Oleh : Fauzan Azima*
Istilahnya mempertajam mata batin, padahal main judi. Begitulah cara halus sebagian orang memplesetkan praktik lama agar terdengar spiritual, tidak berdosa, dan seolah pantas diterima di ruang sosial modern.
Dengan istilah baru, judi tampil lebih santun, seakan latihan batin, padahal isinya tetap tebak angka, adu nasib, dan berharap keberuntungan turun dari langit tanpa permisi akal sehat.
Di warung kopi hingga grup WhatsApp keluarga, istilah ini beredar santai, membuat orang tersenyum, tertawa kecil, lalu ikut-ikutan, seakan dosa bisa dikaburkan dengan humor dan permainan kata belaka.
Masalahnya, korban judi tidak pernah lucu. Banyak rumah tangga retak, ekonomi ambruk, dan mental tergerus, sementara pelakunya masih berkilah sedang mengasah rasa, bukan mengadu nasib.
Ketika bahasa dipelintir, nurani ikut dilenturkan. Yang haram terasa netral, yang merusak tampak wajar, dan masyarakat perlahan kehilangan alarm moral karena semuanya dibungkus candaan dan istilah pseudo-spiritual.
Mempertajam mata batin seharusnya melatih kesadaran, pengendalian diri, dan kejujuran hidup, bukan duduk menunggu angka muncul sambil berharap Tuhan ikut menebak pilihan kita hari itu.
Agama dan kearifan lokal tidak pernah mengajarkan jalan pintas semacam ini. Rezeki dihormati karena prosesnya, bukan karena hasil dadakan yang lahir dari spekulasi dan kecanduan terselubung.
Negara dan masyarakat sering terlambat menyadari, sebab judi kini tidak datang dengan wajah gelap, melainkan senyum ramah, istilah halus, dan dalih hiburan yang mudah diterima lintas usia.
Jika bahasa saja sudah kita bohongi, apalagi perilaku. Judi tetap judi, meski diganti nama seindah apa pun, dan korban akan terus bertambah selama kita pura-pura tidak tahu.
Sudah waktunya jujur pada diri sendiri. Berhenti memplesetkan judi, dan benar-benar mempertajam mata batin, agar masyarakat selamat, waras, dan tidak terus-menerus kalah oleh istilah palsu.
(Mendale, Pebruari 2, 2026)





