Selagi Hayat Masih Dikandung Badan, Perbanyaklah Amal Kebaikan

oleh

Catatan : Mahbub Fauzie*

Hingga saat ini kita masih berada dalam suasana pandemi Covid -19. Sudah setahun lebih keadaan penuh rasa khawatir, ketakutan dan was-was terkait dengan pandemi wabah asal Wuhan Cina kita hadapi. Berita-berita kematian sering kita dengar dan baca akibat corona tersebut. Walau kita yakin, bahwa kematian yang terjadi tidaklah semata-mata hanya karena corona.

Terlepas dari polemik tentang corona. Sebagai orang Islam beriman, kita tentu yakin bahwa setiap penyakit atau wabah itu adalah kehendak dan kuasa Allah SWT. Tergantung apakah kita bisa mengambil pelajaran bahwa wabah itu adalah hukuman, azab atau juga cobaan dan ujian. Kita wajib berprasangka baik (husnudzan) kepada Allah SWT.

Yang perlu kita lakukan adalah perkuat keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT, Yang Maha Pencipta. Tawakal kita kepada Allah yang Maha Kuasa dan Berkehendak, atas segala sesuatu yang sekiranya kita tidak kuasa menghadapinya sampai batas kemampuan kita, kecuali berserah diri kepada-Nya.

Kita sebagai hamba, harus tetap berikhtiar (berusaha) seperti selalu menjalankan protokoler kesehatan (prokes) sebagai partisipasi untuk mencegah mengantisipasi penyebaran infeksi virus corona. Seiring dengan itu, doa dan tawakal.

Allah SWT tidak membebani sesuatu kepada hamba-hambaNya sampai batas yang tidak sanggup menanggungnya. Dengan ikhtiar, doa dan tawakal itulah kita berkeyakinan bahwa apa yang terjadi, semoga itu terbaik dan dalam keridhaan Allah SWT.

Allah Maha Adil Bijaksana. Dan dalam kehidupan ini, tidak pantas kita berputus asa. Kita tetap berusaha melakukan hal-hal terbaik dalam kerangka iman dan takwa. Baik dalam bekerja memenuhi nafkah maupun beribadah.

Kematian tidak nengambil syarat sakit, usia atau apapun jua. Kematian seorang manusia bisa karena kecelakaan, bencana alam atau sakit, seperti sakit corona. Kematian adalah rahasia Allah SWT. Qullu nafsin dzaa iqatul mauuti. Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Demikian Fitman Allah SWT dalam Al-Qur’an. Kematian adalah sesuatu yang menjadi gerbang dari kehidupan dunia menuju kehidupan akhirat.

Karena itu, ketika setiap waktu dan saat kita mendengar dan membaca berita tentang peristiwa kematian, kita yakin, bahwa itu adalah Kuasa Allah SWT atas janji dan ketetapan-Nya. Baik berita tentang meninggal dunianya seseorang yang diumumkan di speaker mesjid, kabar via telepon, atau yang muncul di beranda facebook, grup WA, Instagram,Twitter dan lain-lain. Bisa jadi kebetulan yang meninggal dunia itu adalah saudara, kerabat, teman dan sahabat kita. Maka, itu adalah ketentuan Allah SWT. Semoga Allah SWT memberikan pahala atas segala amal baiknya dan memberi ampunan atas segala dosa-dosanya.

Peristiwa-peristiwa itu tentu harus lebih mendekatkan diri kita kepada Allah SWT. Dalam surah Al-Baqarah ayat 156 diingatkan bahwa: “(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali). ”

Kita senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, takwa dalam arti senantiasa berupaya dan berusaha untuk selalu menghadirkan Allah SWT dalam setiap situasi dan kondisi dengan cara senantiasa berzikir dan melaksanakan segala perintah-Nya.

Takwa dalam arti kita senantiasa melibatkan Allah SWT dalam setiap persoalan yang kita hadapi dengan cara berdoa, memohon pertolongan dan bermunajat kepadaNya. Sehingga akan menimbulkan ketentraman dan ketenangan dalam setiap kehidupan kita.

Dalam surah Ali Imran ayat 102 Allah SWT memwasiatkan : “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.”

Setelah kita menyadari tentang hakekat kematian, ada beberapa hal yang harus kita lakukan sebagai persiapan diri kita sebelum menghadapi kematian. Ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah kita perbaiki dan tingkatkan, akhlak kita terhadap sesama semakin baik dan mulia. Mumpung atau selagi hayat masih dikandung badan. Marilah kita lakukan hal-hal berikut:

Pertama, beramal sebaik mungkin. Dalam surat Al-Mulk ayat 1-2, Allah berfirman: “Mahasuci Allah yang menguasai (segala) kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa, Maha Pengampun.”

Amalan yang terbaik sebagaimana disebut dalam ayat 1-2 Surah Al-Mulk adalah amalan yang dilakukan dengan istiqamah. Sesuai dengan hadits Rasulullah SAW yang artinya; sesungguhnya sebaik-baik pekerjaan adalah yang rutin (berkelanjutan), meskipun itu sedikit. (HR. Buhari).

Beramal sebaik mungkin juga berarti bahwa amalan itu kita lakukan dengan penuh ikhlas, maksimal mungkin dan ditunaikan secara sempurna. Baik dalam interaksi kita kepada Allah (habluminallah) maupun kepada sesama manusia (habluminannas). Setiap kita melakukan pekerjaan ibadah terbaik itu, kita tanamkan keyakinan dalam diri, bahwa bisa jadi itu adalah pekerjaan ibadah terakhir kita.

Yang kedua, menyiapkan amal yang terus mengalir pahalanya. Di antara yang dapat kita persiapkan adalah dengan memperbanyak amal jariyah, ilmu yang bermanfaat, serta mendidik anak kita menjadi anak yang saleh yang dapat mendoakan kita kelak. Sebagaimana hadits Rasulullah SAW: ”Jika manusia mati, maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara, sedekah jariyah, ilmu yang diambil manfaatnya, dan anak shalih yang selalu mendo`akan orang tuanya. (HR. Muslim).

Yang ketiga, berdoa agar diberikan husnul khatimah. Apakah itu husnul khatimah? Di antara tanda utama husnul khatimah ialah apabila ia mengucap kalimat laa ilaaha illallaah di akhir hayatnya. Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang akhir perkataannya adalah ‘Laa ilaaha illallaah’ maka dia akan masuk Surga.”

Tanda lainnya dari seorang yang husnul khatimah apabila ia mengerjakan pekerjaan baik di akhir hidupnya. Rasulullah SAW bersabda: Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada seseorang, maka Allah akan membuatnya beramal. Para sahabat bertanya; Bagaimana membuatnya beramal? beliau menjawab: Allah akan memberikan taufiq padanya untuk melaksanakan amal shalih sebelum dia meninggal. (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Mari kita saling berusaha dan mendoakan, semoga kita menjadi hamba Allah SWT yang berhasil dalam menjalani kehidupan kita, yang mampu meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah SWT. dan Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang berpulang ke rahmatullah dalam keadaan husnul khatimah. Aamiin.

*Kepala KUA Kecamatan Pegasing Kabupaten Aceh Tengah

Comments

comments