Membaca ‘Matematika’ Tuhan dalam Syariat Qurban

oleh

Oleh: Zuhra Ruhmi, M.Pd

Bagi sebagian besar orang, matematika adalah dunia yang kaku. Ia adalah angka yang pasti, rumus mutlak, dan logika dingin yang menuntut kepastian. Satu ditambah satu harus selalu menjadi dua, dan pengurangan akan selalu menyisakan kehilangan. Namun, ketika kita memasuki gerbang Idul Adha dan bersinggungan dengan syariat qurban, logika matematika yang linier itu seolah runtuh. Di sana, kita diperkenalkan pada sebuah algoritma baru yang melampaui nalar manusia sebuah formula yang barangkali bisa kita sebut sebagai “Matematika Tuhan.”

Qurban, secara etimologis berasal dari kata qaruba yang berarti mendekat. Esensinya adalah vertical mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Namun, dalam eksekusi syariatnya, qurban menuntut manifestasi yang sangat horizontal dan matematis: penyembelihan, penimbangan, pembagian, dan kalkulasi porsi. Jika dibaca secara filosofis dan humanis, syariat ini bukan sekadar ritual tumpahan darah hewan, melainkan sebuah logika langit yang sedang ditatanan di bumi.

Salah satu aspek matematis yang paling menonjol dalam qurban adalah formula pembagian dagingnya. Fikih memberikan rekomendasi pembagian yang sangat sempurna, yaitu sepertiga untuk jatah konsumsi yang berkurban (shahibul qurban), sepertiga untuk dihadiahkan kepada kerabat atau tetangga baik kaya maupun miskin, dan sepertiga mutlak untuk fakir miskin.

Angka sepertiga ini bukan angka acak. Ini adalah sebuah persamaan matematika untuk menciptakan keseimbangan sosial. Manusia yang mengeluarkan modal untuk membeli hewan hanya diberi hak sepertiga, sementara dua pertiga sisanya harus dilepaskan ke ruang publik. Melalui pecahan sepertiga ini, Allah sedang mendidik manusia egois untuk memotong ego kepemilikannya.

Secara humanis, pecahan sepertiga ini memastikan bahwa pada hari itu, tidak ada sekat kelas sosial di atas piring makan. Seseorang yang sepanjang tahun mungkin tak mampu membeli satu ons daging, pada hari Idul Adha duduk menikmati menu yang sama dengan orang yang menyumbang sapi puluhan juta rupiah. Matematika qurban memangkas jarak sosial menjadi nol.

Secara matematis duniawi, membeli hewan qurban adalah operasi pengurangan. Isi dompet kita berkurang, tabungan kita menyusut. Namun, di sinilah letak indahnya keimanan: dalam Matematika Tuhan, pengurangan duniawi adalah penjumlahan ukhrawi, dan pembagian adalah perkalian.

Ketika kita membagikan daging qurban ke rumah-rumah yang jarang mengepulkan asap dapur, kita tidak sedang mengurangi harta kita. Kita sedang melipatgandakan nilai kemanusiaan kita. Rasa bahagia yang buncah dari seorang ibu yang menerima sekantong daging adalah variabel non-linear yang tidak bisa dihitung oleh kalkulator manapun, namun getarannya mampu mengubah struktur sosial menjadi lebih hangat dan aman.

Hal ini sejalan dengan konsep dasar zakat dan sedekah yang secara harfiah berarti “menyucikan” dan “menumbuhkan”. Hewan yang disembelih secara fisik memang mati dan berkurang populasinya di hari itu. Namun, secara makro-ekonomi dan spiritual, ia menumbuhkan siklus ekonomi peternak kecil di desa, mengalirkan protein ke tubuh anak-anak yang membutuhkan, dan menumbuhkan rasa cinta antar sesama manusia.

Allah tidak butuh angka-angka kuantitas seperti berat daging atau liter darah, melainkan variabel kualitas seperti keikhlasan dan ketulusan kemanusiaan yang masuk dalam kalkulasi-Nya.

Secara historis, qurban berakar dari peristiwa Ibrahim dan Ismail. Ketika Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih putra tunggal yang amat dicintainya, nalar matematika kemanusiaan kita terkejut. Bagaimana mungkin kasih sayang ditunjukkan lewat penyembelihan? Namun, peristiwa itu adalah teater filosofis tertinggi. Ismail di sana adalah simbol dari milik kita yang paling berharga, baik berupa harta, tahta, ego, maupun status sosial. Membaca matematika Tuhan dalam kisah ini adalah menyadari bahwa untuk mencapai derajat kemanusiaan yang agung, ada hal-hal yang harus kita “nol-kan” dari diri kita.

Manusia seringkali terjebak dalam rumus ketamakan bahwa diri mereka adalah apa yang mereka miliki. Jika harta berkurang, maka nilai diri dianggap berkurang. Qurban membalikkan rumus itu secara radikal: nilai diri kita justru ditentukan oleh seberapa banyak yang mampu kita lepaskan demi kebahagiaan orang lain.

Menyaksikan pelaksanaan qurban adalah menyaksikan bagaimana matematika merunduk takzim di hadapan kemanusiaan dan cinta. Angka-angka timbangan daging, jumlah kupon yang disebar, dan nominal harga hewan, semuanya melebur menjadi satu kata: Kepedulian.

Syariat qurban mengajari kita bahwa hidup ini tidak selalu tentang bagaimana kita mengumpulkan sisa, tetapi tentang bagaimana kita mengelola pecahan-pecahan berkah agar bisa dinikmati bersama. Pada akhirnya, “Matematika Tuhan” dalam qurban adalah sebuah undangan terbuka bagi kita semua untuk menjadi manusia yang lebih humanis, manusia yang sadar bahwa cara terbaik untuk menikmati rezeki adalah dengan menyebarkannya hingga tak bersisa bagi ego sendiri.

*Penulis adalah Guru Matematika di MTsN 4 Aceh Tengah dan MTsS Al Ummah

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.