Oleh : Fauzan Azima*
Ada satu penyakit sosial yang paling cepat menghancurkan masyarakat kecil: saling membenci sesama sendiri. Bukan karena perbedaan yang terlalu besar, tetapi karena ego yang terlalu sempit.
Di Tanoh Gayo, jumlah kita tidak banyak. Secara populasi kecil, secara wilayah pegunungan terpisah-pisah, dan secara kekuatan politik juga tidak sebesar daerah lain. Namun ironisnya, energi yang sedikit itu justru sering habis untuk pertengkaran internal.
Sedikit berbeda pilihan politik, putus hubungan. Sedikit berbeda pandangan, lahir permusuhan. Sedikit lebih maju dari yang lain, mulai dicurigai.
Padahal bangsa-bangsa besar di dunia tumbuh karena kemampuan mereka menjaga persatuan di tengah perbedaan. Mereka sadar satu hal: musuh terbesar bukan orang luar, melainkan kebencian di dalam kelompok sendiri.
Jumlah yang kecil seharusnya lebih cerdas menjaga solidaritas. Karena jumlah yang sedikit bukan kelemahan jika persatuan kuat. Tetapi jumlah sedikit akan menjadi bencana bila dipenuhi iri hati dan dendam sosial.
Kadang kita terlalu mudah menjatuhkan orang sendiri. Ketika ada yang berhasil, bukannya didukung malah dicari kesalahannya. Ketika ada yang tampil memimpin, bukan diberi ruang malah diseret ke konflik pribadi. Akibatnya, banyak orang baik akhirnya memilih diam atau pergi meninggalkan daerahnya.
Inilah yang harus dipelajari Haili Yoga dan juga seluruh generasi muda Gayo. Politik boleh berbeda. Organisasi boleh berbeda. Cara berpikir boleh berbeda. Tetapi jangan sampai perbedaan itu berubah menjadi kebencian permanen.
Karena jika orang-orang Gayo terus sibuk saling menyerang, maka yang menikmati kelemahan itu adalah pihak lain. Sejarah selalu menunjukkan, daerah kecil runtuh bukan karena diserang dari luar, tetapi karena retak dari dalam.
Pepatah lama Gayo mengajarkan tentang pentingnya musyawarah, persaudaraan, dan menjaga marwah bersama. Orang tua dulu mungkin keras dalam perdebatan, tetapi mereka tetap duduk satu tikar ketika kepentingan kampung dipertaruhkan. Mereka tahu batas antara berbeda pendapat dan memutus persaudaraan.
Hari ini batas itu mulai hilang. Media sosial membuat kebencian menjadi hiburan. Fitnah dianggap strategi. Adu domba dianggap kecerdasan politik. Padahal semua itu hanya mempercepat kerusakan sosial.
Maka pengetahuan paling penting bukan hanya bagaimana menjadi pintar berbicara, tetapi bagaimana menjaga hati agar tidak mudah membenci sesama.
Karena populasi kecil tidak punya kemewahan untuk terus terpecah.
Kita terlalu sedikit untuk saling menghancurkan.
Bersambung ke bagian 21…
(Mendale, Mei 26, 2026)






