Kurikulum Merdeka dan Kualitas Pembelajaran di SMA Negeri 15 Takengon

oleh

Oleh : Jelita*

Hasil Observasi Pengamatan di SMA Negeri 15 Takengon Binaan Negeri Antara, Takengon

Tulisan ini merupakan hasil observasi dan pengamatan mengenai penerapan Kurikulum Merdeka di SMA Negeri 15 Takengon Binaan Negeri Antara. Observasi ini dilakukan untuk melihat secara langsung bagaimana kurikulum tersebut diterapkan dalam proses pembelajaran di sekolah, bagaimana guru menyesuaikan pembelajaran dengan kemampuan peserta didik, serta bagaimana sekolah berupaya menyeimbangkan antara pendidikan umum dan pendidikan agama.

Dari hasil pengamatan tersebut terlihat bahwa penerapan Kurikulum Merdeka di sekolah ini tidak hanya dimaknai sebagai perubahan struktur pembelajaran, tetapi juga sebagai perubahan cara pandang terhadap proses pendidikan. Pembelajaran tidak lagi hanya menekankan pada selesainya materi, melainkan lebih menekankan pada pemahaman siswa, perkembangan kemampuan, serta pembentukan karakter. Sekolah berusaha agar peserta didik tidak hanya berkembang secara akademik, tetapi juga secara moral, spiritual, dan sosial.

Penerapan Kurikulum Merdeka di Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran dan Perkembangan Peserta Didik.

Penerapan Kurikulum Merdeka di sekolah menjadi salah satu langkah penting dalam meningkatkan mutu pendidikan. Kurikulum ini hadir sebagai bentuk pembaruan dalam sistem pembelajaran yang memberi ruang lebih luas kepada sekolah dan guru untuk menyesuaikan proses belajar dengan kebutuhan peserta didik. Dalam pelaksanaannya, Kurikulum Merdeka tidak hanya berfokus pada penyampaian materi pelajaran, tetapi juga menempatkan perkembangan kemampuan, pemahaman, dan kesiapan siswa sebagai hal yang utama.

Sebelum penerapan Kurikulum Merdeka, proses pembelajaran di sekolah pada umumnya berlangsung dengan pola yang lebih terikat. Materi pelajaran disusun secara berurutan, mulai dari awal sampai akhir, dan guru dituntut untuk menuntaskan seluruh materi sesuai waktu yang telah ditetapkan. Dalam sistem seperti ini, pembelajaran sering kali lebih menekankan pada selesainya materi daripada pada seberapa jauh siswa benar-benar memahami apa yang dipelajari. Selama target kurikulum tercapai, proses belajar dianggap telah berjalan sebagaimana mestinya.

Namun kenyataannya, kondisi siswa di dalam satu kelas tidak pernah sama. Ada siswa yang cepat memahami pelajaran, ada yang memerlukan penjelasan berulang, ada yang baru memahami setelah diberi latihan tambahan, dan ada pula yang membutuhkan pendampingan khusus agar dapat mengikuti pembelajaran dengan baik. Jika semua siswa dipaksa berjalan dalam ritme yang sama, maka siswa yang belum memahami dasar materi akan semakin tertinggal. Inilah salah satu alasan mengapa Kurikulum Merdeka dianggap lebih sesuai dengan kebutuhan pembelajaran saat ini.

Melalui Kurikulum Merdeka, proses pembelajaran diarahkan agar lebih fleksibel. Guru tidak lagi hanya mengejar penyelesaian materi, tetapi lebih memperhatikan proses pemahaman siswa. Keberhasilan pembelajaran tidak hanya diukur dari banyaknya bab yang telah selesai diajarkan, melainkan dari seberapa jauh peserta didik mampu memahami materi, menerapkannya, dan berkembang sesuai tahapannya. Dengan demikian, pembelajaran menjadi lebih bermakna karena berpusat pada peserta didik.

Salah satu ciri penting Kurikulum Merdeka adalah pembelajaran berdasarkan fase. Sistem fase ini membagi capaian pembelajaran berdasarkan perkembangan kemampuan siswa. Dengan adanya fase, guru dapat melihat perkembangan peserta didik secara lebih bertahap. Apabila pada tahap tertentu siswa belum benar-benar menguasai kemampuan dasar, maka guru dapat memberi penguatan terlebih dahulu sebelum melanjutkan ke materi berikutnya.

