[Catatan Win Wan Nur Bag.2] Samarkilang Kampung Pejuang : Poros Bertemunya Peradaban Gayo dari 4 Penjuru

oleh

Ketika masih dalam perjalanan, di jalanan dengan medan berat di tengah hutan rimba. Saat kami akan tiba di Samarkilang, saya membayangkan kalau nantinya saya akan melihat kampung tua khas Gayo di pedalaman yang berhawa hangat sebagaimana Pantan Nangka, Waq, Lumut atau mirip-mirip kampung Rusip yang baru saja kami lewati, atau karena ramainya, saya mungkin akan melihat kampung yang mirip-mirip Isak.

Tapi, begitu kami tiba di kampung Samarkilang, apa yang saya bayangkan buyar seluruhnya. Keluar dari hutan melewati jalan tanah dengan pengerasan apa adanya, saya seperti merasakan sensasi “Alice in Wonderland” sebuah sensasi mirip seperti apa yang saya rasakan ketika masih tinggal di Karawaci dulu.

Di Karawaci, kalau kita masuk ke kota mandiri Lippo Karawaci melalui Kelapa Dua, lalu ke Bojong Nangka, kita akan dihadapkan pada situasi yang semrawut dengan pemandangan tukang tambal ban pinggir jalan, tukang gorengan, teriakan pedagang keliling, angkot yang menurunkan penumpang semaunya, orang yang menyeberang sembarangan, suara klakson yang bersahut-sahutan, sampah plastik bertebaran, panas dan debu berterbangan khas kota-kota Indonesia dengan pemukiman padat.

Lalu kita masuk ke kawasan Lippo Karawaci, hap…tiba-tiba kita disuguhi suasana yang persis seperti di Singapura, bersih tanpa ada sampah apapun yang berceceran di jalan, sejuk karena sepanjang ditumbuhi pohon trembesi yang ditanam sebagai pelindung, rumput-rumput yang terawat, orang-orang menyeberang dengan tertib mengikuti rambu-rambu, sangat teratur.

Sensasi seperti inilah yang saya rasakan ketika tiba di Samarkilang, yang membedakan hanya latarnya, kalau di Karawaci latarnya perkotaan, di sini yang menjadi latarnya hutan dan jalanan dengan medan yang berat.

Begitu kami keluar dari jalanan off road di tengah rimba, ta laaa…tiba-tiba di hadapan saya terpampang jalan beraspal dua jalur. Tiap jarak 50 meter, di tengah median jalan ini terpancang tiang lampu penerangan jalan dengan desain khas dilengkapi dua bola lampu LCD ber-watt besar yang menggantung di masing-masing sisi jalan.

Rumah-rumah yang ada di kampung Samarkilang banyak yang sudah berbahan beton, kalaupun yang berbahan kayu, desainnya sudah modern bukan lagi jejeran ruko berdinding papan bertingkat dua yang rata-rata tidak dicat, atau kalaupun dicat, warnanya putih atau kuning sebagaimana desain rumah khas kampung-kampung Gayo yang ada di tepi jalan.

***

Teman saya memarkirkan mobilnya di seberang toko kelontong semi modern di kampung Kute Lah Lane yang merupakan kampung pertama yang menjadi gerbang dari sepuluh kampung lain yang berjejer di tepi jalan dua jalur ini.

Di depan warung itu terdapat sebuah meja dengan bangku panjang. Beberapa anak muda duduk nongkrong di sana, masing-masing sibuk dengan smartphone di tangan.

Di sisi lain toko, beberapa orang usia paruh baya duduk di kursi kayu mengobrol dengan orang seusianya.

Melihat kami datang, saya lihat baik anak muda maupun orang-orang tua yang ada di depan warung bangkit dari duduknya lalu dengan antusias menyalami teman saya, lalu kemudian menyalami saya yang diperkenalkan oleh teman saya ini sebagai orang Gayo asal Isak yang sudah lama tinggal di Bali.

