Oleh : Unaysa Zakia Salsabila (Siswa MAS Ruhul Islam Anak Bangsa)
Kami sering disebut generasi masa depan. Generasi emas. Generasi digital. Generasi yang katanya akan membawa Indonesia menuju kemajuan besar.
Tapi semakin hari, kalimat itu terdengar seperti slogan yang diulang-ulang untuk seremoni, bukan sesuatu yang benar-benar dipersiapkan.
Sebab kalau memang kami dianggap masa depan, kenapa masa depan itu justru terlihat sedang ditinggalkan perlahan?
Kami, anak-anak Gen Z di daerah, tumbuh dengan mimpi yang sama seperti anak-anak di kota besar: ingin kuliah, ingin berkembang, ingin membanggakan orang tua, dan suatu hari ingin ikut membangun negeri ini.
Tapi mimpi itu sering terasa seperti lomba yang garis start-nya saja sudah berbeda. Ada yang berlari di jalan mulus, sementara kami bahkan masih sibuk mencari jalan keluar dari gelap.
Ketika isu pencabutan beasiswa muncul, yang panik bukan cuma mahasiswa. Anak SMA seperti kami ikut takut. Karena bagi sebagian besar anak daerah, beasiswa bukan “bonus pendidikan”.
Itu adalah satu-satunya pintu harapan. Banyak dari kami sadar, tanpa bantuan pendidikan, kuliah hanya akan jadi cita-cita yang dipajang di bio media sosial, bukan sesuatu yang benar-benar bisa diraih.
Orang sering bilang, “kalau mau sukses ya usaha.” Masalahnya, bagaimana kami bisa berlari cepat kalau fasilitas untuk tumbuh saja minim? Infrastruktur di wilayah tengah masih seperti hidup segan mati tak mau. Jalan rusak dianggap biasa. Akses pendidikan tertinggal dianggap normal.
Internet lemot seolah bukan masalah penting, padahal di zaman sekarang akses digital sama pentingnya dengan akses jalan.
Kami hidup di era ketika dunia bergerak dengan kecepatan teknologi, kecerdasan buatan, dan inovasi sains. Tapi di beberapa tempat, anak-anak masih harus bertarung dengan sinyal hanya untuk membuka materi pembelajaran.
Kami disuruh bersaing secara global, tapi alat untuk bertanding saja belum sepenuhnya diberikan.
Yang lebih menyakitkan adalah ketika daerah hanya ramai saat musim politik datang. Setelah itu, kami kembali jadi angka statistik.
Pembangunan lebih sering berputar di pusat kota, sementara wilayah tengah seperti dipaksa terbiasa dengan ketertinggalan. Seolah-olah mimpi anak daerah memang harus dibuat lebih kecil sejak awal.
Padahal Indonesia tidak akan maju kalau kemajuan hanya menumpuk di satu titik. Negeri ini terlalu luas untuk dibangun dengan cara yang timpang.
Ketika satu wilayah terus berkembang dan wilayah lain terus tertinggal, yang lahir bukan kemajuan bersama, tapi kesenjangan yang diwariskan.
Kami lelah mendengar kata “bonus demografi” kalau yang dipersiapkan hanya angka, bukan manusianya. Apa artinya generasi muda melimpah kalau pendidikan makin sulit dijangkau? Apa gunanya bicara Indonesia Emas kalau banyak anak muda bahkan bingung bagaimana membayar biaya kuliah beberapa tahun ke depan?
Jujur saja, yang paling menakutkan bagi Gen Z hari ini bukan sekadar persaingan kerja atau perkembangan teknologi. Tapi ketakutan bahwa negara tidak benar-benar hadir untuk memastikan kami punya kesempatan yang adil untuk tumbuh. Kami takut bekerja keras di tengah sistem yang tidak memberi ruang cukup untuk kami naik.
Kami bukan generasi yang anti kritik. Kami juga bukan generasi yang maunya dimanjakan. Kami paham bahwa membangun negara tidak mudah. Tapi setidaknya, jangan cabut harapan kami satu per satu.
Jangan buat pendidikan terasa semakin jauh dari anak-anak daerah. Jangan biarkan wilayah tengah terus hidup dalam mode “bertahan”, sementara daerah lain sudah bicara lompatan masa depan.
Karena kalau hari ini beasiswa mulai gelap, pembangunan mati suri, dan akses pendidikan tetap timpang, lalu sebenarnya kami sedang dipersiapkan untuk masa depan yang seperti apa? Masa depan yang cerah? Atau masa depan di mana kami hanya diminta bertahan sendirian?
Kami hanya ingin didengar bahwa di balik data pertumbuhan dan pidato pembangunan, ada anak-anak muda yang sedang cemas memikirkan hidupnya beberapa tahun ke depan. Ada generasi yang ingin maju, tapi takut langkahnya dipatahkan sebelum benar-benar dimulai.
Dan kalau suatu hari nanti Gen Z dianggap gagal membawa perubahan, mungkin negara juga perlu bercermin: apakah generasi ini benar-benar dipersiapkan untuk menang, atau sejak awal hanya dibiarkan berjuang sendiri? []





