4 Universitas Perkuat Komitmen Agroforestri Kopi Berketahanan Iklim, Catat Stok Karbon hingga 221 Ton per Hektare di Aceh

oleh

BOGOR-LintasGAYO.co : Konsorsium CiCoFest Coffee Indonesia (Community of Climate Resilient of Nusantara Coffee) menggelar Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) pada Sabtu, 18 April 2026, di Universitas Ibnu Khaldun Bogor.

Forum yang dihadiri akademisi dari empat perguruan tinggi nasional ini menandai babak baru komitmen riset bersama untuk menjadikan agroforestri kopi berbasis perhutanan sosial sebagai instrumen pengembangan nilai ekonomi karbon di Indonesia.

Rakornas dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Teknik dan Sains Universitas Ibnu Khaldun Bogor, dengan sambutan dari Ketua Konsorsium Dr. Elida Novita, S.TP., M.T., IPM (Universitas Jember) dan Ketua Program Studi Ilmu Lingkungan Dr. Tjahjo Tri Hartono, S.Hut., M.Si. Acara ini menampilkan kuliah pakar dari Dr. Devi Maulida Rahmah, S.T.P., M.T., Ph.D. (Universitas Padjadjaran) yang membahas kontribusi ekonomi sirkular dalam pengurangan emisi karbon dan pembangunan berkelanjutan.

“Agroforestri kopi berbasis perhutanan sosial bukan sekadar solusi ekologi — ia adalah model pembangunan ekonomi rendah karbon yang paling realistis dan siap diterapkan untuk petani kopi Nusantara.” Kata Dr. Elida Novita, S.TP., M.T., IPM, Ketua Konsorsium CiCoFest Coffee Indonesia

Tiga Tahun CiCoFest: Orkestrasi Kolaborasi untuk Kopi Rakyat

Di sela-sela Rakornas, Ketua Konsorsium Dr. Elida Novita berbagi pandangan tentang perjalanan dan visi CiCoFest ke depan.

Menurutnya, konsorsium ini lahir dari satu keinginan yang sederhana namun bermakna besar: meningkatkan keberlanjutan perkebunan kopi rakyat di Nusantara.

Dalam tiga tahun berjalan, CiCoFest telah membuktikan diri sebagai platform kolaborasi yang nyata, bukan sekadar forum akademik.

“Selama tiga tahun terakhir, CiCoFest telah menjalin kemitraan melalui lebih dari 15 Perjanjian Kerja Sama (PKS) bersama koperasi, BUMDes, kelompok tani hutan, dan mitra usaha di berbagai wilayah. Melalui jejaring ini, konsorsium secara aktif mengembangkan metode, produk, serta model pertanian kopi yang adaptif terhadap perubahan iklim,” ujarnya.

Salah satu pendekatan unggulan yang diterapkan adalah pengembangan ekonomi sirkular di kawasan agroforestri kopi. Pendekatan ini memastikan seluruh potensi kawasan termanfaatkan secara optimal sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi dari hulu hingga hilir.

Tidak berhenti di situ, CiCoFest juga membuka alternatif nilai tambah perkebunan melalui ekowisata berbasis komunitas dan penguatan produk kopi berindikasi geografis.

Di sisi rantai pasok, CiCoFest tengah membangun ekosistem rantai pasok Kopi Nusantara yang tertelusur. Transparansi asal-usul produk dan pembagian manfaat yang adil bagi petani menjadi dua pilar utama.

“Konsorsium berkomitmen agar petani tidak sekadar menjadi penerima harga yang ditentukan pihak lain, melainkan memiliki posisi tawar yang setara di rantai nilai global,” katanya.

Terkait penguatan kelembagaan, Dr. Elida menekankan bahwa CiCoFest bersama para pemangku kepentingan berkomitmen meningkatkan ketangguhan kelembagaan kelompok petani, khususnya dalam skema Perhutanan Sosial.

Dengan kelembagaan yang kuat, petani memiliki posisi tawar dan akses lebih baik terhadap pasar, pembiayaan, teknologi, serta kebijakan yang berpihak.

“Tiga tahun dengan lebih dari 15 PKS menjadi pijakan awal CiCoFest sebagai konsorsium yang hadir untuk mengorkestrasi kolaborasi agar kopi rakyat tumbuh, lestari, dan menyejahterakan lewat rantai pasok yang adil dan tertelusur,” tegas Dr. Elida Novita.

