Oleh : Safriadi, S. Pd, M. Pd dan Anwar Sahdi, S. TP, M. Si*
Penyebaran wilayah penularan virus covid-19 sudah sangat mengkhawatirkan, sedikitnya kabar baik yang kita temui tentang kesuksesan dalam menangkal wabah ini membuat pemerintah harus putar otak lebih kencang, untuk menemukan strategi dan cara yang paling efektif untuk menghambat/menghindari penularannya.
Dengan pola transmisi yang begitu cepat, banyak strategi yang dijalankan. Sebagian wilayah/negara memahami karakteristiknya dan relatif siap dengan protokol penanganan penyakit menular umumnya, mampu mengurangi dampak dari virus ini.
Sebut saja Jerman yang sudah survive dengan tenaga medis dan fasilitas medis untuk penanganan penyakit menular, bahkan saat ini pasien covid-19 dari negara lain juga di rawat di Jerman, Korea Selatan dengan strategi masif test dengan pola drive true.
Dan yang paling menarik adalah kesuksesan Vietnam, dimana negara dengan satu partai ini mampu memobilisasi rakyatnya untuk mengikuti protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah dan pengawasan pendatang yang sangat ketat. Sehingga negara dengan kemampuan/fasilitas medis yang relatif rendah ini mampu menangkal penularan covid19 secara efektif.
Banyak negara yang sukses menangani Covid-19, namun banyak juga negara yang gagal dalam menerapkan strategi penanganan sehingga menimbulkan caos dan tidak terkendali.
Menurut hemat penulis, hanya negara/wilayah yang memahami karakteristiknya dan mampu mengeksplorasinya sebagai potensi saja yang akan sukses menghambat/melawan penyebaran virus covid-19 ini.
Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah saat ini layaknya daerah lain, sedang berjibaku untuk membentengi wilayah nya dari serangan virus ini. Babagai mana kita ketahui virus ini berkembang akibat adanya agent (pembawa) dari wilayah terjangkit, dan yang paling mengkhawatirkan adalah silent agent atau yang lebih di kenal sebagai carier.
Sehingga kesuksesan daerah ini sangat ditentukan oleh sebaik apa kita mampu mengendalikan pelaku perjalanan (OTG, atau istilah lainnya) yang masuk ke wilayah dan seberapa disiplinnya orang di maksud melaksanakan protokol pencegahan yang sudah di atur, menurut juru bicara.
Hal yang sangat miris adanya, bila kita tidak memiliki record data pelaku perjalanan tersebut baik asal perjalanan, wilayah yang di lewati dan kapan waktunya yang bersangkutan masuk ke wilayah kita.
Kampung sebagai terminal akhir perjalananlah yang harus mengambil resiko yang besar bila data ini tidak tersedia, sehingga kampung harus pro aktif menyediakan data pelaku perjalanan di kampungnya untuk mengatasi permasalahan ini.
Seluruh kampung di Kecamatan Bener Kelipah sesuai arahan telah menerapkan pendataan real time terhadap pelaku perjalanan yang masuk dan keluar dari wilayah dan informasi ini terbuka untuk siapapun.
Sehingga masyarakat kampung mengetahui siapa yang datang/keluar di kampungnya dan siapa yang sudah melampaui masa karantina mandiri 14 hari sesuai anjuran pemerintah.
Merujuk kesuksesan Vietnam, kesediaan masyarakat menyampaikan informasi yang benar adalah kunci dari kesuksesan cara ini, di samping itu program-program lainya seperti physical distancing, cuci tangan sesering mungkin, penguatan pangan, pemberian vitamin massal, disinfektan dan program lainnya akan terus dapat meningkatkan kapasitas kampung dalam mencegah penularan virus ini.
Pengendalian berbasis data ini penting di jalankan mengingat dalam waktu dekat kita akan menyambut bulan ramadhan dan berharap dapat lebih fokus beribadah.
Semoga dengan memanfaatkan karakteristik wilayah kita yang relatif mudah dalam mengukur pelaku perjalanan (OTG atau istilah lainnya) akan menghindarkan kita dari terinfeksi virus mematikan ini. Amin.
“Uwet mi ko rakyat gayo, nti daten ko bur klieten mongot pudederu.” (alm. AR. Moese).
*Camat dan Sekcam Bener Kelipah