Oleh : Muhammad Dahlan* (Kepala Perwakilan YARA Tanoh Gayo)
Opini reflektif HUT ke-449 Takengon itu menyentuh. Ia jujur, ia berangkat dari pengalaman sebagai penyintas dan relawan.
Namun di tengah puing dan lumpur yang belum sepenuhnya kering, kita membutuhkan lebih dari sekadar refleksi membutuhkan percepatan.
Tema “Bersatu untuk Bangkit” pada peringatan 17 Februari 2026 bukanlah kalimat puitik. Sejak ditetapkan melalui Qanun Nomor 10 Tahun 2010, hari jadi Takengon memang rutin diperingati. Tapi, tahun ini berbeda. Tahun ini, Takengon, Aceh Tengah sedang diuji.
Apresiasi patut diberikan kepada Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga, yang menyatakan kritik akan dijawab dengan program. Itu komitmen yang baik. Tetapi masyarakat hari ini tidak sedang menunggu pernyataan mereka menunggu hasil.
Bangkit tidak cukup dengan niat baik. Bangkit harus diukur dengan indikator yang jelas: Berapa rumah sudah diperbaiki?
Berapa hektare kebun kopi sudah bisa ditanami kembali? Berapa keluarga yang mendapat pendampingan psikososial terstruktur?
Di Kemukiman Wihni Dusun Jamat dan wilayah terdampak lainnya, warga tidak butuh seremoni. Mereka butuh kepastian. Mereka butuh timeline. Mereka butuh transparansi anggaran. Jika tema “bersatu” sungguh dimaknai, maka seluruh SKPK harus bergerak dalam satu komando yang terukur, bukan berjalan sektoral.
Kita sepakat: pemulihan tidak hanya fisik, tetapi juga sosial dan ruhiyah. Langkah pelayanan berbasis masjid melalui Masjid Agung Ruhama’ Takengon patut diapresiasi. Namun, jangan sampai pendekatan spiritual berhenti di pusat kota. Kampung-kampung terdampak harus menjadi prioritas, bukan pelengkap laporan.
Sektor pertanian pun tak boleh ditangani dengan pola lama. Jika kebun kopi tertimbun lumpur dan lahan pertanian masyarakat rusak, maka responsnya tidak bisa normatif.
Dinas teknis harus turun dengan peta komoditas adaptif, skema bantuan bibit yang tepat guna, hingga akses pasar yang jelas. Petani tidak bisa hidup dari semangat mereka hidup dari panen.
Kita juga tidak boleh menutup mata terhadap keteladanan para relawan, TNI, dan Polri yang bekerja tanpa panggung. Di situlah makna “bersatu” menemukan wujudnya: kerja sunyi, bukan sorotan kamera.
Namun perlu ditegaskan, pemerintah daerah adalah dirigen. Ia bukan sekadar peserta gotong royong. Ia pengarah, pengambil keputusan, penentu prioritas.
Jika kebangkitan ingin nyata, maka keberpihakan harus terlihat pada alokasi anggaran, pada kecepatan eksekusi, pada keberanian memangkas belanja yang tidak mendesak.
Takengon tidak sedang butuh slogan yang indah. Takengon butuh keberanian menunda kemeriahan demi percepatan pemulihan. Butuh transparansi yang membuka data, bukan sekadar narasi.
Selasa (16/2/2026), dari jantung Dataran Tinggi Tanah Gayo, Aceh Tengah, Kebangkitan tidak lahir dari baliho dan slogan. Ia tumbuh dari rumah yang kembali layak dihuni, kebun yang kembali menghijau, dan tawa anak-anak yang tak lagi dibayangi trauma.
Jika “Bersatu untuk Bangkit” ingin bermakna, buktikan hari ini juga, biarkan kerja berbicara lebih lantang dari kata-kata.
Selamat HUT ke-449 Takengon. Saatnya bangkit, sungguh-sungguh. Saya tegaskan satu hal: kebenaran harus dijaga, dan perjuangan untuk rakyat tak boleh berhenti. []





