Resiliensi Ekologi, Ekonomi, dan Sosial: Peran Universitas Gajah Putih dalam Konservasi Gajah Lanskap Peusangan

oleh

Oleh : Dr. Budiyono, S.Hut, M.Si (Dosen Agroforestri Universitas Gajah Putih)

Diskusi kolaborasi melibatkan PECI Center, WWF, BKSDA Aceh, Universitas Bangore (UK), Universitas Syiah Kuala, Universitas Gajah Putih, STIK Pante Kulu, dan Forum DAS Peusangan, dilaksanakan di Aula Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala pada 16–17 April 2026.

Konflik manusia–gajah (Human–Elephant Conflict/HWC) di Lanskap Peusangan menuntut solusi berbasis ekologi, sosial, dan budaya.

Universitas Gajah Putih (UGP) berkontribusi melalui agroforestri multistrata dengan pendekatan kearifan lokal dan tanaman unggulan bernilai ekonomi serta konservasi tinggi. Tujuannya adalah menciptakan koeksistensi manusia–gajah melalui tata kelola lanskap yang berkelanjutan dan inklusif.

Kontribusi UGP

1. Riset & Inovasi

  • Kajian habitat dan jalur migrasi gajah.
  • Desain agroforestri multistrata berbasis tanaman lokal.
  • Solusi ilmiah untuk mitigasi konflik.

2. Edukasi & Pelatihan

  • Workshop, magang, dan pendidikan lapangan.
  • Penguatan kapasitas masyarakat dalam agroforestri ramah gajah.

3. Kebijakan & Advokasi

  • Rekomendasi kebijakan berbasis riset.
  • Strategi mitigasi konflik.
  • Advokasi lanskap harmonis melalui forum multi-pihak.

4. Livelihood Berkelanjutan

  • Integrasi agroforestri dengan usaha masyarakat.
  • Monitoring berbasis komunitas.
  • Pengembangan ekowisata dan usaha hijau.

Rencana Implementasi 2026–2029

  • 2026: Kajian dasar & perencanaan lanskap
  • 2027: Pelatihan & pendidikan lapangan.
  • 2028: Policy brief & penyuluhan masyarakat.
  • 2029: Inisiatif livelihood berkelanjutan.

Pilar Utama

  • Riset & Inovasi
  • Edukasi & Pelatihan
  • Kebijakan & Advokasi

Penekanan Kajian UGP

UGP menempatkan kearifan lokal sebagai inti konservasi. Nilai tradisional masyarakat Peusangan menjadi inspirasi dalam merancang agroforestri yang ramah gajah sekaligus produktif.

Dengan kapasitas riset dan jejaring akademik, UGP mampu menjadi motor inovasi konservasi berbasis masyarakat.

Sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan membuka peluang besar bagi UGP untuk tampil sebagai pusat keunggulan konservasi gajah di Peusangan dan model inspiratif bagi kawasan lain di Sumatera serta Asia Tenggara.

Penguatan Early Warning System

UGP mendorong sistem peringatan dini berbasis kearifan lokal masyarakat Gayo. Tradisi membaca tanda alam—suara burung, arah angin, perilaku satwa, dan tanaman lokal—digabungkan dengan teknologi modern seperti sensor hidrometeorologi dan GPS collar gajah.

Pendekatan hybrid ini relevan untuk mitigasi konflik manusia–gajah sekaligus pengurangan risiko bencana, sehingga memperkuat resiliensi komunitas dan ekosistem.

Peran Mahasiswa

Mahasiswa UGP didorong aktif berpartisipasi melalui:

  • Praktikum Lapang: Kajian habitat gajah dan agroforestri.
  • Praktek Kerja: Penempatan di lembaga mitra untuk riset dan monitoring.
  • KKN: Pendampingan masyarakat dalam agroforestri ramah gajah, sistem peringatan dini, dan usaha hijau.

Keterlibatan mahasiswa memperkuat transfer pengetahuan, pemberdayaan komunitas, dan regenerasi konservasi berbasis lanskap.

Kesimpulan

Kontribusi UGP dalam agroforestri multistrata berbasis kearifan lokal menjadi fondasi strategis untuk koeksistensi manusia–gajah di Peusangan.

Dengan dukungan kolaborasi multi-pihak, PECI Center dapat berkembang sebagai model konservasi integratif yang menghubungkan ekologi, ekonomi, dan budaya.

Optimisme ini menegaskan peran UGP dalam membangun masa depan konservasi yang berkelanjutan, inklusif, dan berbasis kearifan lokal.

Ditambah dengan kemungkinan perubahan lanskap pasca banjir hidrometeorologi, penguatan sistem peringatan dini berbasis kearifan lokal Gayo serta keterlibatan mahasiswa menjadi langkah penting untuk memastikan keberlanjutan ekologi dan kesejahteraan sosial di Peusangan. []

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.