Acara pesta pernikahan yang akan kami hadiri berlangsung tepat di seberang toko ini, teratak atau di Gayo disebut “Benten” dipasang di atas jalan umum dua jalur itu. Satu jalur jalan itu habis diambil untuk tempat dipasangnya teratak yang tidak kurang dari 100 meter panjangnya.

Karena kami baru makan di Arul Putih, waktu tiba di Samarkilang, kami tidak langsung menuju ke tempat acara. Kami menyempatkan diri mengobrol dulu dengan warga Samarkilang yang kami temui. Mereka sangat antusias mengobrol kami, terutama teman saya yang dulu pernah tinggal di kampung ini tapi sudah cukup lama tidak berkunjung ke sini.

Satu hal yang sangat menarik saya amati ketika mengobrol dengan mereka, logat khas Samarkilang saat mereka berbicara dalam bahasa Gayo.

Secara umum orang Samarkilang bicara bahasa Gayo berlogat Gayo Lut bagian Uken yang juga sangat mirip dengan aksen orang Gayo Deret. Tapi dalam bahasa Gayo logat Samarkilang, meski tipis, terdapat pengaruh logat Gayo Lues yang di telinga saya yang dibesarkan dalam kultur Gayo Lut juga terdengar mirip dengan logat Gayo Serbejadi.

Contohnya dalam kata-kata yang diakhiri bunyi « k » misalnya kata « tulak, » « olok » seperti juga orang Gayo Lues dan Serbejadi melafalkannya seperti lafal hamzah mati dalam bahasa Arab. Tidak seperti orang Gayo Lut yang melafalkannya dengan bunyi « q » seperti cara pelafalan kata yang diakhiri bunyi « k » dalam bahasa Indonesia berlogat Jakarta metropolitan.

Kemudian untuk bunyi yang diakhiri bunyi huruf « e, » orang Samarkilang, sebagaimana orang Gayo Lues dan Serbejadi melafalkannya seperti bunyi huruf « e » dalam kata « bebek » sedangkan orang Gayo Lut melafalkannya seperti bunyi huruf « e » dalam kata « tempe »

Dari segi wajah, orang Gayo di Samarkilang tak punya ciri khas tersendiri. Tak ada ciri wajah tertentu yang menjadi penanda yang membuat kita bisa menebak bahwa, ini orang Samarkilang. Variasi tampilan fisik orang Samarkilang sangat beragam. Dari sisi warna kulit, ada yang hitam sangat hitam dan ada yang putih sangat putih. Beberapa orang bahkan awalnya saya kira bukan orang Gayo karena wajah mereka sangat khas wajah orang Aceh pesisir yang banyak ditemui di Pidie atau Aceh Utara. Beberapa orang saya lihat berkulit putih, tinggi dengan tangan dan dada yang ditumbuhi bulu layaknya bintang film India, yang lain memiliki wajah khas orang Gayo Lut, beberapa lagi seperti orang Cina. Sangat beragam.

Satu lagi sisi menarik Samarkilang yang saya rasakan. Meski posisi kampungnya terpencil di tengah hutan yang jauh dari peradaban urban, tapi ketika saya mengobrol dengan masyarakat Samarkilang, saya sama sekali tidak mendapat kesan kalau saya sedang berbicara dengan masyarakat di sebuah desa terpencil yang biasanya silau dan minder ketika bertemu orang yang datang dari luar. Setidaknya kesan seperti itulah yang saya tangkap ketika memperbandingkannya dengan pengalaman pribadi saya berinteraksi dengan masyarakat yang tinggal di desa-desa terpencil yang pernah saya kunjungi di pelbagai pelosok Indonesia, mulai dari Aceh, Pulau Sumatera secara umum, Jawa, Bali, Lombok, NTT dan Kalimantan.

Secara penampilan, anak-anak muda yang tinggal di kampung yang berada jauh di pedalaman ini, tak beda jauh dengan remaja di daerah urban, sangat jauh dari kesan kampungan, atau ndeso kata orang Jawa, atau lebih spesifik Gondes kata orang Jogja.

