Snug Gayo Peringkat 6 di Parade Musik Tradisi se-Indonesia di TMII

oleh
Snug Gayo saat terima tropi di TMII Jakarta. (Zuhri)
Snug Gayo saat terima tropi di TMII Jakarta. (Zuhri Sinatra)

Jakarta – LintasGayo : Klop (group-red) Didong Snug Gayo yang digawangi Nazri Adlani dan kawan-kawan mampu memukau para penonton dalam acara “Parade Musik Tradisi”  yang diselenggarakan oleh Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Minggu 8 September 2013.

Kepiawaian mereka dalam mengolah gerak tubuh, tepuk Didong yang dikolaborasikan dengan Suling dan Rapai seakan menghipnotis penonton yang memadati Panggung Candi Bentar Parkir Utara TMII tersebut. Berkali-kali terdengar riuh tepuk tangan penonton menyaksikan kolaborasi indah yang mereka mainkan.

Acara “Parade Musik Tradisi” ini berlangsung Minggu, 8 September 2013 dan diikuti peserta dari seluruh provinsi di Indonesia.

 Snug Gayo yang mewakili provinsi Aceh mendapat tempat yang istimewa di hati dewan juri dan berhasil meraih posisi 6 terbaik dari 33 provinsi yang ambil bagian pada even tersebut.

Di even “Parade Musik Tradisi” tersebut, pihak panitia penyelenggara mengambil 6 penataan musik terbaik, dari enam yang terbaik, panitia mengambil 1 penataan musik yang paling baik, sayang posisi ini berhasil direbut oleh peserta dari Jawa Timur.

Menurut Nazri, koordinator klop Didong pementasan mereka dalam acara  parade musik tersebut, masih belum maksimal, sebab persiapan yang dilakukan hanya dua hari, ditambah lagi sarana pendukung untuk pementasan yang terbatas, namun ia cukup puas dengan pencapaian mereka, karena meraih satu posisi terbaik.

“Kami melakukan persiapan hanya tiga hari, latihan sebelum pementasan hanya dua hari, kostum yang akan kami pakai pada saat pementasan belum juga kami dapatkan, namun dengan semangat dan kerjasama semua masalah tersebut dapat kami atasi” kata Nazri.

Berbeda dengan Nazri, Agustia Feriandi Nasir pelatih Snug Gayo merasa sejak awal sudah yakin kalau anak-anak didiknya akan mendapat posisi terbaik, menurutnya penampilan yang mereka suguhkan tidak satupun melanggar ketentuan yang sudah ditetapkan oleh pihak panitia penyelenggara.

 “Dari awal saya sudah optimis, mereka masuk kategori terbaik, dan pasti masuk kriteria penilaian, karena dari daerah lain menggunakan banyak alat musik percusi dan alat-alat musik khas daerahnya yang selama ini sudah diketahui secara umum oleh masyarakat, akan tetapi Snug Gayo yang hanya memainkan 1 gegedem, 1 seruling dan 7 orang penepok didong, ini menjadi unik untuk disuguhkan kepada penonton dan dewan juri. Apalagi didong jarang terdengar secara luas diseluruh Indonesia. Kelak kita akan padukan antara didong dengan saman dan alat musik etnik Gayo lainnya,” ujar Agus.

Sementara, Agam Ilyas,  pembina Snug Gayo berharap jangan pernah merasa puas dengan pencapaian yang ada, ia berharap ke depan Nazri dan kawan-kawan bisa lebih giat, lebih kreatif, sehingga dapat meraih posisi yang paling baik di masa yang akan datang.

Snug Gayo berfoto bersama di TMII. (Zuhri Sinatra)
Snug Gayo berfoto bersama di TMII. (Zuhri Sinatra)

Dalami, Selami dan Mainkan Didong

Salah seorang anggota dewan juri Parade Musik Tradisi itu, Annusirwan yang diminta keterangan terkait penampilan Snug Gayo mengatakan bahwa musik dengan gerak tubuh itu kaya sekali, ini terbukti dengan improvisasi yang dilakukan oleh peserta dari Aceh.

“Saya fikir ini kreatif, dan inovatif, tidak mudah melakukan improvisasi dengan gerak tubuh” ujarnya.

Menurut Dosen Institut Kesenian Jakarta ini, para pemain masih kurang percaya diri, sehingga aura penampilan mereka belum keluar, tapi secara keseluruhan sudah mantap.

“ Saran saya, dalami Didong itu seperti apa, resapi, mainkan,” katanya lagi.

Indonesia kaya akan tradisi, setiap daerah memiliki ciri khas tersendiri, dekati tradisi tersebut, karena kita berasal dari tradisi, orang dikenal karena tradisi dan budayanya”. Demikian Annusirwan. (Zuhri Sinatra | kha).

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.