Oleh: Dr. Jamhuri Ungel, MA*
Megang adalah suatu adat atau tradisi yang ada di dalam masyarakat Gayo, tradisi atau adat megang ini juga ditemukan di daerah Aceh. Kata megang dalam bahasa Aceh ditulis dengan meugang. Arti dari megang adalah merupakan ekspresi kegembiraan masyarakat khususnya masyarakat Gayo dalam menyambut akan bulan Ramadhan.
Kegembiraan ini diluapkan oleh masyarakat Gayo karena mereka mengetahui bahwa bulan Ramadan adalah penghulu dari semua bulan.
Di dalam bulan Ramadhan semua amalan yang dikerjakan baik siang hari maupun malam hari pahala akan dilipatgandakan, ibadah wajib pahalanya berlipat ganda sedangkan amalan-amalan sunat yang dilakukan pada bulan Ramadhan maka nilainya disamakan dengan ibadah wajib yang dilakukan di luar bulan Ramadhan.
Sebelum datangnya bulan Ramadhan masyarakat Gayo telah mempersiapkan kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan pada saat datangnya bulan Ramadhan. Seperti halnya masyarakat Gayo sudah menanam dan memanen kacang tanah menjelang datangnya bulan Ramadhan. Ini disiapkan untuk kebutuhan bumbu pecal sebagai makanan berbuka puasa.
Makanan pecal ini untuk sebagian besar masyarakat Gayo seolah menjadi keharusan menjadi bagian hidangan berbuka puas.
Masyarakat Gayo juga mempersiapkan bubuk kopi dengan menjemur, menggongseng dan menumbuk dengan lesung sampai menjadi bubuk untuk diminum selama satu bulan di bulan Ramadhan.
Sebelum datangnya bulan Ramadhan masyarakat juga telah menanam sayur-sayuran seperti labu Jepang, singkong atau sayuran-sayuran lain yang semuanya dipersiapkan untuk kebutuhan bulan Ramadhan. Mereka juga menandai tempat atau pohon-pohon yang buahnya akan dipetik seperti bajik ( buah nangka yang masih kecil), buah pisang yang masih muda, buah jambu atau delima, buah terong Belanda atau agur, dan lain-lain.
Ini semua adalah bahan-bahan yang dipersiapkan untuk membuat cecah kelat yang menjadi bagian utama ketika berbuka puasa.
Ketika berbuka puasa diawali dengan minum air putih, kemudian minum kopi, selanjutnya makan cecah kelat dan pecal. Setelah itu baru melaksanakan shalat maghrib secara berjamaah yang diimami oleh ayah dengan jamaah ibu dan anak-anak.
Jadi secara umum kebutuhan-kebutuhan masyarakat Gayo untuk menghadapi datangnya bulan Ramadhan sudah dipersiapkan terlebih dahulu, bahkan pekerjaan-pekerjaan berat yang menguras tenaga telah diselesaikan sebelum datangnya bulan Ramadhan seperti membersihkan kebun. Demikian juga dengan pekerjaan-pèkerjaan berat lainnya seperti melihat kerbau.
Karena pada prinsipnya menurut mereka bulan Ramadhan adalah bulan khusus untuk beribadah.
Ekspresi lain dalam menyambut bulan ramadhan adalah mereka membersihkan mersah dan lingkungan tempat tinggal, ini semua adaĺah untuk kenyamanan dalam beribadah.
Masyarakat Gayo ketika megang berdoa kepada keluarga yang masih hidup dan juga mengìrimkan doa kepada anggota keluarga yang telah meninggal, merek menyebutnya dengan kenduri. Kenduri dilakukan dengan makan-makan bukan hanya untuk mereka yang masih hidup tetapi juga mengajak ruh mereka yang sudah meninggal, dengan berdoa kepada arwah keluarga yang sudah meninggal.
Pada saat hari terakhir menjelang bulan Ramadhan mereka menyiapkan makanan-makanan, biasanya makanan yang disiapkan berbeda dengan hari-hari biasa. Mereka terkadang memotong ayam, membeli ikan bandeng atau ikan-ikan lain.
Makanan ini ditambah dengan makanan kenduri atau makanan berdoa seperti adanya apam, bertih, lepat, nasi putih, air putih, kopi, dan lain-lain. Ini biasa dihidang secara khusus di tempat yang khusus pula di atas tikar tempat shalat.
Di depan hidangan tersebut kepala keluarga sebelum memulai makan bersama memanjatkan doa kepada Allah SWT untuk keselamatan yang sudah mendahului dan meminta keselamatan kepada keluarga yang masih hidup.
Untuk sebagian masyarakat ketika dia berdoa kepada roh keluarga yang telah mendahului mereka atau kepada arwah para almarhum biasa juga mereka membakar kemenyan.
Mereka pernah mengatakan kepada saya bahwa fungsi dari kemenyan ini sebenarnya bukanlah untuk sesembahan tetapi asap dari kemenyan ini mereka umpamakan sebagai washilah.
Mereka menganggap ketika berdoa maka doa-doa akan dibawa bersamaan dengan asap kemenyan kehadirat Allah SWT sehingga mereka merasa lega dan menganggap doa-doa yang dipanjatkan sampai kepada Allah SWT dengan perantaraan atau washilah asap dari kemenyan yang dibakar.
Makanan-makanan lain yang dipersiapkan untuk menyambut datangnya bulan Ramadhan adalah lepat yang dibuat dalam jumlah yang lumayan banyak sehingga dapat dikonsumsi untuk satu bulan selama bulan Ramadhan dan nanti ketika menyambut datangnya Idul Fitri mereka kembali membuat lepat.
Lepat ini merupakan makanan yang istimewa dalam masyarakat Gayo ketika menyambut hari-hari besar keagamaan seperti halnya megang, Idul Fitri, Idul Adha, Maulid dan lain-lain. []