Yang paling kentara saya perhatikan, pakaian yang dikenakan anak-anak muda ini bukan pakaian lusuh atau pakaian impor kualitas murahan dari Cina yang biasanya banyak diijual di pasar-pasar becek dengan merk abal-abal. Saya perhatikan satu persatu, anak-anak muda Samarkilang yang nongkrong di depan toko ini ada yang memakai kaos Ocean Pacific, polo shirt Country Fiesta dan beberapa memakai celana Levi’s 501.

Merk rokok yang mereka hisap dan bungkusnya diletakkan di meja juga bukan rokok-rokok murahan dengan merk plesetan rokok-rokok mahal sebagaimana sering saya lihat di desa-desa terpencil di tempat lain. Ketika saya perhatikan merk rokok yang didisplay di rak toko itu, rokok yang mereka jual didominasi oleh merk-merk premium seperti Marlboro, Lucky Strike, Sampoerna, Dunhill, Gudang Garam, Djarum dan lain-lain dengan segala variasi produknya.

Hal menarik lain, meskipun letaknya terpencil, hampir tidak ada warga Samarkilang yang tak bisa berbahasa Indonesia. Setidaknya, saya belum menemukan satupun warga Samarkilang yang tidak bisa berbahasa Indonesia.

Ini saya rasakan ketika saya berjalan sendirian di kampung ini, sebelum saya menjawab dengan bahasa Gayo dan melanjutkan obrolan dengan bahasa ibu saya ini, semua orang yang saya temui, tua, muda, anak-anak dan remaja menyapa saya menggunakan bahasa Indonesia. Fenomena seperti di video “Dron jeut bahasa Aceh” yang viral beberapa waktu lalu tidak akan kita temui di sini.

Warga yang sudah cukup berumur yang berasal dari generasi di atas saya bahkan rata-rata fasih berbahasa Aceh.

Fenomena masyarakat di kampung pedalaman yang tak silau dan minder dengan orang luar, yang saya lihat dan rasakan di Samarkilang ini awalnya cukup membingungkan. Apalagi ketika kami kemudian menghadiri acara pesta dan saya mengobrol dengan Iskandar, Reje (Kepala Desa) Kampung Kute Lah Lane, sang empuni sinte alias pemilik hajatan.

Kepada saya Bang Iskandar menceritakan kalau Samarkilang belum lama keluar dari keterisolasian. Jalan darat dari Janarata ke Samarkilang baru dibuka tahun 1996, ketika Aceh Tengah yang membawahi Samarkilang pada masa itu dipimpin oleh bupati Buchari Isaq. Itupun kondisi jalannya belum seperti sekarang. Waktu itu jalannya benar-benar masih jalan off road tanpa pengerasan.

Sebelum tahun 1996, untuk mencapai Janarata, mereka tak punya pilihan selain berjalan kaki berombongan, mendaki menembus hutan rapat, tak jarang diikuti harimau. Perjalanan itu mereka tempuh dalam waktu dua hari satu malam kalau anggota rombongan semuanya laki-laki dan tiga hari dua malam kalau dalam rombongan ikut anggota perempuan.

Jadi sampai 51 tahun setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, hanya dua tahun berselang sebelum reformasi, Samarkilang masih berada dalam isolasi total.

Jalan beraspal dari Janarata sampai Tembolon dan jalan perkerasan dari Tembolon sampai Samarkilang baru ada sekitar 3 tahun ke belakang. Listrik PLN yang sekarang menerangi setiap rumah dan jaringan telepon seluler yang membuat warga Samarkilang bisa mengakses internet, baru ada sekitar dua tahun ke belakang.

Jadi, interaksi intens antara warga Samarkilang dengan masyarakat Gayo di daerah lain baik secara sosial maupun ekonomi baru terjadi dalam waktu yang sangat singkat.

