Banda Aceh, Lintasgayo.co — Budayawan Aceh, Nab Bahani AS, menyebut Samudera Pasai menjadi salah satu pintu utama masuknya pengaruh sastra dan kebudayaan Persia ke dunia Melayu, termasuk dalam perkembangan syair rubai di Nusantara.
Hal itu disampaikannya saat menjadi narasumber dalam diskusi sastra buku Syair Rubai Syariat Musafir karya Thayeb Loh Angen di Banda Aceh, Jumat malam.
Menurut Nab Bahani AS, tradisi syair rubai berasal dari Persia dan berkembang bersama penyebaran Islam serta jaringan perdagangan internasional pada masa kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara.
“Persia memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan sastra Melayu. Jalur masuknya salah satunya melalui Samudera Pasai yang ketika itu menjadi pusat perdagangan dan peradaban Islam di kawasan ini,” ujar Nab Bahani AS.
Ia menjelaskan, Pasai bukan hanya berperan sebagai pusat perdagangan, tetapi juga menjadi pusat penyebaran ilmu pengetahuan, bahasa, dan sastra.
Dari wilayah itu, pengaruh sastra Persia kemudian menyebar ke negeri-negeri Melayu lain di Asia Tenggara.
Menurutnya, perkembangan bahasa Melayu sebagai lingua franca perdagangan turut mempercepat penyebaran tradisi sastra tersebut.
“Bahasa Melayu berkembang dari Pasai dan digunakan luas sebagai bahasa perdagangan dunia Melayu. Karena itu karya-karya sastra dan pengaruh budaya dari luar, termasuk Persia, cepat menyebar,” katanya.
Dalam paparannya, Nab Bahani AS juga menyinggung sosok Hamzah Fansuri sebagai tokoh penting Aceh yang memperkenalkan bentuk syair rubai ke dalam tradisi sastra Melayu.
Ia menilai karya Syair Rubai Syariat Musafir menjadi upaya penting untuk menghidupkan kembali bentuk sastra lama yang memiliki akar sejarah kuat dengan peradaban Islam dan Melayu.
Diskusi sastra tersebut berlangsung hangat dan dihadiri kalangan seniman, sastrawan, mahasiswa, serta pegiat budaya di Banda Aceh.[]





