In Memoriam : Adik Kami, Iyak

oleh

Oleh : Win Wan Nur

Namanya Arabiyani, tapi dia lebih suka dan kami juga memanggilnya Iyak.

Saya mengenalnya pertama kali tahun 1996, ketika dia yang saat itu berstatus mahasiswa baru di Fakultas Hukum Unsyiah, angkatan 95 ikut sebagai peserta Diksar XIII UKM – PA Leuser Unsyiah, di Banda Aceh.

Sebenarnya sebelum itu, kami sudah bertemu waktu Pra Diksar, di mana saya adalah salah seorang pematerinya. Tapi waktu itu saya belum terlalu memperhatikan dan tidak familiar dengan anak-anak baru yang cuma bertemu dengan kami seminggu sekali. Berbeda dengan Diksar di mana mereka berada dalam pengawasan kami selama 24 jam sepanjang sepuluh hari.

Di Diksar tersebut, Iyak menjadi pusat perhatian karena logatnya yang berbeda dengan peserta lain. Maklum, dia besar di Jakarta, sehingga dia berbicara dengan aksen ibukota yang biasanya hanya kami dengar dan lihat di televisi.

Saat itu dia begitu polos dan benar-benar kaku mengikuti apa yang kami para senior perintahkan.

Yang paling kami ingat dalam kejadian di Diksar itu, waktu prosesi Caraka Malam, seluruh peserta kami lepas sendirian satu per satu di Mata Ie, melewati pekuburan lalu berjalan melewati jalanan sepi tanpa kendaraan yang lewat naik sampai ke Pintu Air, kira-kira sejauh 5 kilometer.

Tiap peserta kami bekali pesan rahasia, yang hanya bisa disampaikan pada senior yang menunggu di saat finish.

Di sepanjang jalan mereka kami ganggu dan mencoba dengan segala cara mengorek informasi yang sebenarnya hanya boleh mereka sampaikan di finish.

Bermacam cara, kami lakukan untuk mengorek informasi itu dan berbagai cara juga mereka lakukan untuk tidak memberikan.

Iyak selalu kami ingat, karena tiap bertemu dengan salah satu dari kami dan kami tanyai, selalu menjawab. “Pesan apaan? Informasi apaan?”

Diksi “apaan” yang khas Jakarta itu, familiar di telinga kami tapi hanya ada di televisi tapi sama sekali tak pernah kami dengar diucapkan dalam pergaulan sehari-hari di Aceh.

Jadi mendengar diksi itu, kami seperti merasa sedang berada dalam adegan sebuah sinetron di televisi. Sepanjang malam itu, paginya bahkan sampai hari ini kalau kami bercerita tentang Diksar XIII, kami selalu mengulang cerita “apaan” Iyak sambil tertawa bersama.

Setelah resmi diterima menjadi anggota Leuser, Iyak bersama beberapa teman seangkatannya, ikut pemantapan divisi Mountaineering yang saya ketuai.

Mereka merancang ekspedisi kecil-kecilan ke Gunung Gle Bae di Aceh Besar. Saat itu, saya sendiri ikut sebagai mentornya.

Waktu itu, Iyak mengejutkan saya.

Ceritanya, ketika kami sedang duduk beristirahat makan siang di tepi sungai. Kami berpapasan dengan seorang pekebun di sana.

Saya menyapa bapak pekebun ini menggunakan bahasa Aceh, tapi si bapak sama sekali tidak mengerti dan menjawab sapaan saya menggunakan bahasa Indonesia dengan aksen yang sangat saya kenal, logat Gayo.

Mendengar itu, saya pun langsung mengubah mode bahasa dan kami berbincang menggunakan bahasa Gayo. Ternyata si bapak adalah seorang pegawai negeri asal Gayo yang bertugas di Banda Aceh yang membeli tanah di sana untuk dijadikan kebun.

Yang mengagetkan, ketika kami berbicara, Iyak ikut nimbrung bicara menggunakan bahasa Gayo seperti kami, bahasa Gayonya sempurna meski terdengar tidak biasa karena ada bau aksen Jakarta.

Setelah itu Iyak bercerita kalau dia memang orang Gayo asli, bapak dan ibunya, keduanya berasal dari Bintang, lama tinggal di Bireun sebelum kemudian menetap di Jakarta. Dia dua bersaudara, dia adalah anak bungsu, abang sulung sekaligus satu-satunya saudaranya bernama Azmi, mahasiswa Teknik Sipil ITI, yang saat ini dikenal secara nasional sebagai pendiri Museum Peranakan Tionghoa.

