Oleh : Fauzan Azima*
Tidak semua musuh datang dengan wajah garang dan suara keras. Sebagian justru berdiri sangat dekat, berbicara ramah, bahkan tampak lebih sibuk menjaga kita daripada orang lain di sekitar kekuasaan.
Musuh yang jauh biasanya lebih mudah dikenali. Ia berada di seberang kepentingan, berbeda arah langkah, dan sering memperlihatkan sikap secara terbuka. Karena itu kewaspadaan terhadapnya lebih mudah dijaga oleh siapa pun.
Namun musuh yang berada di lingkaran dekat sering tidak terlihat sebagai ancaman. Ia hadir sebagai teman diskusi, teman perjalanan, bahkan sebagai orang yang paling sering menyampaikan nasihat kepada pemimpin.
Terkait : Pengantar: Petuah untuk Haili Yoga
Kedekatan memberi keuntungan besar bagi orang seperti itu. Ia mengetahui rencana, memahami kebiasaan, bahkan melihat kelemahan yang tidak tampak oleh orang lain yang berdiri lebih jauh dari pusat keputusan.
Dalam dunia kekuasaan, informasi adalah kekuatan yang tidak selalu terlihat. Siapa yang paling dekat, dialah yang paling mudah mengetahui arah langkah seorang pemimpin sebelum orang lain memahaminya.
Orang tua-tua Gayo sejak dulu mengingatkan lewat pepatah: “Murip bersijegen.” Artinya hidup harus saling menjaga. Namun dalam menjaga, seseorang tetap harus berhati-hati membaca watak manusia.
Dalam adat Gayo dikenal tatanan Sarak Opat: reje, petue, imem, dan rayat. Reje memimpin, petue menimbang, imem menjaga jalan agama, dan rayat menjadi penopang kehidupan bersama dalam kampung.
Karena itu seorang pemimpin tidak boleh berjalan sendirian. Ia harus mendengar petue, menghormati imem, dan merasakan suara rayat, agar keputusan tidak hanya lahir dari bisikan orang terdekat.
Orang tua-tua Gayo berkata, “Enti sawah silep.” Maksudnya, segala sesuatu harus dijaga dengan bijak, sebab kelengahan kecil dapat membuka pintu bagi masalah yang besar.
Itulah sebabnya seorang pemimpin perlu bijak menjaga jarak. Bukan untuk mencurigai semua orang, tetapi untuk mengingat bahwa kedekatan tidak selalu berarti kesetiaan dalam perjalanan kekuasaan.
Sering kali musuh yang paling berbahaya bukan yang berdiri di seberang, melainkan yang berdiri paling dekat, berbicara paling ramah, namun perlahan memahami semua langkah sebelum orang lain menyadarinya.
Bersambung ke pasal ketiga…
(Mendale, Maret 16, 2026)





