Beri Aku Waktu Belajar Mencintai-Mu

oleh

Catatan : Fauzan Azima*

Sebelum memulai pengajaran, guru Ibtidaiyah-ku selalu menuliskan kalimat “Bismillahirrahminirrahiim” dengan Bahasa Arab dengan kapur tulis pada bagian tengah paling atas papan tulis yang berwarna hitam.

Begitu seringnya guru menuliskan kalimat “Basmallah” sehingga dengan sendirinya kamipun bisa menuliskannya tanpa harus belajar.

Bisa jadi pada waktu itu, bagi para guru dan generasi kami, kalimat “pembuka segala kebaikan” itu telah menjadi “khadam”. Sehingga menjadi keberkatan, keselamatan dan kenikmatan berkat kalimat “Bismillahirrahmanirrahiim.”

Para guru; Pak Maja, Pak Santa, Ibu Nur, Ibu Diah dan Pak Tawi sangat ikhlas mengajari kami. Belajar mengenal huruf abjad Bahasa Indonesia, huruf hijaiyah Bahasa Arab, aqidah akhlaq, menyanyi dan olah raga.

Meskipun kami diajari dengan keras, namun tampak pada wajah mereka, berharap kami harus pandai. Sejurus dengan itu, kamipun sudah mulai dewasa. Proses pembelajaran terus berlangsung untuk mencari keahlian, yang tidak diajarkan pada mata pelajaran apapun.

Di antaranya adalah mencintai seseorang. Bagi seorang pemula seperti saya, cinta adalah misteri yang diselimuti kabut gelap. “Misteri” sendiripun sesuatu yang tidak bisa ditemukan jawabannya. Apalagi ditambah lagi berselimut kabut, tentu tingkat kesulitannya naik pada level kedua.

Kegelapan cinta, mendorongku untuk menghubung-hubungkan ilmu pengetahuan tentang “mengenal”. Sesuai dengan pepatah; tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta. Beragama juga begitu, “Awaluddin Ma’ritullah” atau awal agama adalah “mengenal” Allah.

Sungguh sesuatu yang absurd mencintai tanpa mengenal dirinya atau tidak mengenal lalu serta merta membenci.

Bagiku, yang penting kamu perempuan dan wujud karena aku belum mau gila. Berbicara dengan tiang listrik, pohon atau se-ekor semut yang tersesat sendirian di atas meja makan.

Selanjutnya soal anatomi tubuh; persendian berjumlah 360, ditambah 6666 jumlah urat otot atau disebut ayat Qur’an dalam dirimu, serta sarafmu kalau disambung akan mencapai sepanjang 75 KM. Dahsyatnya!

Soal perdebatan cantik atau jelek itu relatif. Tergantung siapa ukurannya. Kalau dibandingkan dengan “Putri Indonesia” kamu pasti kalah, tetapi kalau dibandingkan dengan perempuan lainnya, mungkin kamu di atas rata-rata sedikit. Maaf, aku bukan dosen killer, yang pelit memberi nilai bagus kepada mahasiswanya.

Menurut teori reikarnasi (orang ingkar diberi asi atau lahir kembali), bahwa orang seperti Panglima GAM, YM Muallim Muzakkir Manaf pada kehidupan sebelum sesi ini adalah nyaris sempurna kebaikannya. Sehingga sekarang beliau menuai hasilnya hidup dalam surga. Tampan, kaya, mulia, bertahta dan banyak bidadari melayaninya.

Panggung sandiwara kehidupanmu bagian penting dan mendebarkan. Setelah engkau perempuan yang wujud, penting juga kamu memiliki “nama” yang menuntunku pada kesejatianmu.

Petunjuknya, baca sejarah, kenali tokohnya, kuasai locusnya dan ziarahi makamnya karena hakikat ziarah kubur adalah untuk mengetahui sejarah dalam pencarian mengenal diri.

Kaum shufi sering mengulang-ulang kalimat, “Siapa mengenal dirinya, maka mengenal Tuhannya.” Tegasnya, siapa yang ingin mengetahui harga dirinya, maka harus mengenal dirinya dengan mengetahui ayah, ibu, kakek, indatu dan nenek moyangnya serta perannya dalam sejarah membangun peradaban dunia.

Selanjutnya temukan gen mereka baik terlahir maupun syariat mengalir dalam tubuh dan jiwamu.

Bersabarlah! Terburu-buru itu syetan. Semua perlu proses. Hanya masalahnya akupun belum tahu diri (tauhid), bagaimana aku bisa mengenal dirimu, apalagi mencintaimu. Please, beri aku waktu untuk belajar, duhai Tuhanku!

(Mendale, 3 Maret 2020)

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.