Takengon-LintasGayo.co: Kabupaten Aceh Tengah akan segera memiliki gedung Islamic Centre (IC) bertaraf internasional di area seluas 20 hektare. Direncanakan, lokasi akan berdampingan dengan Kampus STAIN Gajah Putih di Takengon, dengan dana pembangunan berasal dari bantuan negara penghasil migas terbesar dunia itu, Kerajaan Arab Saudi.
Hal itu disampaikan oleh Syeikh DR Majid bin Abdullah Al-Askar, salah seorang imam besar Masjidil Haram yang juga dosen pascasarjana Ushul Fiqh Quro’ University, serta anggota Komisi Fatwa Arab Saudi. Dikatakan, sumber dana akan diupayakan dari lembaga-lembaga donor di Arab Saudi, sehingga rencana tersebut dapat diwujudkan.
Syeikh Majid menawarkan bantuan saat peresemian Sekolah Dasar Islam Terpadu (SD-IT) di Lemah Burbana, Takengon, oleh Bupati Aceh Tengah, Ir H Nasaruddin MM pada Selasa (5/8). Kedatangannya ke Takengon atas undangan Ketua Yayasan Almanar, H Abdul Hamid Usman.
Dalam paparannya, Syeikh Majid menyatakan area Islamic Center harus berada di lahan seluas, minimal 20 hektare dengan status tanah jelas dan tidak bermasalah. Sedangkan Bupati Nasaruddin, Rabu (6/8) ketika dikonfirmasi mengatakan pihaknya sangat mendukung dan akan menindaklanjutinya.
Nasarudidn menjelaskan saat bertemu Syeikh Majid sehari sebelumnya, pihaknya juga diundang untuk bertemu dengan lembaga-lambaga donor maupun pejabat Kementerian Pendidikan Arab Saudi. “Bukan hanya rencana pembangunan Islamic Center, tetapi juga kuliah jarak jauh Arab Saudi di Takengon,” jelas Nasaruddin.
Dia mengatakan kemungkinan Islamic Center dibangun berdampingan dengan kampus STAIN Gajah Putih Takengon di Kecamatan Silih Nara, namun untuk kepastiannya akan dibahas lebih lanjut. “Intinya kita sambut baik tawaran itu dan akan terus kita ikuti, sehingga niat baik untuk pendirian Islamic Center di Takengon dapat terwujud,” kata Nasaruddin.
Sementara, setelah peresmian Sekolah Dasar Islam Terpadu (SD-IT), para tamu dan undangan mengikuti tausyiah dari Syeikh Majid di Masjid Agung Ruhama Takengon. Dalam ceramahnya, dia lebih banyak memfokuskan tentang pentingnya silaturrahmi.
Saat menyampaikan ceramah, Syeikh Majid tidak menggunakan bahasa Inggris ataupun Indonesia, melainkan bahasa Arab. Seorang penterjemah menjelaskan setiap kalimat yang disampaikan Syeikh Majid ke dalam bahasa Indonesia.
Dia menegaskan, perlunya menyambung kembali tali silaturrahmi, jika sempat terputus. “Dalam Islam, kita dituntut berbuat baik kepada siapa saja, sehingga kita wajib menjalin kembali tali silaturahmi kepada siapa saja”, ujar Syeikh.
Dia juga memberi peringatan tentang bahaya memutus tali silaturrahmi. “Rasulullah SAW pernah mengatakan bahwa jika seseorang memutuskan tali silaturahmi, maka waktu dan rezekinya di dunia tidak akan diberkati”, ingat Syeikh.
“Bahkan Allah mempercepat azab bagi seseorang di yaumil mahsyar”, jelas dia. Di hadapan seratusan jemaah, dia juga menyampaikan tausiyah tentang menuntut ilmu, kekeluargaan dan pendidikan. Disamping memberikan tausiyah melalui seorang penerjemah, Syeikh Majid juga mengadakan dialog melalui sesi tanya-jawab.[]serambi





