Munetum Lepat : Tradisi Yang Mulai Hilang

oleh
oleh
Prosesi Nos Lepat Gayo. Foto. Salman Yoga S

Oleh : Dr. Jamhuri Ungel, MA*

Lepat adalah makanan khas masyarakat Gayo. Lepat ini dibuat dari tepung ketan dicampur dengan sedikit tepung beras supaya lepat tersebut tidak keras. Tepung beras dan tepung ketan diremas dengan menggunakan air gula merah atau manisan.

Setelah diremas secara merata, lepat atau tepung ini diisi dengan kelapa yang sudah digongseng dengan air gula merah.

Kemudian lepat ini dibungkus dengan menggunakan daun pisang, ujung keduanya dilipat, kemudian lepat ini disusun secara rapi dan bertingkat di dalam sangku.

Selanjutnya dikukus dalam waktu sekitar 45 sampai 1 jam. Ini juga tergantung kepada banyak sedikitnya lepat yang dikukus.

Dalam masyarakat Gayo, prosesi membuat lepat ini secara singkat dikenal dengan istilah munetum lepat, artinya membungkus atau membalut lepat, atau juga sering orang menyebutnya dengan munos lepat atau membuat lepat.

Lepat ini biasanya dalam masyarakat Gayo dibuat sebagai makanan-makanan yang khas pada acara-acara yang sakral, seperti hari raya Idul Fitri, hari raya Idul Adha, dan Maulid Nabi saw.

Serta terkadang dibuat pada saat-saat acara kenduri atau dalam masa-masa masyarakat beribadah dan berdoa kepada keluarga-keluarga mereka yang sudah duluan meninggal dunia atau dalam acara-acara sakral yang lainnya.

Pada tahun 1970 sampai tahun 1980-an ke atas saya masih teringat di mana pada setiap akhir bulan Ramadan mulai dari 25 hari hitungan bulan Ramadan, ibu-ibu di setiap kampung sudah mulai disibukkan dengan monos lepat.

Pada malam hari ibu-ibu setiap rumah merendam beras ketan dengan jumlah tergantung kepada kebutuhan. Ada yang 2 bambu, 5 bambu, bahkan ada yang sampai 10 bambu (satu kaleng beras ketan).

Ini mereka rendam dalam wadah atau tempat yang disebut dengan sentong, yaitu suatu tempat lebih kecil dari karung. Mereka merendamnya dalam hitungan ada yang satu sampai kepada dua jam.

Kemudian beras ini ditiriskan airnya sampai kering. Kemudian ibu-ibu mulai membawakan beras yang sudah direndam ini ke tempat penumbukan tepung yang disebut di masyarakat Gayo dengan nama jingki, yaitu alat tumbuk yang bersifat tradisional yang terdapat di masing-masing kampung.

Jingki ini biasanya hanya ada satu di setiap kampungnya sehingga ibu-ibu untuk menumbuk tepung harus antrian dengan cara siapa yang duluan sampai ke jingki maka dia duluan yang menumbuk tepung miliknya kemudian dilanjutkan kepada mereka yang datang.

Kemudian berurut sampai beberapa orang dengan antrian yang di antara mereka ada yang menumbuk tepung dengan tenaga keluarga masing-masing atau ada juga di antara mereka saling membantu.

Saya masih teringat ketika ibu mengajak kami untuk menumbuk tepung di jingki, maka kami dengan kakak dan adik-adik menginjak atau mengayun jingki dengan menggunakan kaki yang dalam bahasa Gayo disebut dengan inyon.

Sedangkan ibu bertugas di bagian depan jingki untuk merapikan beras yang sudah direndam dan membalik-baliknya sehingga ketika ditumbuk rata menjadi tepung.

Setelah tepung mulai halus, ibu bertugas mengayak tepung tersebut sehingga menjadi halus dan dapat dibawa pulang. Hal ini dilakukan oleh semua keluarga yang ada di kampung tanpa kecuali.

Mereka yang hanya menumbuk tepung dengan jumlah yang sedikit sering juga mereka tidak ikut antrian. Mereka memilih menumbuk tepung di lesung-lesung yang ada di masing-masing rumah.

Sehingga kita merasakan bagaimana indah dan meriahnya hari-hari menyambut datangnya hari raya Idul Fitri. Karena itu sering penceramah menjadikan bahan ceramahnya supaya jangan sampai lalai untuk salat, baik tarawih, salat subuh atau salat yang lain disebabkan karena sibuknya mempersiapkan kue-kue untuk lebaran.

