Ilmu di Balik Takdir dalam Gempa Gayo

oleh

Oleh. Drs. Jamhuri Ungel, MA

jAMHURI

PERTANYAAN yang tidak habis-habisnya dari semua orang yang melihat secara dekat gempa bumi yang terjadi di Gayo (Kab. Bener Meriah dan Aceh Tengah), dimana semua rumah ibadah (utamanya Mesjid) rusak parah tidak bisa lagi digunakan. Ada yang hancur rata dengan tanah dan ada juga yang tidak rata dengan tanah namun tidak bisa lagi digunakan. Berbeda halnya ketika tsunami melanda Aceh diantara reruntuhan bangunan yang porak poranda masih ada mesjid yang berdiri tegak seperti di Ulee Lhe dan Lam puuk Banda Aceh.

Mesjid yang tegak berdiri di tengah reruntuhan bangunan tsunami bukannya tidak rusak sama sekali, tapi pada bagian-bagian tertentu juga rusak dan bagian lainnya masih bagus. Menurut mereka yang ahli di bidang konstruksi kalau tiang-tiang dari satu bangunan tidak pecah atau patah maka bangunan tersebut masih bisa digunakan tapi kalau tiang dari bangunan tersebut sudah pecak atau patah maka bangunan tersebut harus dirubuhkan dan diganti dengan bangunan lain.

Pemahaman lain dari sebagian orang pada saat terjadinya tsunami bahwa Tuhan menjaga rumah-Nya dari bencana dan itu dijadikan sebagai bukti kekuasaan Tuhan dalam menjaga dan melindungi rumah-Nya, namun ketika terjadi Gampa di Gayo semua Rumah-Nya rusak tidak bisa digunakan lagi. Orang-orang tidak lagi katakan bahwa Tuhan menjaga rumah-Nya di celah-celah reruntuhan rumah penduduk. Dalam hal ini juga manusia tidak mau berhenti berspekulasi dengan mengatakan bahwa bencana gempa ini terjadi sebagai peringatan bahwa Tuhan merusak rumah-Nya karena orang-orang tidak mau lagi berjamaah di rumah-Nya.

Sikap manusia terhadap bencana alam seperti telah disebutkan mengandung nilai kebenaran,  bahwa Tuhan memiliki kekuasaan untuk menjaga apa yang dikehendaki untuk tidak dirusak dan Tuhan juga punya kehendak untuk merusak apa yang dikehendaki untuk dirusak, seperti halnya mesjid dan bangunan yang ada ketika terjadi gempa. Namun tidaklah sesederhana itu kita dapat mengatakan bahwa semua berjalan sesuai dengan takdir-Nya dengan tidak mengikut sertakan kekuasaan manusia di dalam bencana tersebut.

Gempa bumi, longsor, banjir bandang, angin topan dan lain-lain kejadian itu adalah takdir Tuhan yang pasti akan terjadi dan manusia bisa mengetahui itu akan terjadi  hanya saja manusia tidak tahu secara pasti kapan itu terjadi. Boleh jadi dalam jangka waktu yang sering atau dalam waktu yang lama, sehingga sering kita mendengar ungkapan orang tua dan juga ilmuan mengatakan bahwa gempa bumi seperti ini pernah terjadi pada sepuluh, dua puluh atau seratus tahun yang lalu. Tsunami yang terjadi seperti yang telah melanda Aceh adalah kejadian alam yang tertadi dalam priode ratusan tahun, banjir bandang yang terjadi disebabkan karena tampunga air yang ada tidak lagi memadai sehingga air yang ada dipergununan tersebut melimpah, demikian juga dengan kejadian-kejadian lain.

Ketika semua kejadian merupakan rutinitas alam dan itulah yang dikatakan dalam agama dan keyakinan kita dengan takdir, maka manusia harus mampu membaca dan mengetahuinya untuk selanjutnya mempersiapkan diri guna menghadapi takdir tersebut. Mereka yang mempunyai ilmu pengetahuan mengatakan tentang banyaknya bangunan Mesjid dan rumah masyarakat yang rusak akibat gempa seperti di Yogyakarta dan  Gayo lebih disebabkan bahan (material) bangunan yang tidak sesuai dengan ilmu Tuhan yang diberikan kepada manusia, seharusnya manusia tidak menggunakan pasir dan batu dari letusan gurung berapi karena pasir dan batu tersebut telah pernah terbakar dengan panas yang sangat tinggi sehingga bahan tersebut sangat mudah hancur. Kalau juga harus menggunakan bahan (material) tersebut maka harus menyampurnya dengan bahan (materal) lain yang tidak pernah mengalami pembakaran yang sangat panas.

Demikian juga dengan adukan campuran semen, kerikil dan pasir serta standar besi yang digunakan haruslah sesuai dengan ketentuan ilmu pengetahuan yang telah diuji kebenarannya. Karena itu untuk membangun kembali apa yang telah hancur akibat gempa haruslah disesuaikan dengan takdir dari Tuhan dan ilmu pengetahuan manusia yang telah diberikan Tuhan.

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *