhasilan parenting Nabi Ibrahim terlihat jelas ketika Allah memerintahkannya menyembelih Nabi Ismail AS. Yang menarik bukan hanya pada tingkat ketaatan Ismail, tetapi pada kualitas hubungan ayah-anak yang terbentuk sebelumnya.

Ibrahim tidak datang dengan bentakan, ancaman, atau otoritarianisme. Ia membuka dialog: “Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu.” (QS. Ash-Shaffat: 102).

Ayat ini sangat penting dibaca dari perspektif psikologi parenting. Ibrahim tidak memaksakan kehendak secara kasar. Ia menghargai keberadaan psikologis anaknya sebagai subjek yang layak diajak bicara.

Inilah yang dalam psikologi modern disebut sebagai authoritative parenting—pola pengasuhan yang kuat dalam nilai dan arahan, tetapi tetap hangat, komunikatif, dan menghormati anak.

Karena itu, ketaatan Ismail bukan lahir dari ketakutan, melainkan dari kedekatan spiritual dan emosional yang telah dibangun sejak lama.

Anak yang merasa dicintai dan dihargai akan lebih mudah menerima nilai-nilai yang diajarkan orang tuanya. Sebaliknya, anak yang tumbuh dalam tekanan dan ketakutan sering hanya melahirkan kepatuhan semu, bukan kesadaran yang matang.

Di sinilah letak kegelisahan parenting modern hari ini. Banyak orang tua ingin anaknya patuh, saleh, dan berhasil, tetapi lupa membangun hubungan emosional yang sehat dengan mereka.

Anak diperintah, diatur, bahkan dimarahi, tetapi jarang benar-benar didengar. Akibatnya, rumah kehilangan fungsi psikologisnya sebagai ruang aman bagi jiwa anak.

Fenomena ini juga mulai terasa dalam kehidupan masyarakat Gayo. Kita masih memiliki budaya religius yang kuat, penghormatan terhadap orang tua yang tinggi, dan struktur keluarga yang relatif terjaga.

Namun di sisi lain, perubahan sosial modern menghadirkan tantangan baru yang tidak ringan. Anak-anak Gayo hari ini tumbuh di tengah media sosial, tekanan akademik, perubahan gaya hidup, dan dunia digital yang jauh berbeda dibanding generasi sebelumnya.

Sayangnya, sebagian pola pengasuhan kita masih sangat berorientasi pada kepatuhan tanpa komunikasi yang cukup. Anak harus mendengar, tetapi tidak selalu diberi ruang berbicara.

Anak dituntut menjaga nama baik keluarga, tetapi tidak selalu dipahami pergulatan emosinya. Dalam banyak kasus, anak-anak akhirnya belajar menyimpan masalahnya sendiri karena merasa rumah bukan tempat yang aman untuk bercerita.

Padahal dalam psikologi perkembangan, kebutuhan terbesar anak bukan pertama-tama nasihat, melainkan secure attachment—ikatan emosional yang aman dengan orang tua.

Anak yang merasa aman secara emosional cenderung memiliki mental yang lebih sehat, kemampuan sosial yang lebih baik, dan ketahanan diri yang lebih kuat menghadapi tekanan hidup.

Nabi Ibrahim memperlihatkan bahwa pendidikan tauhid tidak dibangun di atas kemarahan, tetapi di atas keteladanan dan komunikasi yang hangat.

Ibrahim tidak hanya mengajarkan tentang Allah melalui kata-kata, tetapi menghadirkan nilai-nilai tauhid dalam hubungan keluarganya. Inilah yang sering hilang dalam sebagian parenting Muslim hari ini: agama diajarkan sebagai aturan, tetapi tidak selalu dihadirkan sebagai kasih sayang.

Kita perlu jujur bahwa sebagian anak hari ini tidak menjauh dari agama karena kurang diajarkan, tetapi karena agama terkadang diperkenalkan melalui ketakutan, kemarahan, dan tekanan emosional.

Anak dipaksa menghafal, tetapi tidak diajak mencintai. Anak dituntut hormat, tetapi tidak selalu diperlakukan dengan hormat sebagai manusia yang juga memiliki perasaan.

Dalam masyarakat Gayo, tantangan ini menjadi semakin penting karena perubahan sosial berlangsung sangat cepat. Banyak orang tua masih menggunakan pola lama dalam mendidik anak, sementara anak-anak hidup dalam dunia baru yang penuh distraksi dan tekanan psikologis. Akibatnya terjadi generation gap—jarak emosional dan cara berpikir antara orang tua dan anak.

Karena itu, parenting masa kini tidak cukup hanya bermodal niat baik dan kasih sayang tradisional. Orang tua juga perlu memahami psikologi anak, kesehatan mental, dan pentingnya komunikasi emosional dalam keluarga. Sebab anak-anak hari ini tidak hanya membutuhkan rumah untuk tinggal, tetapi juga tempat pulang secara emosional.

Masyarakat Gayo sebenarnya memiliki modal budaya yang sangat kuat untuk membangun parenting yang sehat. Nilai kekeluargaan, penghormatan terhadap agama, dan tradisi kebersamaan adalah fondasi yang luar biasa.

Tetapi nilai-nilai itu harus diterjemahkan dalam pola pengasuhan yang lebih empatik, lebih dialogis, dan lebih sadar psikologis.

Kita membutuhkan lebih banyak ayah yang hadir, bukan hanya mencari nafkah. Kita membutuhkan lebih banyak ibu yang menjadi pendengar, bukan hanya pengatur rumah. Kita membutuhkan rumah yang bukan hanya bersih secara fisik, tetapi juga hangat secara emosional.

Sebab pada akhirnya, keberhasilan parenting bukan diukur dari seberapa tinggi prestasi anak atau seberapa patuh mereka di depan orang tua. Keberhasilan parenting diukur dari seberapa utuh jiwa anak bertumbuh: apakah ia tumbuh dengan cinta, dengan rasa aman, dengan kedekatan kepada Allah, dan dengan kemampuan menjadi manusia yang sehat secara emosional.

Dan Nabi Ibrahim telah memperlihatkan kepada dunia bahwa keluarga yang dibangun dengan tauhid, kasih sayang, komunikasi, dan keteladanan akan melahirkan generasi yang bukan hanya taat kepada orang tua, tetapi juga kuat menghadapi kehidupan. []

 

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.