Sebelumnya, karena sulitnya medan darat yang harus dilalui menuju ke Janarata yang merupakan ibukota kecamatan Bandar yang menaungi Samarkilang pada masa itu. Warga kampung atau lebih tepat disebut kemukiman ini lebih banyak berinteraksi dengan Aceh Utara, baik itu dari sisi sosial apalagi dari sisi ekonomi.

Meski pada masa itu jarak tempuh ke kota-kota di Aceh Utara lebih jauh dibandingkan Janarata, tapi berbeda dengan Janarata, pusat keramaian terdekat di wilayah Gayo yang harus ditempuh melalui jalan darat, kota-kota pusat perdagangan di Aceh Utara dapat ditempuh melalui jalur sungai, dengan begitu mereka bisa mengangkut dan menjual hasil bumi dalam jumlah besar. Begitu juga sebaliknya, ketika kembali ke Samarkilang, melalui jalur sungai, mereka juga bisa membawa barang kebutuhan dasar dengan jumlah besar.

Pada masa itu, produk Samarkilang mereka jual ke Janarata, menurut pengakuan beberapa warga, cuma iken pedih (ikan jurung) kering yang mereka tangkap di sungai-sungai Samarkilang. Selebihnya, hasil bumi yang lain mereka jual ke Aceh Utara. Barang kebutuhan sehari-hari juga mereka pasok dari Aceh Utara, bukan dari Janarata.

Iskandar, reje kampung Kute Lah Lane yang lahir tahun 1973, kira-kira sepantaran dengan saya menceritakan, dulu untuk menjual hasil bumi Samarkilang berupa beras dan hasil hutan, mereka menggunakan rakit yang mengangkut setidaknya 30 karung beras, rotan dan hasil bumi lain menyusuri Wihni Jemer (Sungai Jambo Aye) menuju Aceh Utara selama 7 hari 7 malam.

Sebenarnya perjalanan di sungai sendiri tidak sampai selama itu, perjalanan menjadi lama karena di satu tempat mereka harus menepi karena beratnya medan tidak bisa dilalui oleh rakit, jadi mereka harus menurunkan barang-barang yang mereka bawa, mengangkutnya melalui darat melewati bagian sungai yang medannya tidak bisa dilewati rakit untuk dipindahkan ke rakit lain yang sudah mereka persiapkan untuk melanjutkan perjalanan sampai ke hilir. Proses pemindahan barang-barang ini bisa memakan waktu berhari-hari. Inilah yang membuat waktu tempuh perjalanan menjadi sangat lama.

Setelah menjual barang-barang itu dan meninggalkan rakit di Aceh Utara, mereka kembali ke Samarkilang membawa bahan kebutuhan pokok terutama garam, gula dan minyak tanah. Mereka tidak membawa minyak goreng karena itu bisa mereka buat sendiri dari santan karena di Samarkilang banyak kelapa.

Selain barang kebutuhan pokok itu, mereka juga kerap membawa bahan bangunan dan alat-alat pertanian seperti semen, atap seng, paku, cangkul dan parang menggunakan perahu besar yang bisa mereka muat sampai 30 lembar atap seng yang digulung, beberapa karung garam dan gula serta beberapa jeriken minyak tanah.

Perjalanan pulang ini lebih singkat, karena perahu yang mereka gunakan bisa melewati bagian yang tidak bisa dilewati rakit dengan cara menyusuri sisi yang tidak deras.

Cara seperti ini sudah mereka lakukan sejak dulu, sejak nenek moyang mereka menetap di Samarkilang, jauh sebelum Indonesia merdeka bahkan sebelum kedatangan Belanda. Bedanya waktu itu yang melakukan hal seperti ini bukan cuma masyarakat Samarkilang, tapi juga masyarakat Gayo dari daerah lain, seperti Linge dan Serule yang sekarang masuk wilayah Aceh Tengah, Pining yang masuk wilayah Gayo Lues serta Lokop Serbejadi yang sekarang masuk wilayah administrasi Aceh Timur.

