Petuah untuk Haili Yoga, Pasal 29: Jangan Pernah Katakan, “Kehilangan Satu Wanita Bukan Kiamat”

oleh

Oleh : Fauzan Azima*

Di sebuah negeri yang warganya gemar memberi nasihat tanpa diminta, hiduplah seorang lelaki yang merasa dirinya bijaksana karena pernah patah hati… dua kali. Ia lalu berkeliling, membagi petuah seolah-olah ia baru turun dari gunung membawa wahyu.

Suatu hari, di hadapan kawan-kawannya yang sedang murung karena ditinggal kekasih, ia berkata dengan penuh percaya diri, “Tenang saja, kehilangan satu wanita bukan kiamat.” Kalimat itu meluncur ringan, seperti daun jatuh—tanpa beban, tanpa dosa, tanpa berpikir panjang.

Temannya yang baru saja ditinggalkan hanya menatap kosong. Bukan karena tercerahkan, tapi karena sedang menghitung: berapa banyak kenangan, waktu, dan harapan yang ikut pergi bersama satu orang itu. Ternyata, bagi yang kehilangan, satu orang bisa terasa seperti satu dunia.

Namun si pemberi petuah belum selesai. Ia melanjutkan dengan gaya sok tabah, “Masih banyak wanita lain di luar sana.” Kalimat ini biasanya diucapkan oleh orang yang tidak sedang kehilangan, atau lebih tepatnya—yang belum sadar bahwa setiap orang itu tak tergantikan.

Waktu berlalu, roda kehidupan berputar. Tibalah giliran si bijak itu sendiri ditinggalkan. Kali ini, bukan satu, tapi satu-satunya yang ia kira akan bertahan. Ia duduk sendiri, menatap langit, dan mendadak merasa… kiamat itu ternyata bisa sangat pribadi.

Teman-temannya datang, lalu dengan senyum tipis mengutip kalimat sakti yang dulu pernah ia ucapkan: “Tenang saja, kehilangan satu wanita bukan kiamat.” Ia hanya terdiam. Bukan karena setuju, tapi karena baru saja memahami bahwa kalimat itu lebih cocok ditulis di spanduk, bukan di hati manusia.

Wahai Haili Yoga, berhati-hatilah dengan kalimat yang terdengar kuat tapi kosong rasa. Sebab tidak semua kehilangan bisa disederhanakan, dan tidak semua luka bisa dihibur dengan logika.

Ingatlah, kehilangan satu orang mungkin bukan kiamat bagi dunia, tapi bisa jadi kiamat kecil bagi seseorang. Dan sering kali, yang paling menyakitkan bukan kehilangannya, melainkan cara orang lain meremehkannya.

Bersambung ke pasal 30…

(Mendale, April 9, 2026)

Terkait : Petuah untuk Haili Yoga, Pasal 28: Pahlawan tetap manusia, dan manusia bisa salah

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.