Pohon Aren, Potensi Tersembunyi Dataran Tinggi Gayo

oleh

Catatan : T. Hafidh Asyraf*

Dataran tinggi Gayo, memiliki potensi besar pada komoditas pertanian dan perkebunannya. Contonya adalah kopi arabika dengan kualitas yang sudah diakui dunia sudah sejak lama. Perhatian masyarakat dan pemerintah setempat untuk membuat produk kopi arabika terbaik terus meningkat setiap tahunnya.

Namun sayang, masih banyak komoditas yang memiliki potensi besar lainnya tidak mendapakan perhatian yang sama seperti kopi arabika. Salah satunya adalah pohon aren. Pohon aren atau enau (Arenga pinnata) merupakan tumbuhan yang menghasilkan bahan-bahan industri sejak lama kita kenal.

Namun sayang tumbuhan ini kurang mendapat perhatian untuk dikembangkan atau dibudidayakan secara sungguh-sungguh oleh berbagai pihak. Begitu banyak ragam produk yang dipasarkan setiap hari yang berasal dari bahan baku pohon aren dan permintaan produk-produk tersebut baik untuk kebutuhan ekspor maupun kebutuhan dalam negeri semakin meningkat.

Hampir semua bagian pohon aren bermanfaat dan dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari bagian fisik (akar, batang, daun, ijuk dll) maupun hasil produksinya (nira, pati/tepung dan buah).

Selama ini permintaan produk-produk yang bahan bakunya dari pohon aren masih dipenuhi dengan mengandalkan pohon aren yang tumbuh liar.

Jika pohon aren ditebang untuk diambil tepungnya tentu saja populasi pohon aren mengalami penurunan yang cepat karena tidak diimbangi dengan kegiatan penanaman.

Di samping itu, perambahan hutan dan konversi kawasan hutan alam untuk penggunaan lain juga mempercepat penurunan populasi pohon aren.

Pohon aren adalah salah satu jenis tumbuhan palma yang memproduksi buah, nira, dan pati atau tepung di dalam batang. Hasil produksi aren ini semuanya dapat dimanfaatkan dan memiliki nilai ekonomi. Akan tetapi hasil produksi aren yang banyak diusahakan oleh masyarakat adalah nira yang diolah untuk menghasilkan gula aren.

Negara-negara yang membutuhkan gula aren dari Indonesia adalah Arab Saudi, Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, Jepang dan Kanada (Sapari, 1994).

Pada prinsipnya, pengembangan dan pengolahan pohon araen merupakan hal yang sangat prospektif bagi Aceh Tengah bahkan Indonesia. Selain dari manfaatnya yang cukup beragam, dalam penolahan nira aren menjadi produk-produk sekunder otomatis akan membuka lapangan pekerjaan dan menambah daya tarik daerah dalam aspek sumber daya alam dan wisata.

Oleh karena itu perlu adanya pemikiran-pemikiran dan aksi nyata dari seluruh elemen agar potensi aren dapat diberdayakan dengan maksimal.

Desa Genting Gerbang, Kecamatan Silih Nara merupakan satu dari lima daerah yang memiliki potensi besar tanaman aren di Aceh Tengah. Empat lainnya yaitu Kecamatan Linge, Bintang, Ketol, dan Celala.

Petani aren genting gerbang menjadikan tanaman aren sebagai sumber penghiduapan sehari-hari dengan mengolah dan mengambil air nira. Mereka biasanya mengambil air nira sebanyak dua kali dalam sehari.

Aktivitas ini mengharuskan mereka untuk bergegas pagi-pagi buta untuk menelusuri hutan dan semak dan kembali saat matahari mulai terbenam. Secara umum, air nira yang dihasilkan dari satu pohon aren berkisar 10-20 liter per hari bergantung pada kualitas tanamannya.

Bahkan untuk kualitas tanaman yang baik dapa menghasilkan 30 liter air nira per harinya. Untuk memperoleh 1 kg gula aren dibutuhkan 1-7 liter air nira murni. Kemampuan para petani ini untuk mengumpulkan air nira bergantung pada jumlah pohon aren yang telah mereka rawat sebelumnya.

