Guru Betulan dan Guru Kebetulan

oleh

Oleh Kamaluddin, S.Pd.I*

Kamaluddin_SDITSebelum membahas dua tipe guru ini menurut anda adakah guru kebetulan?, dan apa perbedaan guru kebetulan dengan guru yang betulan?. Guru yang pertama, tipe guru “betulan” selalu profesional dalam bekerja. Guru tipe ini masuk jurusan keguruan bukan karena jurusan itu merupakan jurusan terfavorit atau karena tidak diterima di jurusan lain, namun mereka benar-benar ingin meningkatkan dan mengarahkan skill mereka untuk menjadi guru.

Guru betulan ini dalam buku Munif Chatif disebut “gurunya manusia”. Guru betulan bisa dilihat dari cara mengajar mereka saat berada di sekolah. Mereka mengajar dengan penuh keikhlasan target dan tujuan mereka bukan hanya sekedar selesai materi dan diakhir bulan gajian namun lebih dari itu seorang guru baginya harus memiliki target siswanya mampu memahami materi dengan baik dan guru betulan bersedia meluangkan waktu mereka untuk selalu belajar dan meningkatkan kemampuan karena memang profesi guru adalah profesi yang tidak boleh berhenti belajar. Guru yang baik juga adalah guru yang mau meng-introspeksi diri, cara mengajar mereka jika siswa tidak bisa memahami apa yang mereka sampaikan.

Ada juga fenomena lain yang sebenarnya juga dapat mempengaruhi anak selain guru yang itu orang tua mereka. Banyak anak juga ketika disekolah mendapat perlakuan baik dari gurunya namun saat dirumah malah mendapatkan kekerasan secara verbal dari ketidak tahuan orang tua. Salah satu contohnya orang tua terlalu banyak menuntut anak, saat anak tidak bisa melakukan sesuatu yang dilakukan teman-temannya yang lain kerap kali orang tua membandingkan anak, contohnya “membaca saja belum bisa, kawan-kawanmu si A masih kelas satu sudah bisa, dasar anak bodoh” perkataan sejenis ini adalah kekerasan verbal yang kerap didapatkan anak di rumah atau sebaliknya mungkin guru yang melakukan kekerasan verbal terhadap anak (Nurhaida, Staf Bahasa dan Sastra Balai bahasa Banda Aceh).

Guru betulan adalah guru yang selalu berkata positif, tidak memojokkan anak saat marah. Cobalah untuk selalu belajar berkata positif mulai dari diri sendiri, disaat anda marah mungkin lebih baik diam jika memang tidak bisa berkata positif dari pada akhirnya kata-kata mencibir dan melabeli anak dengan label yang menjatuhkan anak dan membuat anak merasa tidak berdaya, sehingga anak merasakan ia sebagai anak yang tidak  memiliki kemampuan yang sama dengan teman-temannya. Sebagai ciri dari guru betulan selalu berkata positif meski anak tidak mampu memahami apa yang disampaikan guru, namun coba cari akar permasalahannya.

Guru yang kedua  adalah tipe guru “Kebetulan”,  yakni guru yang kebetulan memiliki profesi guru karena tidak ada lagi profesi lain yang menerimanya semasa di perguruan tinggi memilih program study menjadi guru karena ikut-ikutan atau lebih parah lagi dia memilih menjadi guru karena tidak lulus dijurusan lain. Bisakah guru kebetulan  ini menjadi guru yang baik dan profesional?, jawabannya tentu bisa” jika memang mereka mau belajar dan selalu ikhlas.

Ikhlas bukan berarti mereka mau bekerja tidak dibayar namun ikhlas adalah kesungguhan mereka dalam mengerjakan tugas yang diberikan dan upah itu adalah hasil kerja mereka walau Cuma sedikit. Munifh Chatif dalam bukunya “Gurunya Manusia” mengatakan sebenarnya tidak ada guru yang tidak mampu mengajar jika mereka mau belajar dan terus belajar karena guru bukanlah para Sufi yang langsung mendapatkan ilmu dari tuhan (Ilmu Ladunni).

Sekali lagi kami katakan profesi guru adalah profesi yang tidak bisa berhenti dari belajar jika guru berhenti maka pola ajarnya akan stagnan (jalan ditempat).

Guru kebetulan adalah kebalikan dari guru betulan jika guru betulan selalu bekerja ikhlas dan profesional, guru kebetulan bekerja hanya mengejar materi selesai masalah siswa paham atau tidak itu bukan urusannya Munift Chatib menyebut guru tipe ini dengan Guru Robot atau Guru Matrialistis. Guru kebetulan kerap kali memojokkan siswa saat marah atau memberi label kepada siswa dengan label yang sangat buruk seperti “tukang terlambat, tukang tendang, tukang rusuh, dasar bodoh dan yang lainnya”.

Jika anda ingin tahu guru “Betulan” dan guru “Kebetulan”  datanglah ke sekolah-sekolah anak anda dan perhatikan dengan teliti dari jauh yang mana guru betulan dan guru kebetulan.

*Pemerhati pendidikan di Aceh Tengah

Comments

comments