Oleh : Fauzan Azima*
Di kampung kita, nama itu kadang lebih panjang dari antrean bantuan. Ada yang namanya tiga baris, tapi dipanggil cuma “Bang”. Tapi berbeda dengan Hamzah.
Setelah disentuh sedikit “wifi spiritual” oleh Tengku Ilyas Leube, namanya naik kelas jadi Hamzah Tun. Bukan sekadar nama, ini sudah seperti upgrade dari paket hemat ke premium.
“Tun” itu bukan sembarang bunyi. Itu gelar kehormatan tertinggi di Malaysia. Jadi kalau dipanggil lengkap, rasanya seperti ada angin protokoler berhembus pelan: Hamzah Tun. Minimal ayam di dapur langsung diam, mengira ada tamu negara datang.
Tapi orang barat santai saja. Kata mereka, “Apalah arti sebuah nama.” Mungkin karena nama mereka pendek-pendek: John, Mike, atau Tom. Coba kalau namanya “Jhonathanus bin Filosofikus”, mungkin mereka juga mulai mikir dua kali.
Sementara itu, kaum sufi tidak main-main soal nama. Mereka bilang, “Siapa mengenal namanya, maka mengenal dirinya.” Ini serius. Jadi kalau selama ini kita cuma tahu nama sendiri untuk isi formulir, berarti kita masih di level administrasi, belum naik ke level kontemplasi.
Makna nama itu katanya adalah kejujuran. Nah, di sinilah mulai berat. Karena jujur itu seperti sayur pahit—sehat, tapi tidak semua orang sanggup menelan. Banyak yang lebih memilih hidup “setengah jujur”, seperti kopi sachet: ada rasa kopi, tapi lebih banyak gulanya.
Padahal, kalau mau jujur sedikit saja, kita akan sadar: nama bukan sekadar panggilan, tapi semacam “skrip awal” dari Tuhan. Tidak ada yang kebetulan. Bahkan daun jatuh saja pakai izin, apalagi nama—itu sudah seperti judul sinetron kehidupan kita.
Bayangkan kalau nama kita sebenarnya adalah petunjuk, tapi kita malah menjalaninya seperti orang salah alamat. Nama “Amanah”, tapi kerjaannya menghindari tanggung jawab. Nama “Sabar”, tapi klakson motor saja bisa bikin emosi naik ke ubun-ubun.
Belajar “merike” nama seperti Hamzah Tun sebenarnya bukan soal gelar atau keren-kerenan. Ini soal perjalanan pulang. Perjalanan sunyi yang kadang lebih sepi dari grup WhatsApp tanpa notifikasi. Tapi di situlah kita mulai kenal siapa diri kita sebenarnya.
Jadi, sebelum sibuk menilai orang lain, coba duduk sebentar. Panggil nama sendiri perlahan. Resapi. Jangan-jangan selama ini kita belum benar-benar kenal dengan orang yang paling sering kita sebut itu: diri kita sendiri.
Kalau sudah kenal, barulah kita paham—nama itu bukan sekadar bunyi. Ia adalah undangan. Tinggal kita mau datang… atau tetap sibuk jadi penonton dalam hidup sendiri.
Bersambung ke bagian 10…
(Menadale, Mei 3, 2026)
Terkait : Haili Yoga Perluas Pengetahuanmu, Bagian 8: Jangan Ganggu Bisnis Negara