Menatap masa depan, Dr. Elida menyampaikan harapan besarnya untuk terus menyebarluaskan ide dan model Kopi Nusantara Berketahanan Iklim Berbasis Perhutanan Sosial kepada lebih banyak lembaga dan petani kopi di seluruh Indonesia. Rakornas Bogor hari ini, baginya, bukan titik akhir melainkan momentum baru akselerasi.

Capaian Penelitian 2025

Selama tahun 2025, Konsorsium CiCoFest yang dikoordinasi oleh Universitas Teuku Umar (UTU) di bawah kepemimpinan Dr. Rahmat Pramulya, S.TP., M.M., berhasil menuntaskan penelitian lapangan di tiga kawasan Perhutanan Sosial (PS) Aceh.

Penelitian berfokus pada pengukuran stok karbon, analisis penghidupan berkelanjutan, serta penyusunan model sistem sosial-ekologi agroforestri kopi Gayo.

Penelitian dilakukan di tiga lokasi utama. Pertama, Hutan Desa Sabet di Aceh Jaya, dengan sistem agroforestri multispesies (kopi, jengkol, alpukat, lamtoro, dan pinang) yang mencatat stok karbon tertinggi sebesar 191,4 ton per hektare dan sekuestrasi CO2 mencapai 701,82 ton CO2e per hektare.

Kedua, LPHK Linge Lestari di Bener Meriah yang menerapkan sistem shade-grown coffee di bawah tegakan pinus, dengan kinerja kelembagaan terbaik di antara ketiga lokasi.

Di kawasan ini, PS Lindung mencatat stok karbon hingga 221 ton per hektare, sementara PS Budidaya tercatat 145 ton per hektare.

Ketiga, KTH Mumuger di Aceh Tengah yang menerapkan agroforestri multistrata dengan stok karbon sekitar 59,1 ton per hektare — lebih rendah karena berada pada ketinggian di atas 1.600 meter di atas permukaan laut dan menjadi prioritas intervensi kelembagaan pada 2026.

Salah satu temuan penting penelitian ini adalah bukti bahwa kawasan PS Lindung memiliki cadangan karbon biomassa yang secara konsisten lebih tinggi dibandingkan kawasan agroforestri non-PS maupun PS budidaya.

Hal ini menegaskan bahwa skema perhutanan sosial mampu menyeimbangkan manfaat ekologi berupa penyerapan karbon dengan manfaat ekonomi dari produksi kopi skala kecil.

Pada dimensi sosial-ekonomi, analisis menggunakan kerangka Sustainable Livelihood Analysis (SLA) memperlihatkan bahwa modal alam di Aceh Jaya merupakan yang paling melimpah, sementara Aceh Tengah mencatat kerentanan tertinggi akibat rendahnya tingkat pendidikan, keterbatasan akses modal finansial (skor 2,22), dan lemahnya modal sosial kelembagaan (skor 2,86).

Riset 2025 menghasilkan dua luaran utama: naskah kebijakan bertajuk Strategi Pengembangan Agroforestri Kopi Gayo Rendah Karbon berbasis Perhutanan Sosial di Provinsi Aceh, serta artikel ilmiah yang telah terindeks di jurnal Trees, Forests and People (Q1, SJR 0,74, Impact Factor 2,9).

Agenda Kolaborasi Strategis 2026

Forum Rakornas menetapkan empat agenda strategis nasional yang akan dilaksanakan sepanjang 2026 oleh seluruh anggota konsorsium. Pertama, pengembangan model kuantitatif nilai ekonomi karbon berbasis data stok dan sekuestrasi dari tiga lokasi PS Aceh, dengan perluasan cakupan ke Gayo Lues.

Kedua, pendampingan intensif kepada Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS), khususnya KTH Mumuger Aceh Tengah, dalam manajemen usaha, keuangan, dan pemasaran kopi berkelanjutan.

Ketiga, pendampingan sertifikasi Organik dan Indikasi Geografis (IG) Kopi Gayo untuk KUPS Kupi Uyem agar dapat menembus pasar ekspor dengan harga premium. Keempat, penguatan platform CiCoFest Coffee (cicofest-coffee.com) sebagai simpul koordinasi antar universitas, koperasi petani, lembaga donor, dan pemerintah daerah Aceh.

Suara dari Lapangan: Pengakuan atas Petani Agroforestri

Dari pihak mitra praktisi, Win Fachruddin dari Redelong Institute menyuarakan harapan yang mencerminkan kebutuhan nyata di lapangan.

Ia menekankan bahwa petani kopi agroforestri berhak mendapatkan pengakuan lebih dari sekadar apresiasi moral, melainkan insentif ekonomi konkret dari pasar global.

