Oleh: Drs. Nopia Dorsain (Pengawas Madrasah Kabupaten Aceh Tengah)
Di muka bumi Allah Swt., tidak ada seorang pun yang pantas menyombongkan diri. Jabatan, gelar, penghargaan, dan berbagai bentuk pengakuan hanyalah titipan yang diberikan untuk waktu tertentu. Semua memiliki masa berlaku.
Hari ini seseorang dipuji dan dihormati, esok bisa jadi posisinya digantikan oleh orang lain. Yang abadi bukanlah kedudukan, melainkan nilai-nilai kebaikan yang ditanamkan dan diwariskan dalam kehidupan.
Dalam perspektif Kurikulum Berbasis Cinta, kerendahan hati bukan sekadar sikap pribadi, melainkan fondasi utama dalam mendidik dan memanusiakan manusia.
Guru, kepala madrasah, pengawas, maupun pemimpin pendidikan tidak diukur dari tingginya jabatan yang disandang, tetapi dari besarnya cinta, kepedulian, dan ketulusan yang diberikan kepada peserta didik, rekan kerja, serta masyarakat di sekitarnya.
Cinta mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki martabat yang sama di hadapan Allah Swt. Karena itu, tidak ada ruang bagi kesombongan dalam dunia pendidikan.
Ketika seseorang merasa paling hebat karena jabatan, pengalaman, atau prestasi yang dimiliki, sesungguhnya ia sedang menjauh dari hakikat cinta yang menumbuhkan empati, penghargaan, dan penghormatan kepada sesama.
Kurikulum Berbasis Cinta mengajak kita memandang setiap amanah sebagai sarana pengabdian, bukan kebanggaan. Jabatan adalah kesempatan untuk melayani, bukan untuk dilayani.
Penghargaan merupakan motivasi untuk semakin rendah hati, bukan alasan untuk merasa lebih tinggi dari orang lain. Sebab pada akhirnya, semua atribut duniawi akan ditinggalkan. Yang akan tetap hidup adalah jejak kasih, ketulusan, dan manfaat yang telah kita berikan kepada sesama.
Seorang pendidik yang menghayati nilai-nilai cinta akan menyadari bahwa keberhasilan yang diraihnya bukan semata-mata hasil kerja dirinya sendiri.
Di balik setiap capaian terdapat pertolongan Allah Swt., dukungan keluarga, bimbingan para guru, kerja sama rekan-rekan, serta kontribusi banyak pihak yang sering kali tidak terlihat. Kesadaran inilah yang melahirkan rasa syukur dan menjauhkan manusia dari keangkuhan.
Kerendahan hati juga melahirkan kemauan untuk terus belajar. Seseorang yang rendah hati tidak merasa paling benar atau paling tahu. Ia terbuka terhadap kritik, menerima masukan dengan lapang dada, dan menjadikan setiap pengalaman sebagai sarana memperbaiki diri.
Sikap inilah yang sangat dibutuhkan dalam implementasi Kurikulum Berbasis Cinta, karena pendidikan sejatinya adalah proses belajar yang berlangsung sepanjang hayat.
Oleh karena itu, marilah kita menjaga hati agar tetap rendah dalam setiap amanah yang diberikan. Ketika memperoleh jabatan, kita bersyukur. Ketika menerima penghargaan, kita semakin merunduk.
Ketika meraih keberhasilan, kita berbagi dan menginspirasi. Sebab cinta yang sejati tidak meninggikan diri, melainkan mengangkat martabat orang lain.
Harus disadari, bukan jabatan yang akan berbicara tentang siapa diri kita. Bukan pula penghargaan yang menjadi ukuran kemuliaan kita.
Yang akan menjadi saksi adalah seberapa besar cinta yang telah kita tebarkan, seberapa tulus kita melayani, dan seberapa banyak hati yang telah kita sentuh dengan kasih sayang.
Jabatan akan berakhir pada masanya. Penghargaan akan memudar oleh waktu. Namun cinta yang ditanamkan dengan ketulusan akan terus hidup, memberi manfaat, dan meninggalkan jejak kebaikan, bahkan ketika nama kita tidak lagi disebut oleh generasi yang datang kemudian. []





