Siapakah Yang Menang Di Hari Raya Idul Fitri?

oleh

Oleh : Zulkifli, S.Pd.I, M.Pd*

Setelah melaksanakan puasa Ramadhan sebulan penuh, seluruh umat muslim dari seluruh penjuru dunia merayakan Idul Fitri satu Syawal setiap tahunnya.

Kumandang takbir sahut menyahut terdengan dari mesjid ke mesjid, dari meunasah ke meunasah, bahkan disunatkan bagi stiap orang untuk bertakbir mengumandangkan kebesaran Allah Swt, baik sedang dirumah, dijalan-jalan, di pekan atau dimana saja berada, kecuali pada tempat yang tidak layak mengumandangkan lafadh kebesaran Allah ini.

Hari raya Idul Fitri merupakan hari kemenangan bagi setiap mukmin yang telah berjihad selama sebulan penuh, yaitu memerangi hawa nafsunya, sehingga akal dan imannya menjadi raja kembali.

Walau secara keseluruhan, semuanya mukmin itu telah menang, namun secara hakikat ini kembali kepada dirinya sendiri, bagaimana kualitas jihadnya selama bulan Ramadhan, bagaimana puasanya ketika itu, apakah puasa dhahir dan bathin atau hanya sekedar menahan haus dan lapar, bagaimana qiyamul lail nya, apakah ia laksanakan tulus karena Allah Swt atau hanya sekedar mencari sensasi dalam dririnya untuk ditampakkan kepada orang lain, itu semuanya hanya dirinya dan Allah saja yang mengetahuinya.

Orang-orang Yang Menang Di Hari Fitri

Orang-orang yang menang di hari fitri adalah mereka yang telah mendapatkan titel taqwa dan dosanya telah diampuni selama bulan Ramadhan, yang dengan bersungguh-sungguh mengambil bagian ‘Itqu Minannar yaitu kemardekaan dari api neraka. Karena hakikat kemenangan adalah ketika seseorang terlepas dari api neraka kemudian dimasukkan kedalam surga yang kekal dengan beribu-ribu macam kenikmatan.

Ketawaan merupakan titel tertinggi bagi seseorang yang sudah sukses melaksankan puadha Ramadhan dhahir dan batin.

“Wahai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan kepada kamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu, sungguh kamu menjadi orang yang bertaqwa”, (Q. S. Al-Baqarah: 83).

Orang yang menang setelah berpuasa Ramadhan adalah orang yang semakin taat kepada Allah dari sebelumnya, dengan melaksakan perintah Allah Swt dan menjauhi segala larangan Nya, baik ketika sedang dalam jamaah atau ketika ia sendiri.

Bukanlah hari raya itu bagi orang yang memakai pakaian baru, tapi hari raya itu bagi orang yang taatnya kepada Allah makin bertambah dari sebelumnya. Bukan juga hari raya itu bagi orang yang berhias diri dengan pakaian dan kenderaan, tapi hari raya itu hanya untuk orang-orang yang diampuni dosanya.

Yang paling dasar ciri-ciri orang yang mendapat kemenangan pada hari fitri adalah mereka yang semakin tawadhu’, qana’ah, wara’ dan yakin.

Tawadhu’ merupakan sifat diri yang bersumber dari dalam diri seseorang, tawadhu’ itu merendah diri dan sadar bahwa dirinya tidak lebih mulia dari orang lain, dosanya tidak lebih sedikit dari orang lain dan ia menyadari dengan sepenuh hati bahwa ia adalah orang yang hina, seandainya Allah tidak menutupi aibnya sungguh ia tidak berarti apapun dari pandangan manusia.

Orang yang tawadhu’ ini senantiasa ia mencari kesalahan-kesalahannya untuk diperbaiki, keburukan perilaku dan sifat-sifat buruk dalam dirinya untuk ditundukkannya, ainul bashirah pada dirinya untuk intropeksi diri, menggali dan mengkaji setiap potensi buruk dalam dirinya untuk diperbaikinya.

Ia senantiasa mengatakan pada dirinya bahwa dirinya tidak lebih baik dari orang lain. Sehingga ia mendengar orang lain melakukan kesalahan maka yang terlintas dalam dirinya adalah dosanya yang begitu besar, yang mungkin orang lain melakukan kesalahan dengan kejahilannya dan ia sendiri melakukan kesalahan dengan alimnya.

Qana’ah adalah merasa cukup atas yang Allah berikan kepadanya, setelah ia berusaha dengan cara yang halal.

Orang qana’ah tidak pernah terlintas sedikit pun untuk menghalalkan segala cara agar keinginan nafsunya tercapai. Ia sadar bahwa qadar yang telah Allah tetapkan kepadanya itulah yang terbaik baginya.

Dalam mencukupi kebutuhan hidupnya, ia senantiasa meninggalkan jalan-jalan syubhat apalagi jalan itu haram di tempuhnya, setiap rezki dan nafkah yang ia berikan kepada keluarganya benar-benar dari penghasilan yang halal.

Intinya orang yang qana’ah itu merasa nyaman dan bahagia atas apa yang telah ia dapatkan dari hasil usahanya yang halal, tidak terlintas dalam dirinya untuk menempuh jalan haram apalagi mendhalimi orang lain.

Wara’ adalah orang yang terpelihara, yaitu terpelihara seluruh inderanya dari yang haram dan tepelihara perutnya dari makanan dan minuman yang haram serta menjaga kemaluannya dari perbuatan syaithan.

Dalam praktek sehari-hari, ia senantiasa menjaga mata, tangan, telinga, mulut, perut, kemaluan dan kakinya dari sifat dan perbuatan yang syubhat dan haram.

Orang wara’ sangat memperhatikan atas apa yang ia makan atau minum dari jenis yang halal dan ia tidak rela bahwa ada makanan dan minuman yang masuk kedalam tubuhnya dari jenis yang haram atau dari penghasilan yang haram.

Yakin merupakan sifat didalam hati seseorang untuk benar-benar yakin bahwa hidup didunia ini merupakan ladang untuk mencari bekal untuk kembali kepada Allah Swt.

Ia yakin bahwa kehidupan dunia ini hanya sesaat dan akhiratlah tempat yang kekal dan sebaik-baik tempat kembali adalah surga.

Inilah sebagian kecil sifat dan ciri-ciri bahwa seseorang telah menang di hari fitri ini dan ia akan mempertahankannya sampai Ramadhan tahun depan. []

Comments

comments