Perawatan sebelum air nira siap diambil dari tanaman aren dilalui melalui proses yang panjang dan membutuhkan ketelatenan. Perajin gula aren membutuhkan waktu kurang lebih 15 tahun sejak bibit ditanam sampai siap disadap niranya.

Air nira akan muncul lewat tandan bunga yang muncul di ketiak daun atau sering disebut manggar. Dari tangkai bunga itulah air nira akan mengucur yang nanti akan ditampung ke dalam wadah. Tapi sebelum itu terjadi ada ritual awal yang harus di lalui yaitu proses memukul-mukul sembari mengayun-ayunkan manggar aren dengan alat khusus.

Tujuannya adalah agar saluran kapiler pada batang tandan menjadi pecah dan aliran nira lebih mudah lewat menuju penampungan. Hal ini dilakukan selama 1-3 bulan atau sampai bunga aren mekar dan timbul aroma yang sedap di sekitar pohon aren. Setelah proses ini dilewati barulah air nira siap disadap dan ditampung ke dalam wadah.

Proses penyadapan dilakukan dengan menaiki tangga yang dibuat dengan sebatang bambu dengan pijakan tunas tunas yang tumbuh di sepanjang ruas ruasnya. Ruas tunas tersebut berfungsi sebagai pijakan yang memiliki lebar hanya sepertiga telapak kaki.

Proses menyadap membutuhkan keahlian khusus. Tidak hanya keterampilan membawa wadah kosong saat naik, turun dengan wadah penuh yang sudah berisi nira. Butuh perjuangan lebih ketika para petani harus naik turun dengan hanya bermodalkan tangga bambu seadanya tadi.

Menopangkan berat badan dengan ujung jari kaki, belum lagi tunas bambu yang kecil dan pastinya terasa tajam. Proses membuat gula aren ini tidak lah semanis rasanya. Sungguh sebuah proses yang panjang membuat gula aren itu sampai ke dapur Anda.

Sesampainya di bawah, air nira harus segera dimasak agar kualitasnya tidak menurun dan tidak ditumbuhi jamur dan kemudian akan terasa asam. Kemudian para petani aren harus menyiapkan kayu bakar untuk menyalakan tungku yang panas untuk tempat mendidihkan air nira tadi.

Jika air nira dirasa belum cukup, maka petani harus mengulangi proses dari awal lagi dan air yg sudah diperoleh sebelumnya harus dididihkan terlebih dahulu agar tidak asam. Baru pada keesokan harinya air yang sudah cukup banyak diolah menjadi gula aren. Proses pemasakan air nira menjadi gula aren dibutuhkan waktu 6-8 jam.

Selama periode waktu tersebut, para petani harus telaten menjaga nyala api dan sesekali mengaduk-aduk nira agar tidak gosong. Lain lagi jika ingin membuat gula tampang atau gula aren cetakan. Petani aren harus membuat cetakan dari bambu atau pandan hutan yang dirangkai berbentuk lingkaran.

Setelah gula dirasa cukup baik untuk dicetak, gula dituangkan ke dalam cetakan satu-persatu dan kemudian dibiarkan mengeras. Untuk menghasilkan gula semut, sisa gula yang ada di dalam wajan kemudian diangkat dari tungku. Sembari didinginkan gula diaduk secara berkala agar terbentuk kristal gula aren yang sempurna.

Namun masih terdapat kendala lain yang dihadapi oleh para petani, pemasaran gula aren yang sudah diproduksi oleh petani tidak semudah yang dibayangkan. Biasanya para petani aren genting gerbang menjual gula aren di teras rumah mereka yang berbatasan langsung dengan jalan raya.

Harapan mereka hanya begantung kepada pengemudi kendaraan yang berkenan untuk mampir membeli atau menjualnya kepada tetangga yang sudah kehabisa stok gula aren di rumahnya. Tak jarang gula aren yang mereka produksi akan terus tertimbun di rumah dan terus menurun kualitasnya karena mereka tidak memiliki tempat penyimpanan yang baik.

