Syariah Islam Menjamin Kesejahteraan Ibu dan Anak

oleh
Ilsutrasi : Santri-santri TPQ sedang belajar mengaji Al-Qur'an. (Ist)

Aswani*

AswaniMenapaki pertengahan tahun 20015 nampaknya masih belum membawa harapan  baru bagi masyarakat Indonesia. Berbagai persoalan masih terus bermunculan di seluruh aspek kehidupan baik  ekonomi,  politik,  budaya dan lain-lainnya. Di bidang ekonomi sekalipun pemerintah  mengklaim ada perbaikan namun realitanya justru bicara lain. kemiskinan dan tingginya tingkat pengangguran menjadi potret kehidupan mayoritas  masyarakat, sementara praktek korupsi juga kian membudaya.

Bidang sosial – budaya  pun tak kalah buramnya, berbagai komplik horizontal dan vertical terus terjadi. Kriminalitas kian meraja rela tanpa ada satu kekuatan hukum pun yang bisa mencegahnya, kondisi ini diperparah dengan datangnya berbagai bencana yang terus mendera tanpa henti, krisis moral malah terjadi  di hampir semua lini. Pergaulan bebas, pornografi – pornoaksi, perilaku sex menyimpang dan perilaku amoral lainya justru tumbuh subur tak terkendali.

Dilain pihak, para penguasa dan politisi lainya seolah tak berdaya menghadapi semua keadaan ini. Secara politik, mereka di kungkung ketidak berdayaan menghadapi tekanan asing yang memaksa mereka menjadi gharimin (penghutang)  dan pengobral asset-aset milik  rakyat .

Potret Buram Masyarakat Kita!
Bagi orang yang memiliki kejernihan berpikir, keadaan ini tentu membuat miris . Betapa tidak? Munculnya berbagai fenomena mengerikan ini menunjukan sedemikian rusaknya masyarakat kita, hingga nyaris tidak ada lagi nilai-nilai luhur yang mewarnai kehidupan mereka. Ketentraman, kemakmuran, dan kebahagian hakiki yang merupakan indikator kesejateraan pun  menjadi hal yang jauh dari jangkauan. Yang nampak justru potret kemiskinan, keresahan dan ketidak amanan. Setiap orang dipaksa untuk melakukan apapun untuk bisa survive, sebagian akhir pencapaian idealisme dan tak peduli lagi halal haram. Mereka berdalih “mencari yang haram saja susah, apalagi halal”. Mereka yang idealis harus siap ‘miskin’ dan tersisih. Keluarga – keluarga yang menghendaki ‘kebersihan’ pun baik dari sisi akidah, akhlak  maupun pelaksanaan aturan-aturan syariah lainya harus siap menghadapi buah simalakama. Menarik diri dari kehidupan sosial secara total (ber-uzlah mengasingkan diri)- tidaklah mungkin-, atau terpaksa hidup dalam kondisi dimana energi kemaksiatan begitu dominan dan kuat menguncang kehidupan mereka. Mereka akhirnya harus hidup dalam kondisi serba dilematis, harus berpikir bagaimana menyelamatkan keluarga utamanya anak-anak dari ancaman kerusakan akidah dan moral yang menghancurkan.

Para ibu, tentu tidak lepas dari kondisi  menyakitkan ini. Bahkan pada kondisi tertentu mereka seakan harus memikul beban ganda, mereka dituntut menjadi benteng keluarga, menjaga anak-anak dan mengurus rumah tangga. Tapi disisi lain, merekapun terbebani tanggung jawab  ‘menyelamatkan’ kondisi ekonomi keluarga dengan cara ikut bekerja mencari nafkah tambahan, atau bahkan harus ‘menggantikan’ posisi bapak yang karena imbas krisis ekonomi, terpaksa dirumahkan oleh perusahaan atau kantor tempatnya bekerja. Dampak lanjutannya, struktur keluargapun mulai goyah. keluarga kian kehilangan fungsinya. Tak lagi menjadi rumah ideal tempat berlindung  menggemblang kepribadian Islam mereka. Anak-anak pun tumbuh tanpa bimbingan orang tua, terutama ibu, karena ibu mereka hampir setiap hari harus keluar rumah. Televisi dan jalanan lantas menjadi ibu penganti bagi mereka. Tak sedikit pula anak-anak yang terpaksa harus memikul beban ekonomi dengan bekerja. Lalu lahirlah persoalan – persoalan krusial lainnya; keluarga yang rapuh dan rentan perceraian, anak-anak bermasalah yang kehilangan masa depan, termasuk kriminalitas menyangkut perempuan dan anak.

