Tadarus Katastrofe Ramadhan

oleh
Johansyah (Dok. Pribadi)

Oleh : Johansyah*

Dua kali berturut-turut, ramadhan kita ‘dibelenggu’ oleh covid. Ramadhan sejatinya menghadirkan ketenangan beribadah dan beraktivitas, serta melahirkan semangat baru untuk terus menjadikan diri lebih baik. Tapi semua itu nyatanya tidak demikian, setan covid telah menjadi katastrofe, lebih dari sekedar ujian Ilahiyah.

Kehadiran setan covid di ramadhan adalah kebalikan dari hikayat Bang Thoyib dalam dendang dangdut Indoensia yang beberapa kali tak pulang-pulang. Sementara setan covid, tanpa diundang, selalu konsisten hadir di setiap bulan ramadhan pada dua tahun terakhir, dan mungkin hingga hari raya kurban.

Kelihatannya dia memang sangat ‘suka’ dengan aktivitas umat Islam.

Dikatakan katastrofe, karena peningkatan signifikan covid secara tiba-tiba terjadi di bulan ramadhan. Padahal sebelumnya situasi sudah begitu nyaman bisa dikata sudah mulai kondusif. Apakah ini malapetaka besar? Tentu saja. Karena masyarakat dunia menghadapi gelombang bencana tekanan psikologis yang sangat deras.

Secara normatif, memang banyak dalil dan hadits yang menegaskan bahwa hidup adalah serangkaian ujian, baik dalam bentuk kemapanan maupun kesulitan. Kekayaan, jabatan, anak, istri, dan semuanya adalah ujian. Demikian halnya dengan bencana alam, kematian, hingga soal virus yang sedang melanda dunia saat ini.

Dalam konteks masyarakat era kontemporer, ujian sebagai bentuk kebencanaan perlu ditela’ah secara mendalam untuk tidak sekedar mengatakannya ujian langit sebagai instrumen menguji keimanan seseorang maupun kelompok tertentu.

Atau di sisi lain sebagai upaya untuk menyadarkan orang-orang dari kesesatan duniawi untuk kembali pada jalan pengabdiaan yang sesungguhnya.

Ujian dipahami sebagai media untuk mencapai suasana batin yang tenang mungkin ya, tapi bukan untuk solusi problematika kemanusiaan. Doktrin normatif yang menegaskan manusia itu memang hidup untuk diuji sehingga mereka mampu mengkonstruksi ketenangan batin dengan kepasrahan.

Namun dari perspektif sains, mungkin keimanan dan sikap kepasrahan kita sedang dipermainkan sedemikian rupa. Kenapa demikian mudah dipermainkan?

Karena dalam sains kita menjadi pengekor dan pion. Sementara negara maju menjadi komandonya. Apa yang mereka hasilkan menjadi bahan konsumsi keilmuan kita. Sekelas profesor sekali pun yang ada di Indonesia akan begitu mudah mengamini produk pemikiran, maupun penelitian ilmuwan luar.

Kita bangga mengutip hasil penelitian mereka dan menjadikannya sebagai rujukan, baik dalam tulisan artikel maupun ceramah. Karena itu, sungguh begitu mudah bagi mereka untuk mengatakan yang darurat itu tidak darurat, atau yang tidak bahaya itu bahaya. Lalu tanpa kajian ulang, kita langsung meyakini dan menerapkannya.

Kondisi ini mungkin diperparah lagi oleh ‘cucuk’ (cocok hidup, bisanya untuk kerbau dan sejenisnya). Dalam rentang sejarah panjang, negeri ini adalah negeri penghutang yang membuat Indonesia tidak pernah berdikari dalam berbagai aspek kehidupan. Persis seperti kerbau yang ‘dicucuk’.

Dia punya semangat perlawanan, tapi ketika tali ditarik oleh pemiliknya, dia tidak berdaya dan terpaksa mengikuti arah tarikan ke mana pun dibawa.

Maka soal virus yang katastrofis di bulan ramadhan, seharusnya ditela’ah secara mendalam, bukan sekedar berkiblat pada data, fakta, dan orientasi keilmuan yang mereka kembangkan.

