Haili Yoga Perluas Pengetahuanmu, Bagian 8: Jangan Ganggu Bisnis Negara

oleh

Oleh : Fauzan Azima*

Konon, di negeri yang penuh spanduk ucapan selamat ini, ada satu hukum tak tertulis yang lebih sakti dari undang-undang: jangan ganggu bisnis negara. Bukan karena negara itu rapuh, tapi karena bisnisnya… sensitif. Sedikit saja disentuh, bisa langsung alergi kritik.

Dalam pengembaraan intelektual yang makin hari makin mirip seminar motivasi tanpa snack, mulai memahami satu hal penting: negara bukan sekadar institusi, tapi juga ekosistem usaha. Ada yang jual kebijakan, ada yang dagang proyek, dan ada pula yang membuka lapak janji lima tahunan.

Di sinilah rakyat sering salah paham. Mereka kira negara itu pelayan publik. Padahal, dalam praktiknya, kadang negara lebih mirip holding company, lengkap dengan anak usaha, komisaris bayangan, dan laporan keuangan yang hanya bisa dibaca dengan kacamata batin.

“Kenapa jalan rusak belum diperbaiki?” tanya seorang warga polos.

Jawabannya sederhana: mungkin belum masuk dalam lini bisnis prioritas. Atau mungkin sedang menunggu investor yang berminat pada konsep “lubang bersejarah.” Siapa tahu bisa jadi destinasi wisata ekstrem.

Pejabat pun mencatat dalam buku kecilnya: jika ingin selamat, jangan terlalu logis di negeri yang penuh strategi. Sebab di sini, logika sering kalah oleh narasi, dan data bisa kalah oleh perasaan pejabatnya.

Lucunya, ketika rakyat mulai bersuara, mereka sering dituduh mengganggu stabilitas. Padahal yang terganggu bukan stabilitas negara, melainkan stabilitas arus kas. Kritik dianggap seperti debu di etalase, halus memang, tapi mengganggu tampilan.

Ada pula fenomena menarik: proyek yang tak selesai tapi tetap diresmikan. Mungkin ini bentuk inovasi, peresmian berbasis harapan. Sang pejabat menyebutnya sebagai “ekonomi optimisme,” di mana yang penting bukan hasil, tapi seremoni.

Namun demikian, kita tak boleh sepenuhnya sinis. Negara ini tetap berjalan, meski kadang seperti becak tanpa rem: pelan, berisik, tapi tetap sampai tujuan, meski penumpangnya sudah turun di tengah jalan.

Di akhir perenungannya, kita menyimpulkan satu pelajaran penting: jika tak bisa ikut dalam bisnis negara, setidaknya jangan jadi hambatan. Diam itu emas, apalagi kalau emasnya sedang ditenderkan.

Maka wahai kawan-kawan, jika melihat sesuatu yang janggal, cukup senyum saja. Karena di negeri ini, yang terlalu serius bisa dianggap tidak punya selera humor atau lebih berbahaya lagi, dianggap paham.

Dan seperti biasa, pengetahuan hari ini ditutup dengan pesan bijak:
Negara boleh bisnis, tapi jangan sampai rakyat cuma jadi konsumen penderitaan.

Bersambung ke bagian 9..,

(Mendale, April 25, 2026)

Terkait : Haili Yoga Perluas Pengetahuanmu, Bagian 7: Penguasa Bayangan

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.