Pendekatan seperti ini sangat penting, sebab kemampuan dasar yang kuat akan sangat menentukan keberhasilan siswa pada tahap pembelajaran berikutnya. Jika dasar belum kuat lalu siswa dipaksa terus maju, maka materi yang semakin tinggi justru akan terasa semakin sulit. Oleh karena itu, pembelajaran yang bertahap menjadi salah satu kunci penting dalam penerapan Kurikulum Merdeka.

Dalam pelaksanaannya, guru memiliki peran yang sangat besar. Guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi, tetapi juga perlu memahami kondisi peserta didik secara lebih mendalam. Guru harus mengetahui kemampuan awal siswa, kesulitan yang mereka hadapi, dan cara yang paling tepat agar pembelajaran dapat diterima dengan baik. Dengan demikian, guru tidak lagi hanya menjadi sumber pengetahuan, tetapi juga menjadi pendamping, pembimbing, dan fasilitator dalam proses belajar.

Perbedaan kemampuan siswa juga menuntut adanya strategi khusus. Tidak semua siswa mampu mengikuti pembelajaran dengan kecepatan yang sama. Ada siswa yang membutuhkan waktu lebih lama, terutama pada materi dasar yang menjadi fondasi pembelajaran berikutnya. Oleh sebab itu, sekolah dapat menyediakan pembelajaran tambahan atau kelas pendampingan khusus.

Kelas pendampingan ini sangat penting karena memberi kesempatan kepada siswa untuk memperbaiki pemahaman yang masih kurang. Melalui pembelajaran tambahan, siswa dapat mengulang materi, memperdalam konsep, dan memperkuat kemampuan dasar. Langkah ini bukanlah bentuk hukuman, melainkan bentuk perhatian agar setiap siswa tetap memiliki kesempatan berkembang sesuai kemampuannya.

Selain penguatan akademik, sekolah juga berusaha menyeimbangkan antara pendidikan umum dan pendidikan agama. Keseimbangan ini menjadi salah satu kekuatan penting dalam pembelajaran di sekolah. Pendidikan tidak hanya bertujuan mencetak siswa yang cerdas secara intelektual, tetapi juga membentuk pribadi yang berakhlak, beriman, dan memiliki pegangan nilai dalam kehidupan.

Pada masa sebelumnya, pembelajaran di sekolah memang lebih banyak terfokus pada mata pelajaran umum. Pelajaran agama ada, tetapi cakupannya belum terlalu luas. Mata pelajaran seperti Tafsir, Aqidah Akhlak, Al-Qur’an Hadis, maupun Sejarah Kebudayaan Islam belum mendapat ruang yang sebesar sekarang. Akibatnya, pembelajaran agama belum sepenuhnya menyentuh pemahaman yang lebih mendalam.

Sekarang keadaannya mulai berbeda. Sekolah berusaha menyeimbangkan pendidikan umum dengan pendidikan agama agar peserta didik berkembang secara utuh. Selain mata pelajaran umum tetap berjalan, kini sudah ada pelajaran Bahasa Arab, Al-Qur’an Hadis, Aqidah Akhlak, SKI, bahkan pengenalan tafsir. Ini menunjukkan bahwa sekolah tidak hanya memikirkan kemampuan akademik siswa, tetapi juga memikirkan pembentukan karakter dan penguatan spiritual mereka.

Pembelajaran Bahasa Arab memiliki kedudukan penting. Bahasa Arab bukan sekadar mata pelajaran tambahan, melainkan salah satu kunci untuk memahami sumber ajaran Islam. Dengan mempelajari Bahasa Arab, siswa mulai mengenal arti kata, struktur bahasa, dan ungkapan-ungkapan dasar yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari maupun ibadah. Hal ini membuat siswa tidak hanya sekadar membaca, tetapi juga mulai memahami makna.

Mata pelajaran Al-Qur’an Hadis juga memberi pengaruh besar. Melalui pelajaran ini, siswa tidak hanya belajar membaca ayat atau hadis, tetapi juga memahami kandungan, pesan, serta hikmah yang terdapat di dalamnya. Pembelajaran seperti ini sangat penting karena membantu siswa menghubungkan ilmu agama dengan kehidupan sehari-hari. Ayat dan hadis tidak lagi hanya dihafal, tetapi juga dipahami sebagai pedoman dalam bersikap dan bertindak.

