Oleh: Mahbub Fauzie (warga Aceh Tengah, salah seorang Relawan Tanpa Batas Jagong Jeget Peduli)
Rencana pemerintah daerah menggelar event pacuan kuda dalam rangka HUT Kota Takengon ke-449 patut diapresiasi sebagai ikhtiar menghidupkan kembali denyut sosial dan ekonomi masyarakat. Niat menghadirkan ruang trauma healing tentu bukan hal yang keliru.
Namun, dalam suasana pascabencana yang masih menyisakan luka, pertanyaan mendasar perlu diajukan: apakah momentum ini sudah tepat?
Antara Hiburan dan Kepekaan Sosial
Bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah kita belum sepenuhnya usai. Jejaknya masih nyata—rumah-rumah yang rusak, fasilitas umum yang belum pulih, dan saudara-saudara kita yang masih bertahan di hunian sementara.
Dalam kondisi seperti ini, menghadirkan event besar bernuansa hiburan berpotensi menimbulkan kesan kurang peka terhadap penderitaan yang masih berlangsung.
Bukan berarti masyarakat tidak butuh hiburan. Namun, empati sosial menuntut kita untuk menempatkan rasa pada tempatnya. Dalam Islam, kepekaan terhadap penderitaan sesama adalah bagian dari iman.
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak beriman seseorang di antara kalian hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka, ketika sebagian masyarakat masih bergulat dengan kehilangan dan keterbatasan, semangat kebersamaan seharusnya lebih diarahkan pada penguatan solidaritas, bukan sekadar perayaan.
Trauma Healing Bukan Sekadar Hiburan
Trauma healing adalah proses yang tidak sederhana. Ia bukan hanya soal mengalihkan perhatian melalui tontonan atau keramaian, tetapi menyentuh aspek psikologis yang lebih dalam: rasa aman, dukungan emosional, dan pemulihan makna hidup.
Apakah cukup trauma disembuhkan dengan menyaksikan pacuan kuda? Tentu tidak sesederhana itu.
Pendekatan trauma healing yang lebih efektif justru lahir dari kegiatan yang bersifat partisipatif dan memberdayakan. Misalnya, program pendampingan psikososial, penguatan komunitas, kegiatan keagamaan, hingga pemberdayaan ekonomi berbasis masyarakat terdampak.
Aktivitas seperti gotong royong membangun kembali fasilitas umum, pelatihan usaha kecil, atau majelis zikir dan tausiyah justru lebih menyentuh akar pemulihan.
Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 6)
Ayat ini mengajarkan bahwa kemudahan tidak datang secara instan, tetapi melalui proses, kesabaran, dan usaha bersama.
Prioritas: Pemulihan yang Substantif
Dengan anggaran yang tidak sedikit, yakni ratusan juta rupiah, menjadi penting untuk memastikan bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan benar-benar menyentuh kebutuhan mendesak masyarakat.
Di tengah masih adanya hunian sementara yang belum tuntas, infrastruktur yang belum pulih, dan ancaman bencana susulan, prioritas seharusnya diarahkan pada pemulihan yang lebih substantif.
Event besar seperti pacuan kuda bisa saja dilaksanakan, tetapi menunggu waktu yang lebih tepat adalah pilihan bijak. Ketika kondisi sudah relatif stabil, luka mulai sembuh, dan masyarakat telah kembali bangkit, saat itulah perayaan akan terasa lebih bermakna—bukan sekadar hiburan, tetapi simbol kemenangan atas ujian.
Menjaga Marwah Kepedulian
Sebagai masyarakat yang dikenal dengan nilai-nilai kearifan lokal dan religiusitas yang kuat, kita tentu tidak ingin kehilangan sensitivitas sosial. Kegembiraan yang dibangun di atas derita yang belum selesai berpotensi melukai rasa keadilan.
Sikap kritis terhadap kebijakan bukanlah bentuk penolakan, melainkan wujud kepedulian. Justru dari kritik yang konstruktif, lahir kebijakan yang lebih arif dan tepat sasaran.
Kita berharap para pemangku kebijakan dapat mengevaluasi rencana ini dengan bijaksana. Bukan untuk meniadakan, tetapi untuk menempatkan pada waktu dan cara yang lebih tepat.
Sebab, pemulihan sejati bukan hanya tentang menghibur yang luka, tetapi memastikan luka itu benar-benar sembuh.[]





