Sengkewe Sepanjang Musim: Dari Kebun Kopi, Tama Inen Mayak Teri hingga Ortega Coffee

oleh

TAKENGON-LintasGAYO.co : “Sengkewe Sepanjang Musim” bukan sekadar sebuah pertunjukan seni yang dipentaskan pada Sabtu malam, 4 April 2026 di Taman Inen Mayak Teri Takengon.

Ia adalah perjalanan budaya yang dimulai dari kebun kopi, berlanjut ke ruang dialog perempuan, kemudian menjelma menjadi teater puisi di ruang publik, dan ditutup dengan pengenalan proses pascapanen hingga sangrai di rumah produksi kopi lokal. Sebuah perjalanan lengkap dari hulu hingga hilir dunia kopi Gayo.

Rangkaian kegiatan yang diselenggarakan Komunitas Desember Kopi Gayo atas dukungan Dana Indonesiana, LPDP, dan Kementerian Kebudayaan RI ini memperlihatkan bahwa kopi bukan hanya komoditas ekonomi, tetapi juga ruang pengetahuan, ruang perempuan, dan ruang kebudayaan.

Belajar dari Kebun: Pegayon sebagai Sekolah Lapangan Kopi

Perjalanan Sengkewe Sepanjang Musim dimulai pada Jumat, 3 April 2026, di Kebun Kopi Kem Pegayon, Bener Meriah.
Di sana peserta diajak memahami kopi sejak dari akar: bagaimana menanam, merawat, memanen, hingga proses pengolahan awal pascapanen seperti penggilingan dan penjemuran gabah kopi.

Seluruh proses edukasi kebun ini dipandu oleh Bang Roma, yang telah lama berpengalaman mengelola kebun kopi di kawasan Pegayon. Ia menjelaskan tahapan demi tahapan secara langsung di lapangan—mulai dari pembibitan, perawatan tanaman, hingga proses menjadi green bean.

Yang menarik, peserta juga melihat secara nyata bahwa sebagian besar proses panen kopi di Tanah Gayo justru dilakukan oleh perempuan. Kebun Pegayon hari itu menjadi ruang belajar terbuka.

Dialog Sengkewe: Perempuan sebagai Pilar Ekonomi Kopi

Masih di Kem Pegayon, kegiatan dilanjutkan dengan Dialog Budaya Sengkewe: Perempuan Gayo dan Kopi. Dialog ini menghadirkan dua narasumber penting: Teri Enda Wahyuni, Uni Inen Iko.

Kegiatan diawali dengan pemutaran film dokumenter tentang kehidupan Bik Uni Inen Iko, perempuan kopi Gayo yang sehari-hari bekerja di kebun sekaligus menjalani proses sortir kopi sebagai bagian dari mata rantai ekonomi keluarga.

Film tersebut memperlihatkan realitas kerja perempuan dalam dunia kopi—sunyi, tekun, dan sering tidak terlihat.
Dalam dialog, Teri Enda Wahyuni menegaskan bahwa perempuan memiliki posisi strategis dalam ekonomi kopi Gayo, sementara Uni Inen Iko menghadirkan kesaksian langsung tentang pengalaman hidupnya sebagai perempuan yang tumbuh bersama kopi sejak kecil.

Dialog ini memperkuat pesan utama rangkaian kegiatan Sengkewe:
bahwa perempuan adalah jantung dari dunia kopi Gayo.

Teater Puisi di Taman Kota: Seni sebagai Bahasa Pemulihan

Rangkaian kegiatan kemudian mencapai puncaknya pada Sabtu malam, 4 April 2026, melalui pertunjukan Teater Puisi Sengkewe Sepanjang Musim di Taman Inen Mayak Teri Takengon.

Pertunjukan ini menampilkan mayoritas seniman perempuan, sebuah pilihan artistik yang sejalan dengan tema besar sengkewe sebagai ruang kerja perempuan dalam dunia kopi.

Di panggung terbuka taman kota itu tampil: sebuku oleh Zuhra, didong banan Donang Banan Pegayon, tari kopi Sanggar Tajuk Kepies, tari munalo Sanggar Nayu, pembacaan puisi oleh penyair perempuan Gayo, musikalisasi puisi oleh musisi Tanah Gayo doa budaya oleh Maestro Didong Ceh M Din. Pertunjukan menjadi ruang kolektif tempat seni, ingatan bencana, dan harapan pemulihan bertemu dalam satu panggung terbuka yang bisa diakses masyarakat luas.

Ortega Coffee: Mengenal Dunia Depe dan Sangrai.

Rangkaian kegiatan berlanjut pada Minggu, 5 April 2026, di Rumah Produksi Kopi Ortega Coffee, Kebayakan, Aceh Tengah.
Di sini peserta diperkenalkan pada proses depe, yaitu kegiatan sortir kopi yang sepenuhnya dilakukan oleh perempuan.

Proses ini sangat menentukan kualitas kopi Gayo sebelum masuk ke tahap pengolahan lanjutan.

Selanjutnya peserta diajak melihat proses sangrai kopi menggunakan mesin, sebuah tahap penting yang menentukan karakter rasa kopi sebelum disajikan.

Kegiatan ini dipandu oleh Dini Malim Dewa, satu-satunya perempuan yang tergabung dalam Gayo Cupper Team, sekaligus ahli uji rasa kopi (cupping).

Melalui sesi ini peserta memahami bahwa kualitas kopi tidak hanya ditentukan oleh kebun, tetapi juga oleh ketelitian perempuan di meja sortir dan kepekaan rasa di ruang cupping.

Sengkewe sebagai Perjalanan Budaya Kopi
Rangkaian kegiatan Sengkewe Sepanjang Musim menunjukkan bahwa kopi Gayo tidak berhenti pada produksi.

Ia adalah: pengetahuan, pengalaman perempuan, kerja kolektif masyarakat
dan ekspresi kebudayaan.

Dimulai dari kebun Pegayon, berlanjut ke ruang dialog perempuan, menjelma menjadi teater puisi di taman kota Takengon, lalu ditutup di ruang produksi Ortega Coffee—perjalanan ini menghadirkan satu kesimpulan penting:
kopi Gayo bukan hanya hasil panen.
Ia adalah perjalanan hidup sepanjang musim. [SY]

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.