Bahkan menurut pengakuan salah satu petani, beliau pernah menimbun hampir 1 ton gula aren dalam jangka waktu 3 bulan. Oleh Karena itu, penghasilan mereka pun tak menentu setiap harinya. Terkadang bahkan tak sepeserpun rupiah yang dapat mereka peroleh dari hasil kerja keras mereka dalam satu hari.

Karena hal tersebut, acap kali para petani aren memutar pikiran untuk tidak lagi menjual gula aren karena dinilai kurang mampu mentupi biaya kehidupan sehari-hari mereka. Banyak petani aren yang meninggalkan profesinya dan lebih memilih untuk berkebun, sebagiannya lagi lebih memilih untuk menjual air nira murni atau bahkan menjual tuak karena lebih praktis dalam pembuatannya.

Untuk per liter air nira dijual dengan harga 4-6 ribu rupiah per liternya. Nominal ini sangat jauh jika dibandingkan dengan menjual gula aren yang dapat dijual dengan harga 25-30 ribu rupiah per kilogram. Jika 1 kg gula aren didapatkan dari rata rata 5 liter air nira maka selisih harga yang diperoleh adalah senilai 5 ribu rupiah.

Melihat permasalahan tersebut, timbul ide dari penulis yang bertujuan untuk memudahkan para petani aren memasarkan hasil produksi mereka. Penulis menginisiasikan suatu merk produk dagang untuk meningkatkan nilai jual gula aren dan memperluas jangkauan pasar penjualan gula aren para petani genting gerbang.

Merk produk yang penulis cetus adalah Arrenga Takengon Palm Sugar dengan membawa tiga nilai yang menjadi keunggulan yaitu higienis, praktis, dan kualitas premium. Hasil produksi para petani berupa gula semut dan gula tampang dijual ke Arrenga Takengon dengan harga yang bersaing, berkisar antara 28-30 ribu rupiah per kilogram.

Dengan adanya aktivitas jual beli ini, para petani aren pun sudah jarang menumpuk hasil produksi mereka di rumah hingga berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Perputaran keuangan mereka pun berjalan lebih cepat dan lebih terasa hasilnya.

Tentunya dengan nilai kualitas premium yang dibawa oleh Arrenga, para petani terus berkesperimen untuk terus berusaha menghasilakan gula aren dengan kualitas terbaik. Arrenga memiliki harapan besar agar aktivitas bertani aren di desa genting gerbang akan bangkit kembali dan mampu memberikan kesejahteraan dan penghargaan atas kerja keras para petani aren. Tentu hal ini diharapkan pula berdampak pada daerah lainnya di kabupaten Aceh Tengah.

Dengan langkah awal yang diambil oleh Arrenga Takengon, besar pula harapan penulis untuk mengembangkan komoditas aren secara khusus untuk menghasilkan produk produk sekunder lainnya yang memiliki nilai jual tinggi yang kemudian dapat diedukasikan kepada masyarakat sebagai upaya peningkatan kesejahteraan petani aren.

Salah satu produk yang berpotensi untuk dikembangkan adalah industri bioetanol dari air nira aren. Dengan adanya pengembangan ini secara tidak langsung mampu memberikan daya tarik lebih kepada kabupaten Aceh Tengah sebagai daerah percontohan bagi daerah-daerah lainnya yang memiliki potensi sama.

Dengan terus menigkatnya pengembangan produk dari pohon aren, maka Arrenga juga memiliki cita cita untuk membudidayakan pohon aren asli dataran tinggi gayo yang dibibitkan dalam suatu penangkaran tersertifikasi agar jumlah populasi aren tidak menitipis seiring dengan pemanfaatannya yang terus bervariasi dan bertambah setiap harinya.

Sumber Pustaka

https://arengaindonesia.com/journal/2020/perjalanan-panjang-gula-aren-dari-hutan-sampai-ke-dapur-anda/ (diakses 19 November 2020)
https://mediaindonesia.com/read/detail/354222-aren-kaya-manfaat-dan-tingkatkan-perekonomian-petani(diakses 19 November 2020)
Sapari, A., 1994. Teknik Pembuatan Gula Aren. Karya Anda, Surabaya.

*Mahasiswa Universitas Indonesia asal Gayo


Ikuti channel kami, jangan lupa subscribe :

Comments

comments