Mengobral Air Mata Buaya

oleh

Catatan Redaksi*

Di sebuah negeri yang gemar seremoni, ada kebiasaan baru yang tumbuh subur: pemimpin menangis di depan kamera. Setiap musibah, mikrofon disiapkan, tisu diselipkan, dan lensa diperbesar. Rakyat pun menonton, antara terharu dan terhibur. Seolah-olah air mata menjadi indikator empati, bukan kebijakan.

Kita tentu tidak sedang menuntut pemimpin menjadi batu. Bahkan Soekarno yang berapi-api itu dikenal sentimentil dalam momen tertentu. Namun yang membedakan negarawan dengan pemain sinetron adalah kadar dan tempatnya. Tangis seorang pemimpin bukan untuk dipertontonkan, apalagi dijadikan trailer episode berikutnya.

Dalam anekdot lama, seekor buaya menangis tersedu di tepi sungai. Ikan-ikan kecil terharu, mendekat, lalu… kita tahu kelanjutannya. Air mata bisa menjadi strategi. Ia tampak tulus, tetapi seringkali sekadar pelumas simpati. Politik pun berubah menjadi panggung drama, lengkap dengan tata cahaya dan pengambilan gambar sudut terbaik.

Pemimpin itu ibarat nahkoda. Bayangkan jika di tengah badai ia berdiri di geladak sambil sesenggukan, meminta tisu pada awak kapal. Alih-alih memberi arah, ia malah menambah gelombang. Rakyat membutuhkan kompas, bukan komedi. Ketegaran adalah selimut psikologis bagi publik yang sedang kedinginan oleh krisis.

Ada yang berkilah, “Ini bukti hati nurani.” Baik. Tetapi hati nurani tidak selalu harus dibuktikan dengan cairan mata. Ia lebih sahih bila dibuktikan lewat keputusan cepat, keberanian mengambil risiko, dan kesediaan memikul salah. Air mata tidak pernah mengganti regulasi yang tegas, apalagi mempercepat tanda tangan di atas kertas.

Seorang kawan pernah berseloroh, “Kalau mau menangis, tunggulah hujan deras.” Agar rakyat tak bisa membedakan mana air mata, mana air hujan. Nasihat itu terdengar jenaka, tetapi menyimpan pesan serius: pemimpin boleh rapuh sebagai manusia, namun jangan rapuh sebagai simbol. Jangan sampai setiap konferensi pers berubah menjadi audisi sinetron sore.

Sejarah menunjukkan, krisis tidak pernah selesai oleh tangisan. Ia selesai oleh keteguhan. Bahkan Lee Kuan Yew yang dikenal keras pernah menitikkan air mata saat memisahkan diri dari federasi. Namun setelah itu, ia bekerja tanpa henti membangun fondasi negara. Tangisnya menjadi jeda, bukan konten berseri.

Mengobral air mata buaya hanya akan menggerus wibawa. Rakyat bisa memaafkan kesalahan, tetapi sulit memercayai drama yang berulang. Sebab di balik setiap tetes yang terlalu sering jatuh, selalu ada pertanyaan: ini empati, atau sekadar strategi pencitraan yang disutradarai dengan rapi?

Apalagi kini air mata pejabat kadang dibuatkan rilis resminya: “Pada pukul 10.32 WIB, beliau menitikkan dua tetes sebagai bentuk kepedulian mendalam.” Foto diperbesar, dikirim ke grup wartawan, diberi narasi heroik. Seolah-olah duka telah selesai hanya karena sudah diberi keterangan pers dan tagar simpatik.

Pemimpin tidak dilarang menangis. Tetapi di hadapan rakyat, ia mesti tegar. Bila ingin bersedih, lakukanlah dalam sunyi. Sebab yang dibutuhkan publik bukan mata yang basah, melainkan tangan yang bekerja dan hati yang kokoh.

Comments

comments

No More Posts Available.

No more pages to load.