Sampai saat itu, Iyak yang usianya paling muda di angkatannya, benar-benar sangat polos dan lugu. Paling lugu dari semua anggota Leuser yang ada pada saat itu.

Waktu berlalu, 1998, demo anti Soeharto pecah di seluruh penjuru Indonesia. Kami anggota Leuser, sebagaimana anggota kelompok mahasiswa pecinta alam di daerah lain, berada di garis terdepan dalam demonstrasi-demonstrasi mahasiswa.

Dan sebagaimana juga anak-anak pecinta alam lain pada tahun 1998, kami berdemo tanpa mengusung agenda politik apapun, tanpa strategi jelas setelah ini apa. Kami turun hanya karena didorong semangat ingin mengubah situasi yang kami rasa tidak adil, tanpa pernah berpikir, nanti setelahnya akan jadi aktivis atau politisi, memanfaatkan popularitas semasa jadi demonstran.

Iyak, juga turun pada masa itu. Tapi dia berbeda dengan kami semua. Iyak yang setelah menjadi anggota Leuser juga bergabung dengan HMI, punya agenda yang lebih jelas dibanding kami.

Setelah Soeharto turun, dia terus berlanjut menjadi aktivis dengan agenda menuntut pencabutan DOM Aceh dan menuntut keadilan atas pelanggaran HAM berat di Aceh.

Bersama Aguswandi dan beberapa mahasiswa fakultas hukum seangkatannya, Iyak menggagas mogok makan di depan gedung FKIP lama, di kawasan Kopelma Darussalam.

Selanjutnya, gerakan mahasiswa di Aceh pecah menjadi beberapa faksi, Iyak, bersama teman-temannya dari fakultas hukum, Agus Wandi, Arie Maulana dan lain-lain bersama beberapa mahasiswa IAIN membentuk SMUR (Solidaritas Mahasiswa Untuk Aceh). Di sana pula Iyak bertemu dengan mahasiswa IAIN angkatan 95 bernama Kautsar yang kelak menjadi suaminya.

Selebihnya adalah sejarah.

Pasca tsunami yang meluluh lantakkan Aceh pada 26 desember 2004, Iyak bergabung dengan BRR.

Kemudian setelah itu, adik kami yang dulu lugu, aktif di berbagai gerakan kemanusiaan, membela kaum lemah dan gerakan pembelaan dan perlindungan perempuan sehingga namanya menjadi begitu dikenal.

Tahun 2018, ketika saya akhirnya merampungkan novel pertama saya, “Romansa Gayo dan Bordeaux” Iyak adalah yang paling semangat dan paling banyak membantu saya untuk melakukan peluncuran buku itu.

Bahkan dia datang khusus ke Takengen, menyetir sendirian dari Banda Aceh untuk menjadi pembicara dalam diskusi peluncuran buku tersebut.

Belakangan, Iyak mulai serius menekuni hobinya yang dulu tak pernah kami tahu, melukis, postingan-postingan di media sosialnya belakangan ini banyak menampilkan lukisan-lukisan karyanya.

Saat ketemu terakhir, tahun lalu, saya melihat Iyak lebih kurus, berbeda dengan posturnya ketika awal-awal saya kenal dulu yang jauh lebih berisi. Ketika saya tanyakan rahasianya, dia menjawab kalau dia melakukan gaya hidup sehat, sangat menjaga makanan dan minuman yang dia konsumsi.

“Bang Mi juga begitu, lihat aja sekarang badannya,” katanya menyebut Azmi abangnya yang memang benar seperti dia katakan, sekarang lebih langsing dan segar.

Dia terlihat sangat sehat dan segar, karena itulah tadi malam saya begitu terkejut ketika membaca kiriman salah satu junior saya di Grup Whatsapp internal UKM PA Leuser, kalau Iyak sedang dirawat di ruang ICU rumah sakit Dharmais Jakarta karena kanker.

Lebih terkejut lagi, ketika pagi ini saya membuka mata dan mengecek HP, membaca sebuah pesan yang menyatakan, Iyak sudah mendahului kita dan jenazahnya akan diterbangkan ke Banda Aceh dan akan tiba sekitar pukul 15.00, dan akan dimakamkan di Titeu, Pidie, kampung halaman suaminya.

Innalillahi wa Inna Ilaihi Rajiun, selamat jalan adik kami Iyak, maafkan abangmu ini yang tak dapat menghadiri pemakamanmu dan melihat jasadmu untuk terakhir kalinya.

Segala legacy yang kamu tinggalkan semasa hidup akan kekal di ingatan banyak orang.

Semoga amal baikmu diterima Allah dan semoga Allah memberimu tempat terbaik di sisinya. []

Jimbaran, 4 Februari 2023.

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.