Blend and Mixs Tari Guel (Sebuah Pengantar Untuk Buku Karya Mukhlis Gayo, SH., M.Si)

oleh
Kolaborasi Puisi tari Guel dan Puisi oleh Salman Yoga S

Oleh : Salman Yoga S*

Salah satu unsur kebudayaan Gayo yang mempunyai social interest tinggi di kalangan masyarakatnya adalah Tari Guel. Tarian dengan latar sejarah putra Reje Linge Bener Merie dan Senggeda dengan gajah putih ini tidak pernah sepi dari perdebatan dan polemik.

Anehnya, justru semakin diperdebatkan tarian ini semakin populer dan banyak dipentaskan diberbagai iven dan wilayah dengan para penari dari segala tingkatan usia dan gender.

Tarian khas ini diyakini menjadi salah satu induk dan sumber dari tari-tarian lainnya yang lahir dan berkembang di Dataran Tinggi Gayo. Nyaris tidak ada sebuah tarianpun yang tidak menggerakkan bahu sebagai salah satu bentuk estetik gerak, yang dalam Tari Guel hal tersebut menjadi ciri utama.

Demikianpun dengan gerak persendian tulang mulai dari kepala, leher, bahu, lengan, tangan hingga telapak kaki.

Dalam berbagai kajian tentang seni tari hal tersebut dimaknai sebagai sebuah entitas dari suatu kebudayaan, tidak semata sebagai sebuah ekspresi melainkan mempunyai makna simbolik sebagaimana Tari Guel dalam sejarahnya yang berkaitan erat dengan gerak anatomi seekor gajah berwarna putih.

Terlebih secara teoritik disebutkan bahwa eksistensi sebuah tarian mempunyai kolerasi dengan konteks sosial-budaya, sejarah, politik bahkan dengan agama dimana tarian tersebut lahir dan berkembang.

Dialektika-dialektika tentang struktur, bentuk Tari Guel kerap terjadi dan menjadi issue yang tidak pernah kering dan sepi di Gayo. Dari sudut pandang the art of expression di sinilah letak kekuatan sekaligus spirit Tari Guel sebagai karya seni etnografi yang berestetika dengan nilai history-nya yang melegenda.

Dalam rangkain itu sejumlah kekayaan seni-budaya Gayo telah pula mendapat pengakuan negara melalui Warisan Budaya Takbenda (WBTB), selain Tari Guel juga seni Didong dan Tari Sining. Tari Guel disahkan pada tahun 2016 sedangkan Tari Sining pada tahun 2018.

Demikian juga dengan even budaya Pacu Kude juga mendapatkan pengakuan yang sama ditambah sejumlah khasanah kuliner Gayo lainnya.

Namun dari sekian kekayaan budaya yang mendapat Warisan Budaya Takbenda (WBTB) dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia hingga saat ini hanya Tari Sining yang baru mendapat Hak Kekayaan Intelektual Kolektif (HKIK) dari Kementerian Hukum dan Ham (Kemenkumham) Republik Indonesia, sementara Tari Guel dan Didong belum digagas dan belum diusulkan sama sekali.

Untuk melangkah ke arah Hak Kekayaan Intelektual Kolektif (HKIK), buku yang ditulis oleh Mukhlis Gayo, SH.,M.Si ini cukup berarti dan penting. Penting, bukan saja karena berdasar kajian yang panjang dan terfokus, tetapi content dan semangatnya berangkat dari emvirisme penulis yang sangat berdedikasi.

Mukhlis Gayo, SH., M.Si, dalam hal ini bukan saja sebagai penulis Tari Guel semata, tetapi juga sebagai pelaku, pengekspresi, pelestari juga sebagai pengkaji yang konsisten dengan rujukan-rujukan narasi dan literature-fictures yang cukup komprehensif.

Hemat saya, buku ini lebih sempurna dan lengkap dari kajian-kajian sejenis terkait Tari Guel yang pernah dilakukan sebelumnya oleh penulis lain. Sehingga buku ini dapat disebut sebagai sebuah perpaduan (blend and mixs) antara kajian ilmiah dengan emvirisme dan spirit seorang pribumi sejati.

Sebuah buku akan berbeda nilai dan kekuatannya jika ditulis oleh pelakunya sendiri, daripada ditulis oleh peneliti atau pengamat sekalipun. Value dan estetiknya akan lebih ter-embos/actual sebagai sebuah tarian biasa yang hanya menjadi objek tontonan semata.

Sebagai pelaku dan pencinta seni budaya Gayo, saya mengapresiasi buku ini lebih dari sekedar kesaksian dan peak cultural elements, tetapi juga sebagai salah satu rujukan penting tentang Tari Guel, rujukan yang komprehensif tentang eksistensi Tari Guel yang pernah ada, baik berupa makalah, catatan tulis tangan, manuskrip cetakan stensilan, Skripsi-Tesis dan buku-buku yang dengan atau tanpa International Standard Book Number (ISBN).

Indikasi utamanya adalah: buku ini bukan saja memuat latarbelakang sejarah lahir dan munculnya Tari Guel dalam khazanah kebudayaan masyarakat Gayo klasik, tetapi juga membaca dan menganalisa berbagai penyimpangan Tari Guel dalam konteks yang difamahami oleh masyarakat umum, baik yang berkaitan dengan gerak, pola lantai, nilai filosofi, motion symbols hingga argumen penulis yang bersinggungan langsung dengan bentuk dan jenis-jenis tarian lainnya seperti Tari Guru Didong, Tari Munalo dan lain-lain.

Di samping itu buku ini juga memuat Bab khusus tentang kajian pertumbuhan dan perkembangan Tari Guel dengan fase-fase tertentu, fungsi dari Tari Guel itu sendiri, komposisi, alat musik pengiring berikut dengan teknik penggunaan dan suara yang dihasilkan, syair sampai pada Bab pembahasan tentang peluang Tari Guel di zaman modern yang bersinggungan dengan pergeseran nilai dalam persfektif kearifan lokal maupun nilai ekonomi, regenerasi seniman dan pelaku Tari Guel berikut dengan tantangannya.

[]Banda Aceh -Takengon, Desember 2020

Comments

comments