Di masa lalu, Samarkilang adalah titik pertemuan peradaban Gayo dari berbagai wilayah. Karena itulah di masa lalu Samarkilang yang secara geografis merupakan wilayah Gayo yang sangat penting dan strategis dari sisi ekonomi. Waktu itu, posisi Samarkilang bagi orang Gayo, kurang lebih seperti Bireun untuk Aceh sebelum dibukanya jalan KKA yang membuat jarak tempuh dari Gayo ke Medan yang merupakan pusat ekonomi terbesar di pulau Sumatera jauh lebih singkat.

Kalau mengambil ilustrasi dalam lingkup yang lebih besar, waktu itu posisi Samarkilang bagi masyarakat Gayo kurang lebih seperti Singapura bagi Asia Tenggara, atau seperti Timbuktu sebelum dibukanya Terusan Suez bagi Afrika.

Tampaknya posisi strategis di masa lalu inilah yang membuat karakter dan tampilan fisik warga Samarkilang menjadi seperti sekarang.

Kalau kita menanyakan darimana nenek moyang mereka berasal, mayoritas orang Samarkilang akan menyebut kampung-kampung di tepi Danau Laut Tawar yang dulu masuk dalam wilayah kekuasaan kerajaan Syiah Utama, kerajaan terkecil dari seluruh kerajaan yang ada di Gayo pada masa lalu. Atas dasar itulah, ketika kecamatan Bandar dimekarkan menjadi beberapa kecamatan baru, kecamatan yang membawahi Samarkilang dinamai kecamatan Syiah Utama.

Tapi selain merujuk ke kampung-kampung di Syiah Utama, tidak sedikit juga orang Samarkilang yang merujuk asal-usulnya ke kampung-kampung tua yang sekarang ada di kecamatan Linge.

Contohnya Iskandar, reje kampung Kute Lah Lane sendiri. Dia mengatakan nenek moyang mereka berasal dari Lane yang ada di kecamatan Linge. Wilayah yang dulu menjadi tempat padang penggembalaan kerbau keluarga saya.

Beberapa menyebut nenek moyangnya berasal dari Serbejadi dan Gayo Lues bahkan dari pesisir yang kemudian berasilmilasi menjadi Gayo melalui perkawinan yang membuat mereka terputus total dengan akar pesisirnya, baik dari segi budaya, maupun bahasa bahkan pola pikir. Yang belum saya temukan cuma orang yang menyebut nenek moyangnya berasal dari Gayo Lut bagian toa, wilayah asal ibu saya yang merujuk garis keturunannya terkait kisah Batak 27 yang berasal dari Tanah Karo.

Latar belakang sejarah yang seperti inilah yang menjelaskan mengapa tampilan fisik orang Samarkilang begitu beragam dan itu pula yang membuat logat bahasa Gayo mereka, di telinga Lut bagian uken saya terdengar tipis-tipis seperti logat Gayo Lues atau Lokop Serbejadi.

Warga Samarkilang fasih berbahasa Indonesia, rupanya terjadi akibat interaksi intens dengan masyarakat pesisir, bukan hanya Aceh tapi juga warga pesisir di daerah lain, sebab ketika mereka tiba di Aceh Utara yang ditempuh dengan perjalanan selama 7 hari 7 malam, sering terjadi mereka tidak hanya berhenti di sana, tapi melanjutkan perjalanan sampai ke Medan dan kota-kota lain bahkan sampai ke pulau Jawa. Beberapa orang yang ikut dalam perjalanan ini bahkan terus memutuskan untuk merantau dan baru kembali ke Samarkilang beberapa belas tahun kemudian.

Latar belakang seperti ini pula yang kemudian menjelaskan mengapa warga Samarkilang yang tinggal di kampung terpencil yang berada dalam mengalami isolasi total nyaris sepanjang usia republik ini sangat mudah beradaptasi dan menerima ide-ide baru yang logis dan masuk akal serta tidak silau atau minder ketika bertemu dan mengobrol dengan pendatang dari luar. []

Comments

comments