Inilah potret kita, potret buram umat Islam hari ini! Umat, yang oleh Allah SWT, dzat yang Maha Benar, disifati dengan predikat ‘ “khoyru ummah”, umat pilihan, unggul, terbaik, the best, teryata tak lebih dari umat yang bermoral rendah, bodoh, miski,n kriminal, penakut, dan predikat-predikat memalukan sekaligus memilukan. Ironisnya, fakta-fakta inipun menjadi semacam citra diri yang kuat melekat pada umat Islam diseluruh dunia.

Sekularisme Menjarakkan Orang dari Agama
Bahwa umat islam bodoh, miskin, kriminal, bermoral rendah dan berpredikat buruk lainnya, jelas bukan merupakan hakikat citra diri umat islam . Hakekat umat Islam adalah menjadi yang terbaik. Terlebih sepanjang sejarah peradapan manusia, umat islam terbukti mampu bangkit menjadi umat nomor satu dan menjadi pioner peradaban manusia. Selama belasan abad pula umat Islam berhasil memimpin dunia menuju ketinggian martabat kemanusiaan dengan menghapuskan budaya jahiliyah yang primitive semacam paganisme atas materi, menuju cahaya hidayah  dan kebahagiaan hakiki melalui dakwah ila al-khoyr (ideology Islam) dan penerapan aturan Sang Pencipta, Allah SWT. Aturan sesuai  dengan fitrah serta memuaskan akal manusia. Yang pada akhirnya memberikan ketentraman bagi umat manusia manapun dan dimanapun- baik laki-laki maupun perempuan, kaya ataupun miskin, semuanya akan merasakanya. Hingga sepanjang masa itu, Umat Islam umat Islam dan seluruh manusia bisa merasakan hidup sejahtera – lahir dan bathin dalam naugan Islam, din yang memang diturunkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh manusia.

Persoalanya adalah, hari ini umat islam tidak lagi hidup dalam habitatnya yang asli, mereka hidup dalam habitat atau system yang jauh dari nilai-nilai ilahiyah, yakni akidah dan aturan-aturan pencipta. Sistem yang mengungkung umat manusia secara keseluruhan adalah system kapitalis sekuler yang menolak tegas campur tangan agama dalam kehidupan ( fashl ad-din ‘al-hayah). Artinya, system ini menolak hak prerogative Allah SWT sebagai pencipta manusia dan kehidupan untuk mengatur ciptan-Nya, karena menurut mereka, Tuhan hanya lah pembuat jam (watch  maker), bahkan ada yang mengatakan, Tuhan telah mati.

Kapitalis adalah salah satu system kehidupan ‘hasil karya manusia’  yang lahir dari konsep ini. Sebagai hasil karya manusia, sangat wajar jika sistem ini mengandung banyak cacat dan kelemahan. Karena sejenius apapun  manusia tidak akan mampu menjangkau hakikat apa yang terbaik bagi diri dan kehidupanya, terlebih apa yang terbaik untuk manusia dan kehidupan seluruhnya. Bahwa kapitalisme telah melahirkan sistem ekonomi yang eksploitatif, system politik yang oportunistik, sistem sosial dan budaya .

Islam menjamin sejahtera!
Berbeda dengan kapitalisme. Islam adalah sistem yang manusiawi, sesuai dengan fitrah manusia secara keseluruhan. Hal ini karena islam sebagai aturan kehidupan yang datang dari Allah Swt, dzat yang telah menciptakan manusia, Yang Maha Tahu akan ciptaanya dan karenanya aturan-aturanya pun pasti sempurna dan bias menjadi solusi bagi setiap permasalahan manusia secara menyeluruh, tuntas dan paripurna Disamping itu, Islam tidak mengelompokan permasalahan yang dihadapi manusia semata-mata sebagai permasalahan perempuan atau permasalahan laki-laki , permasalahan ekonomi, atau permasalahan politik, tetapi seluruhnya dianggap sebagai perrmasalahan manusia. Dengan demikian setiap penyelesaian persoalan harus dipandang secara integral. Dengan menjadikan aturan Islam sebagai solusi atas dasar ke imanan kepada Allah tadi, dipastikan akan menghantarkan manusia siapapun tanpa kecuali.[Jam]

*Ibu rumah tangga di Bener Meriah

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.