Ketika dilakukan kajian, penelitian, dan tela’ah secara mandiri dan independen, boleh jadi ada temuan lain yang berbeda dengan apa yang mereka temukan.

Soal generalisasi efek virus minsalnya, ternyata tidak terbukti secara signifikan antara kasus China, maupun India dengan kasus Indonesia. Bahkan dalam amatan kita, kasus orang yang meninggal di Indonesia, banyak yang bukan murni gara-gara covid, tapi memang memiliki sakit bawaan seperti jantung, ginjal, paru-paru, dan penyakit lainnya yang sudah akut.

Virus ini bahaya di Indonesia, lebih disadarkan pada tekanan psikologis yang berakibat pada penurunan imunitas, lalu penyakit bawaannya kambuh dan bertambah parah hingga menyebabkan kematian.

Bukan kita minta kematian covid dama seperti mereka. Tapi memang kasus kematian covid di China maupun India sangat berbeda kondisinya dengan Indonesia. Ini menunjukkan bahwa generalisasi bahaya covid perlu ditinjau ulang; tempat, penyebab, resikonya bagi masyarakat yang berbeda ras, hingga agama.

Mungkinkah resiko covid lebih rendah di Indonesia karena mayoritas muslim? Sangat mungkin. Karena umat muslim memiliki protokol kesehatan syar’i yang telah diatur oleh agamanya. Baik yang berkaitan dengan kebersihan makanan, minuman, tempat, dan lain sebagainya.

Terkait makanan, bagi umat Islam ada makanan yang hukumnya haram, ada juga yang makruh, dan ada pula makanan yang halal. Sementara dalam ilmu kesehatan kita meyakin bahwa makanan menjadi salah satu sumber penyakit di samping sumber gizi dan untuk kebugaran tubuh.

Bagi saudara kita yang bukan Islam, tidak ada makanan dan minuman yang halal-haram. Semuanya bisa dimakan. Bahkan dalam kondisi hidup mereka melahapnya.

Lalu apa? Tentu beda sumber makanan, beda pula resikonya. Artinya kita yang Islam resiko tertularnya mungkin lebih rendah bila dibandingkan dengan mereka karena kita sudah menerapkan protokol kesehatan dalam makanan.

Demikian halnya tempat ibadah ketika kita ingin berjama’ah. Sebelum memasuki masjid, semua orang berwudhu’ dan anggota tubuh yang dicuci melebihi protokol kesehatan yang dianjurkan oleh satgas covid. Dengan protokol semacam ini, kita meyakini bahwa resiko penularannya juga rendah.

Tapi jika kemudian ada yang tetap kukuh dengan pendirian bahwa shaf shalat tetap harus dijarangkan, silahkan! Meski pun setelah itu melakukan foto bersama dengan posisi yang sangat rapat. Atau dalam kegiatan lain, berdiri rapat tanpa mengindahkan protokol kesehatan, tidak apa-apa.

Sampai di sini, kita ajukan pertanyaan; apakah katastrofe ini memang karena perkembangbiakan virus secara alami, ataukah dikembangbiakkan dalam kaitannya dengan bisnis farmasi dalam skala besar? Dan secara internal sikap kita dalam menghadapi covid jangan-jangan karena bencana keilmuan sebagai negara-negara pengekor, tidak berdaya untuk membuat ‘fatwa’ keilmuan yang berbeda dari perspektif mayoritas ilmuan global? Wallahu a’lam.

Oleh karenanya, untuk menjawab keragu-raguan ini, kiranya perlu terus dilakukan tadarrus dan jihad keilmuan untuk menghasilkan sains bandingan dan tandingan agar kita tidak seperti kerbau yang ‘dicucuk’.

Kita juga perlu berusaha keluar dari hutang payau yang berlumpur. Sebab, semakin banyak hutang, semakin berpotensi untuk tenggelam. Inilah katastrofe ramadhan yang seharusnya menjadi kajian tadarrus ramadhan bagi ilmuwan muslim di dunia, khususnya Indonesia. Dan pesan pentingnya; ‘jangan pernah berhenti untuk iqra’ dan tadarrus’. Wallahu a’lam bishawab!

*Ketua STIT Al-Washliyah

Comments

comments