Setelah tepung ditumbuk, biasa ibu-ibu di kampung menjemur tepung tersebut supaya tepung tersebut tidak mudah basi. Sambil menunggu tepung kering ibu-ibu mencari daun pisang yang ada di sekitar kampung.

Daun yang digunakan adalah daun pisang yang disebut dengan awal Keken. Daun awal Keken ini digunakan karena daunnya lebar kemudian daunnya lebih lembut dari daun-daun pisang yang lain.

Daun-daun yang sudah diambil dari pohonnya kemudian dibawa pulang ke rumah untuk selanjutnya dirayul di perapian sehingga daun-daun tersebut menjadi layu dan mudah membungkus lepat yang akan dibuat.

Selanjutnya tepung-tepung yang sudah dijemur kemudian diaduk antara tepung beras dengan tepung ketan yang jumlahnya lebih banyak dan disiram dengan air gula (manisan) sehingga air gula tersebut merata dengan remasan yang agak lama.

Selanjutnya tepung-tepung yang sudah diremas diletakkan di atas daun pisang. Setelah sedikit mengelapnya dengan minyak makan lalu tepung tersebut diisi dengan kelapa gongseng yang dicampur dengan manisan tebu.

Setelah diisi lalu lepat tersebut dibungkus rapi dengan daun pisang dengan melipat kedua ujungnya ke bagian tengah lalu disusun secara rapi dan bertingkat di dalam sangku.

Kemudian dikukus di perapian dengan lama sekitar 45 menit atau 1 jam bahkan lebih. Setelah masak, lepat ini bisa dinikmati oleh siapa saja yang mau yang disebut dengan “mangan lepat porak” dan boleh juga lepat-lepat ini dibiarkan dan dimakan ketika dingin. Sebagian besarnya lepat ini disusun secara rapi, diikat salah satu ujungnya dengan tersusun kemudian digantung di perapian yang disebut dengan runten.

Lepat ini biasanya menjadi hidangan istimewa untuk acara-acara yang sakral dan juga dijadikan makanan setiap pagi setelah dibakar di perapian kemudian dimakan dengan meminum kopi dan masyarakat Gayo sangat menikmati keadaan yang seperti ini.

Masa Modern

Perubahan dari masa tradisional menjadi masa modern artinya bisa kita lihat di dalam masyarakat yang namanya jingki tidak dikenal lagi, yang namanya lesung hampir tidak digunakan lagi.

Semua alat-alat ini sudah digantikan oleh mesin sehingga tidak terdengar lagi suara jingki, suara ibu-ibu yang bercerita ketika sedang menumbuk tepung, demikian juga tidak terdengar lagi suara lelahnya anak-anak dalam menginjak-injak jingki.

Tetapi tepung-tepung itu kini telah ditumbuk dengan menggunakan mesin bahkan tepung ketan sangat banyak dijual di pasar-pasar. Demikian juga dengan tepung beras yang disebut dengan rosebrand. Jelasnya tepung-tepung ini sudah menjadi produk industri mesin.

Penceramah-penceramah tidak lagi menjadikan bahan ceramah mereka tentang ibu-ibu disibukkan oleh kue-kue sampai ibu-ibu tidak lagi ikut salat jamaah baik itu isya, tarawih ataupun salat subuh karena aktivitas ibu-ibu sudah digantikan oleh mesin atau sudah disajikan kebutuhan ibu-ibu di pasar-pasar.

Kue tersedia di pasar dengan berbagai jenis sehingga apa yang diinginkan tersedia dan semua orang tidak lagi membuat kue termasuk lepat di rumah kendati lepat-lepat tidak terjual di pasar sebagaimana halnya kue-kue lebaran yang lain.

Namun ibu-ibu kini dengan hilangnya jingki dan tidak ada terdengarnya lagi suara lesung maka juga terhentilah aktivitas ibu-ibu membuat atau monetum lepat sehingga tradisi menutup lepat kini bisa dikatakan sudah hilang dari masyarakat.

Padahal bila kita pelajari tradisi adalah sebuah identitas, adat adalah sebuah nilai diri. Ketika ini hilang dari masyarakat maka hilanglah identitas dan jati diri. Ketika lepat-lepat bukan lagi menjadi sebuah tradisi yang dibuat menjelang hari-hari yang besar maka bisa kita katakan tradisi monetum lepat kini sudah hilang.

Apakah tradisi-tradisi lain akan ikut hilang dari masyarakat Gayo? Mungkin kita bisa menunggu apakah pernyataan tersebut terbukti atau tidak. []

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.