Begitu pula dengan Aqidah Akhlak. Mata pelajaran ini sangat penting dalam membentuk kepribadian peserta didik. Di dalamnya siswa belajar tentang keimanan, kejujuran, tanggung jawab, kesabaran, rasa hormat kepada orang tua dan guru, serta pentingnya menjaga perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat, penguatan akhlak menjadi sangat penting agar siswa tidak mudah terbawa pengaruh negatif dari lingkungan.

Sementara itu, pelajaran Sejarah Kebudayaan Islam membantu siswa memahami perjalanan panjang peradaban Islam. Dari pelajaran ini siswa mengenal perjuangan para nabi, kisah para sahabat, perkembangan dakwah Islam, hingga peran ulama dalam membangun ilmu pengetahuan. Melalui sejarah, siswa dapat mengambil pelajaran tentang keteladanan, perjuangan, kesabaran, dan semangat menuntut ilmu.

Selain pembelajaran di kelas, sekolah juga melaksanakan program hafalan Al-Qur’an (tahfiz). Program tahfiz menjadi salah satu kegiatan penting dalam pembinaan siswa. Melalui kegiatan ini, siswa dibiasakan menghafal ayat-ayat Al-Qur’an secara bertahap sesuai kemampuan mereka. Kegiatan ini melatih kedisiplinan, ketekunan, kesabaran, dan kemampuan mengatur waktu. Di samping itu, tahfiz juga menumbuhkan kecintaan siswa kepada Al-Qur’an sejak dini.

Kegiatan keagamaan lainnya juga menjadi bagian dari pembiasaan sehari-hari. Misalnya membaca Al-Qur’an bersama sebelum pembelajaran dimulai, doa bersama, praktik ibadah, serta pembiasaan akhlak dalam kehidupan sekolah. Kebiasaan-kebiasaan ini terlihat sederhana, tetapi dampaknya sangat besar. Dari sinilah siswa belajar disiplin, menghargai waktu, menjaga sopan santun, serta membangun hubungan yang baik dengan sesama.

Keseimbangan antara pelajaran umum dan pelajaran agama memberikan dampak yang sangat baik bagi perkembangan peserta didik. Di satu sisi, siswa tetap memperoleh ilmu pengetahuan umum yang penting untuk menghadapi perkembangan zaman. Di sisi lain, mereka juga mendapatkan bekal agama yang menjadi dasar dalam berpikir, bersikap, dan mengambil keputusan.

Pendidikan yang seimbang seperti ini sangat dibutuhkan pada masa sekarang. Di tengah perkembangan teknologi, arus informasi yang sangat cepat, dan perubahan sosial yang semakin kompleks, siswa tidak cukup hanya dibekali dengan pengetahuan akademik. Mereka juga membutuhkan nilai-nilai agama agar memiliki arah, batasan, dan pegangan dalam menjalani kehidupan.

Melalui perpaduan antara pembelajaran umum, pembelajaran agama, tahfiz, Bahasa Arab, Aqidah Akhlak, Al-Qur’an Hadis, dan SKI, sekolah sedang berusaha membentuk peserta didik secara utuh. Siswa tidak hanya diharapkan mampu meraih prestasi akademik, tetapi juga diharapkan memiliki akhlak yang baik, tanggung jawab, kedisiplinan, serta kesadaran spiritual yang kuat.

Pada akhirnya, keberhasilan penerapan Kurikulum Merdeka tidak hanya terlihat dari nilai yang diperoleh siswa atau banyaknya materi yang berhasil diselesaikan. Keberhasilan itu juga terlihat dari tumbuhnya peserta didik yang memahami pelajaran, memiliki kemampuan dasar yang kuat, berpikir kritis, mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, serta tetap memiliki landasan agama yang kokoh.

Dengan demikian, penerapan Kurikulum Merdeka di sekolah menjadi langkah nyata dalam membangun pendidikan yang lebih manusiawi, lebih fleksibel, dan lebih seimbang. Pendidikan seperti inilah yang diharapkan dapat melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, matang secara emosional, kuat secara spiritual, dan siap menghadapi tantangan masa depan tanpa kehilangan nilai-nilai yang menjadi pegangan hidup mereka.[]

*Mahasiswi IAIN Takengon

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.