Ketua BRA dan Rektor Unhan Bahas Penguatan Kerja Sama Penyelesaian Konflik Aceh

oleh

JAKARTA-LintasGAYO.co : Ketua Badan Reintegrasi Aceh (BRA), Jamaluddin SH, M.Kn, melakukan pertemuan strategis dengan Rektor Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI), Letnan Jenderal TNI (Purn.) Anton Nugroho, M.M., D.S., M.A., di Jakarta.

Pertemuan tersebut turut didampingi Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Unhan, Mayor Jenderal TNI Dr. Totok Imam Santoso, S.Sos., serta sejumlah wakil rektor Unhan lainnya.

Jamaluddin mengatakan, pertemuan tersebut menjadi langkah awal untuk membuka dan memperkuat kerja sama antara BRA dan Unhan dalam mendukung penyelesaian konflik Aceh secara damai, menyeluruh, berkelanjutan, dan bermartabat dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Pertemuan ini merupakan langkah awal untuk membangun kerja sama yang lebih konkret antara BRA dan Unhan, terutama dalam bidang pendidikan, resolusi konflik, reintegrasi, serta penyusunan arah kebijakan penyelesaian konflik Aceh ke depan,” kata Jamaluddin.

Menurutnya, terdapat dua poin penting yang menjadi hasil pembahasan dalam pertemuan tersebut.

Pertama, Unhan membuka ruang kerja sama pendidikan bagi anak-anak yang terdampak konflik Aceh, termasuk anak mantan kombatan, mantan tahanan politik/narapidana politik (tapol/napol), serta masyarakat yang menjadi korban konflik masa lalu.

Jamaluddin menjelaskan, kesempatan tersebut tetap dilaksanakan sesuai dengan ketentuan, persyaratan, dan mekanisme penerimaan mahasiswa yang berlaku di Unhan.

Ia menilai pendidikan memiliki posisi penting dalam proses resolusi konflik dan reintegrasi sosial. Akses pendidikan bagi generasi muda dari keluarga dan kelompok terdampak konflik diharapkan dapat meningkatkan kapasitas mereka sekaligus membuka kesempatan untuk membangun masa depan yang lebih baik.

“Pendidikan dapat menjadi jembatan untuk memperkuat rekonsiliasi, membangun kepercayaan, dan melahirkan generasi Aceh yang memiliki wawasan kebangsaan serta mampu menjadi bagian dari pembangunan perdamaian jangka panjang,” ujarnya.

Kedua, kata Jamaluddin, Unhan diharapkan dapat memberikan dukungan akademik dan kajian strategis dalam penyusunan Roadmap Pelaksanaan Penyelesaian Konflik Aceh secara Damai, Menyeluruh, Berkelanjutan, dan Bermartabat.

Roadmap tersebut nantinya diharapkan menjadi salah satu instrumen strategis bagi pemerintah dan para pemangku kepentingan dalam memastikan proses penyelesaian konflik Aceh berjalan secara terarah, terukur, dan berkelanjutan.

“Dukungan akademik dari Unhan akan sangat penting, terutama dalam memberikan perspektif pertahanan dan ketahanan nasional sehingga roadmap penyelesaian konflik Aceh dapat disusun secara komprehensif dan tetap berada dalam bingkai NKRI,” kata Jamaluddin.

Ia menegaskan, kerja sama BRA dan Unhan tidak semata-mata diarahkan untuk menyelesaikan persoalan masa lalu. Lebih jauh, kerja sama tersebut diharapkan mampu membangun masa depan Aceh melalui pendidikan, reintegrasi, pemberdayaan generasi muda, penguatan perdamaian, dan pembangunan sumber daya manusia.

Menurut Jamaluddin, perdamaian Aceh harus terus dirawat dan diperkuat dengan pendekatan yang menyeluruh. Pendidikan, rekonsiliasi, reintegrasi, pembangunan ekonomi, serta penguatan sumber daya manusia merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari keberlanjutan perdamaian.

“Perdamaian bukan hanya tentang mengakhiri konflik, tetapi juga tentang menghadirkan masa depan yang lebih baik bagi generasi yang lahir dari sejarah konflik tersebut,” tegasnya.

Jamaluddin berharap pertemuan dengan pimpinan Unhan tersebut dapat ditindaklanjuti dalam bentuk kerja sama yang lebih konkret dan terstruktur.

Ia menyebut, kolaborasi antara lembaga yang menangani reintegrasi di Aceh dengan institusi pendidikan pertahanan di tingkat nasional dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat perspektif kebangsaan sekaligus memastikan pengalaman konflik masa lalu menjadi pelajaran untuk membangun perdamaian yang lebih kokoh.

“Yang kita bangun bukan hanya bagaimana mengakhiri persoalan masa lalu, tetapi bagaimana memastikan generasi berikutnya tidak mewarisi konflik. Mereka harus mewarisi pendidikan, kesempatan, rekonsiliasi, dan masa depan yang lebih baik,” pungkas Jamaluddin.

[Fa]

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.