Kesurupan

oleh

Oleh : Dinika Yusuf*

Saya berharap pada satu saat bisa menghasilkan karya sebuah buku berjudul:“Sebuah Otobiografi; Antara Mistik, Perdukunan dan Kebatinan”. Buku cerita hidup saya itu akan berisi kisah-kisah misteri yang saya alami sendiri. Saya berharap buku ini menjadi terapy atau saling bertukar pengetahuan tentang hal-hal yang berkaitan dengan mistik, perdukunan dan ilmu kebatinan. Tulisan ini akan diterbitkan berseri, yang dimulai dengan cerita “kesurupan.”
***

Cerita ini sudah sebelas tahun lalu, tepatnya tahun 2012. Ketika itu saya sekolah sudah kelas IX atau kelas III di SMP 1 Bandar, kabupaten Bener Meriah. Seperti gadis lainnya rutinitas di Kampung Blang Jorong, Kecamatan Bandar, Kabupaten Bener Meriah, saya di rumah membantu ibu memasak, membersihkan rumah, mencuci, kadang kalau musim panen, kami juga memetik kopi.

Ketika saya teringat dan menulis cerita masa masa lalu, saya terbayang wajah suami dan saya tersenyum; ketika lahir, ia sudah menjadi menjadi wartawan dan aktivis di Jakarta. Soal langkah, rizki, jodoh dan kematian memang sudah menjadi rahasia dan ketetapan Allah. Kita hanya bisa berencana, tetapi sekali hanya Allah yang menentukan.

Pada masa remaja, “hobi” saya berbeda dengan anak-anak perempuan lainnya. Walaupun saya penakut dan phobia dengan kegelapan, tetapi saya sangat gemar membaca, mendengar cerita dan mengkoleksi DVD film-film horor; baik dalam negeri maupun luar negeri. Film-film jadul yang dibintangi Suzanna seluruhnya sudah saya tonton.

Kengerian demi kengerian dan rasa penasaran dalam “film hantu” itu tidak membuat saya ketakutan yang berlebihan pada diri saya. Sampai pada suatu malam Jum’at, badan saya merasakan adanya energi asing yang mencoba masuk ke dalam tubuh saya. Kepala, leher dan badan saya sudah mulai sakit. Tubuh saya seperti tidak bertulang, tidak kuasa berdiri. Saya meringkuk di sudut kamar.

Saya sudah merasakan ketakutan yang berlebihan. Kemanapun saya bergerak seperti ada sosok yang mengikuti dan memperhatikan saya. Ketika tidur pun ada bayangan secepat kilat melintas hilir mudik di depan saya. Saya segera menghidupkan lampu untuk mencari tahu, sosok bayangan siapa gerangan.

Ternyata tidak ada siapapun. Saya mengantuk berat, tetapi ketika akan tertidur “sosok” yang tidak bisa gambarkan selalu mengganggu saya. Sehingga saya tidak bisa tidur karena takut sosok itu akan datang kembali mendatangi saya. Bahkan saya sudah mulai takut dengan bayangan saya sendiri. Menjelang subuh akhirnya saya tertidur juga.

Seperti biasa, setiap Jumat pagi di sekolah selalu ada kegiatan membaca Surat Yasin bersama-sama. Badan saya mulai terasa panas dan terasa sangat tidak nyaman. Tetapi saya tetap meneruskan bacaan surat yang dianggap efektif mengusir jin, iblis dan setan. Setelah selesai membaca Yasin, kami masuk kelas.

Biasa saya orang yang ceria, waktu itu sudah mulai diam, saya menahan energi yang tidak nyaman di dalam tubuh saya. Saya tidak aktif lagi dan kebanyakan waktu dengan menyendiri. Badan saya kembali letih seperti baru saja berjalan mendaki gunung puluhan kilo meter. Tubuh saya sangat lemas, tetapi saya berusaha untuk tegar. Semakin saya menahannya semakin terkuras tenaga saya.

Dalam keadaan tubuh yang tidak stabil, setelah pulang ke rumah, kawan-kawan mengajak saya ke daerah Uyem Lime di Kampung Wonosobo. Saya pun tidak kuasa menolak ajakan kawan-kawan. Kami pun berangkat dengan dua sepeda motor ke arah Wih Tengsaran Bidin atau sekarang orang-orang menyebutnya sebagai “air terjun pengantin” karena beberapa tahun lalu sepasang pengantin sedang berfoto pra-wedding jatuh ke dasar air terjun dan meninggal.

Belum lama kami berteduh di bawah rindangnya pohon-pohon pinus di Uyem Lime, sontak badan saya dirasuki hantu. Masyarakat menyebutnya kesurupan karena dianggap bertemu dengan hantu atau jin di sana. Orang-orang Gayo menyebutnya dengan istilah “muserempuk”. Setelah itu saya tidak ingat apa-apa.

“Apa yang terjadi?” tanya saya kepada kawan-kawan ketika sadar.

“Kamu tadi menjerit histeris, tertawa terbahak-bahak, meronta-ronta dan matamu merah, kata orang kamu meserempuk, Din” kata kawan-kawan.

Rasa khawatir, kawan-kawan segera membawa saya pulang ke rumah. Sesampai di rumah keadaan tidak menjadi lebih baik. Saya menangis sekeras-kerasnya karena panas dan rasa sakit yang tidak tahan. Tubuh saya seperti melayang dan mulai berhalusinasi. Lalu saya pingsan tidak sadarkan diri.

Menurut ibu saya, hari sudah menjelang malam, tetapi saya belum kunjung sembuh dari kesurupan atau kerasukan jin.

Pada malamnya, ayah dan ibu membawa saya ke tempat orang pinter atau di kampung kami dipanggil “guru”. Tempatnya tidak jauh dari rumah. Tidak lama kami di sana, saya sudah sadar. Bersyukur pada malam itu, saya bisa tidur nyenyak, tidak ada rasa takut dan jauh dari godaan jin dan hantu. (Bersambung)

(Teritit, 7 Juli 2022)

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.