Oleh : Dr. Jamhuri Ungel, MA*
Sesungguhnya Allah menurunkan Lailatul Qadar, Lalu Allah bertanya Tahukah kamu apa itu Lailatul Qadar, Allah menjawab Sendiri pertanyaanNya. Lailatul Qadar adalah malam yang lebih baik dari 1000 Bulan. Pada malam itu semua malaikat diturunkan ke dunia dengan pimpinan Malaikat Jibril, kejadian malam Lailatul Qadar itu sampai menjelang terbitnya Fajar.
Dari arti ayat ini bisa kita pahami alasan kenapa Allah SWT menanyakan tentang Tahukah kamu apa itu Lailatul Qadar ? Pertanyaan ini sama halnya ketika Allah bertanya dengan pertanyaan pada surat-surat yang lain seperti Allah bertanya tentang hari kiamat yaitu Apa itu hari kiamat?
Dari sini penulis memahami bahwa malam Lailatul Qadar adalah sebuah keadaan atau kejadian yang terjadi pada salah satu malam diantara malam-malam bulan Ramadhan. Kejadian ini belum pernah dirasakan atau di alami oleh siapapun sehingga Allah bertanya tentang Lailatul Qadar.
Kalaulah Seandainya ada diantara manusia yang mendapatkan malam Lailatul Qadar atau mengalami kejadian-kejadian apa saja yang terjadi pada malam lailatul qadar maka Allah tentu tidak akan bertanya tentang hal tersebut.
Sama halnya dengan pertanyaan Allah tentang hari kiamat bahwa hari kiamat tersebut adalah suatu kejadian yang belum terjadi. Karena kiamat terjadi setelah berakhirnya umur dunia. Ini artinya tidak pernah dialami manusia sejak Nabi Adam sampai saat sekarang ini, sehingga Allah pantas menanyakan tentang Apa itu hari kiamat.
Bila kita amati dari kajian-kajian yang diberikan oleh ulama-ulama, kiai-kiai, tengku – tengku serta para penceramah bahwa tanda-tanda adanya malam Lailatul Qadar itu diantaranya adalah semua makhluk yang ada di alam ini pada saat itu bersujud kepada Allah SWT sehingga banyak penafsiran yang kita dapatkan dari kajian-kajian tersebut seperti halnya ketika saya waktu kecil digambarkan oleh orang tua bahwa pada malam Lailatul Qadar semua makhluk seperti pohon-pohon pada saat itu bersujud merunduk merapatkan daun-daunnya ke tanah. Hewan-hewan sujud seperti halnua manusia, dekikian jugà dengan yang lain.
Orang tua saya memahami apa yang disampaikan oleh ulama-ulama pada saat itu bahwa bersujudnya alam adalah sama dengan bersujudnya manusia. Tetapi ketika saya mengaji dan mengkaji baru saya pahami bahwa makna sujud dalam Alqur’an bukanlah makna sujud Hakiki dalam arti sujudnya manusia tetapi sujudnya makhluk-makhluk Allah di dunia ini sangat beragam dengan makna sujud adalah ketaatan dan kepatuhan mereka kepada Allah SWT.
Karena pengalaman dan pemahaman seperti yang digambarkan tersebut sehingga sampai pada saat ini banyak orang-orang yang memaknai atau menunggu datangnya malam Lailatul Qadar itu dengan mengurangi jam tidur sambil beribadah kepada Allah SWT.
Ditambahkan lagi oleh penjelasan dari para ulama bahwa kejadian malam Lailatul Qadar itu terjadi pada malam ganjil, bahkan menekankan lagi bahwa malam ganjil yang dimaksudkan adalah malam 11 ke atas dan ada lagi yang mengatakan bahwa malam ganjil yang dimaksudkan adalah malam 21 ke atas. Mungkin apa yang dihendaki oleh ulama tersebut adalah Supaya umat manusia pada malam-malam ganjil di mana diperkirakan datangnya malam Lailatul Qadar itu supaya semua umat muslim meningkatkan kuantitas dan kualitas dari ibadah-ibadah mereka dengan harapan semua mereka mendapatkan malam Lailatul Qadar.
Tetapi dengan menentukan ciri-ciri sebagaimana yang disebutkan di atas maka kebanyakan orang merasa pesimis kalau mereka adalah orang yang mendapatkan malam Lailatul Qadar.
Logika sederhana kini menjadi lebih sulit ketika kita menjelaskan bahwa malam Lailatul Qadar itu hanya diturunkan pada malam-malam yang ganjil karena di antara masyarakat berbeda dalam memahami malam apa yang dikatakan dengan malam ganjil. Apakah malam jumat atau malam Sabtu atau malam-malam yang lain karena realita yang mereka hadapi adalah sebuah pemahaman berbeda dalam mengawali masuknya bulan Ramadhan itu sendiri.
Untuk itu penulis berkeyakinan bahwa apa yang dikatakan oleh Allah itu adalah sebuah kebenaran di mana malam Lailatul Qadar adalah pasti dan akan terjadi pada setiap bulan Ramadhan namun terjadinya malam Lailatul Qadar bukanlah Dalam makna fisik tetapi pada makna batin di mana keadaan satu malam diantara keadaan-keadaan yang ada di dalam bulan Ramadhan itu adalah malam Lailatul Qadar.
Boleh jadi pada malam ganjil atau pada malam Genap dan boleh jadi pada hari yang pertama pada malam yang pertama, Malam Kedua, malam ketiga dan seterusnya sampai berakhirnya bulan Ramadhan itu sendiri.
Karena itu penulis masih berpendapat bahwa semua orang akan mendapatkan malam Lailatul Qadar itu karena waktu terjadinya malam Lailatul Qadar adalah semalam suntuk, hanya saja mereka berbeda dari sisi kualitas yang mereka dapatkan dari malam Lailatul Qadar itu sendiri.
Sangat boleh jadi mereka yang mempunyai amal yang baik, ibadah yang baik akan mendapatkan imbalan dari amalan mereka melebihi dari 1000 Bulan, tetapi tidak menutup kemungkinan mereka yang mempunyai amalan sedikit tetàp mendapat imbàlàn sebanyàk amalan kebaikan mereka yang juga digandakan mencapa 1000 bulan lèbih.
Artinya pahala yang mereka dapat tidak sebanding dengan mereka yang banyak melakukan amalan-amalan kebaikan pada malam lailatul qadar tersebut.
Untuk hal ini kita semua masih mempunyai peluang untuk berbeda dalam memahami malam Lailatul Qadar itu sendiri, yang jelas di antara kita semua adalah orang-orang yang selalu meningkatkan amal ibadah kita khususnya pada bulan Ramadhan dengan harapan diantara malam kita beramal itu mendapatkan malam Lailatul Qadar dan pahala dari Amalan kita mencapai kepada jumlah melebihi dari 1000 Bulan. []