“Petani agroforestri adalah petani pejuang. Mereka menjaga stabilitas iklim di saat deforestasi terjadi di mana-mana. Skema agroforestri berbasis karbon harus menjadi inovasi dan motivasi baru bagi petani, sesuai semangat Permenhut No. 6 Tahun 2026,” kata Win Fachrud.

Win Fachruddin berharap agar upaya memotivasi petani kopi agroforestri dapat disertai pemberian premium fee dari buyer serta perlakuan khusus sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi ekologis mereka.

Menurutnya, skema agroforestri berbasis karbon yang sedang dibangun CiCoFest merupakan jawaban strategis yang memperkuat ketahanan iklim sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani secara langsung, selaras dengan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 6 Tahun 2026.

Komitmen Akademik Fakultas Pertanian Universitas Teuku Umar

Dalam momen Rakornas ini, Fakultas Pertanian Universitas Teuku Umar menegaskan posisinya sebagai mitra aktif konsorsium melalui deklarasi komitmen yang disampaikan langsung dalam forum. Dedy Darmansyah, Wakil Dekan Fakultas Pertanian UTU menyatakan:

“Dalam kesempatan Rapat Koordinasi Nasional Konsorsium CiCoFest Coffee Indonesia ini, kami dari Fakultas Pertanian Universitas Teuku Umar merasa sangat terhormat dapat berpartisipasi aktif sekaligus memperkuat komitmen melalui penandatanganan kerja sama strategis antar perguruan tinggi dan mitra. Keterlibatan kami bukan hanya sebatas formalitas kelembagaan, tetapi merupakan bagian dari tanggung jawab akademik untuk menghadirkan solusi nyata terhadap tantangan perubahan iklim, khususnya melalui pengembangan agroforestri kopi berbasis perhutanan sosial yang berkelanjutan dan bernilai ekonomi.”

Ke depan, kami memandang kolaborasi ini memiliki potensi besar untuk memperkuat peran kampus sebagai pusat inovasi dan pemberdayaan masyarakat. Fakultas Pertanian Universitas Teuku Umar siap mendukung implementasi program-program strategis konsorsium, baik melalui penguatan kapasitas petani, pengembangan riset terapan, maupun peningkatan kualitas sumber daya manusia di sektor kopi.

“Kami optimis bahwa sinergi lintas institusi ini akan mampu mendorong terciptanya ekosistem kopi yang tidak hanya produktif secara ekonomi, tetapi juga berkeadilan dan berkelanjutan secara lingkungan, khususnya bagi masyarakat petani di Aceh.” ujarnya.

Sebagai wujud nyata komitmen tersebut, Fakultas Pertanian UTU akan memfasilitasi program pelatihan teknis bagi petani kopi, anggota KUPS, dan asisten peneliti di wilayah Aceh — mencakup teknik agroforestri multistrata, pengukuran karbon lapangan, pengelolaan pascapanen, dan literasi keuangan usaha tani.

Bersamaan dengan itu, seri public lecture akan menghadirkan narasumber dari dalam dan luar negeri untuk memperkuat kapasitas akademik dan jejaring ilmiah di bidang kopi berketahanan iklim di tingkat regional Sumatera.

“Data stok karbon dari tiga kawasan PS Aceh ini adalah aset ilmiah nasional yang belum pernah ada sebelumnya. Inilah fondasi yang kita butuhkan untuk membangun mekanisme pembiayaan karbon yang adil bagi petani kopi kita,” kata Dr. Rahmat Pramulya, S.TP., M.M., Ketua Tim Peneliti Universitas Teuku Umar

Rakornas 2026 menegaskan bahwa CiCoFest bukan sekadar konsorsium riset konvensional, melainkan sebuah ekosistem kolaborasi yang menghubungkan dunia akademik, petani, pemerintah daerah, dan pasar global dalam satu platform yang berorientasi pada keberlanjutan iklim dan keadilan ekonomi bagi petani kopi Nusantara.

Catatan :

Peraturan Menteri Kehutanan No. 6 Tahun 2026 mengatur skema pengelolaan hutan berbasis masyarakat dengan insentif nilai ekonomi karbon. Konsorsium CiCoFest Coffee Indonesia beranggotakan Universitas Teuku Umar, Universitas Padjadjaran, Universitas Borneo Tarakan, dan Universitas Jember, didanai melalui skema Kolaborasi Penelitian Strategis Kemendikbudristek TA 2025 senilai Rp 131.100.000. Mitra lapangan di Aceh meliputi Aceh Green Conservation, Redelong Institute, LPHD Linge Lestari, dan KUPS Kupi Uyem, Kampung Pante Raya, Bener Meriah.

[SP]

 

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.