
Takengon-LintasGayo.co : Salah seorang pengepul ikan di kawasan Sakatan Toweren dan Rawe, Karimi mengatakan bahwa sejak sebulan terakhir harga ikan primadona danau Lut Tawar, Depik (Rasbora tawarensis) tetap tinggi.
“Dalam sebulan terakhir harga tetap tinggi, tidak turun dari kisaran 100 ribu Rupiah per bambu (1 bambu = 2 liter) yang kita beli dari nelayan,” kata Karimi, Sabtu 12 Desember 2015 di Takengon.
Dengan harga beli sebesar 100 ribu Rupiah per bambu, Karimi mengaku bisa menjual kembali kepada pembeli seharga 120 ribu per bambu. “Biasanya masyarakat tidak membeli satu bambu, melainkan mereka per kal (kal adalah istilah takaran dalam bahasa Gayo, 4 kal = 1 bambu), harga per kal nya sebesar 30 ribu rupiah,” terang Karimi.
Pemuda yang kini masih berstatus sebagai mahasiswa jurusan Teknik Informatika, Universitas Gajah Putih (UGP) ini menambahkan, mahalnya harga ikan depik saat ini dikarenakan susahnya para nelayan untuk menangkap ikan yang merupakan ikan endemik (asli) di danau kebanggaan masyarakat Gayo itu.
“Mungkin karena populasinya juga sudah berkurang. Makanya nelayan sangat susah menangkap dalam jumlah yang berlimpah.,” ucapnya.
Karimi menambahkan, setiap hari dirinya membeli dari nelayan di kawasan Sakatan Toweren dan Rawe, Kecamatan Lut Tawar Kabupaten Aceh Tengah. Setiap hari pula, dia menjual hasil tangkapan dari nelayan tersebut ke Kabupaten Bener Meriah.
“Biasanya saya berangkat Pukul 10.00 pagi dan pulang pukul 17.00 Wib sore,” tandas Karimi.
(Darmawan Masri)





