Oleh : Satria Alfitrah, ASN Pemkab Aceh Tengah Warga Blang Kolak II
Dalam lanskap politik modern, ekspektasi publik terhadap seorang pemimpin sering kali bersifat kontradiktif. Di satu sisi, kita merindukan sosok “Manusia Baja” yang tak tergoyahkan oleh badai krisis.
Di sisi lain, kita haus akan pemimpin yang memiliki kecerdasan emosional (EQ) dan mampu berempati secara tulus dengan penderitaan rakyatnya.
Tidak semua tangisan adalah strategi. Dalam psikologi kepemimpinan, menunjukkan kerentanan (vulnerability) terkadang justru menjadi kekuatan.
Saat terjadi tragedi atau musibah bencana alam, pemimpin yang menunjukkan kesedihan secara tulus sebenarnya sedang memvalidasi duka yang dirasakan rakyat. Ini menciptakan ikatan emosional bahwa “kita sedang berduka bersama.”
Jabatan publik seringkali terasa kaku dan birokratis. Ekspresi emosi yang spontan mengingatkan publik bahwa di balik kebijakan yang dingin, ada manusia yang memiliki hati nurani.
Perbedaan antara empati dan pencitraan terletak pada “panggungnya”. Jika sebuah tangisan diikuti dengan rilis pers yang detail atau sudut kamera yang diatur sedemikian rupa, maka nilai ketulusannya otomatis terdegradasi menjadi sekadar konten.
Bahaya terbesar adalah ketika air mata dijadikan pengganti (substitute) bagi solusi konkret. Rakyat tidak bisa kenyang hanya dengan melihat pemimpinnya menangis, mereka membutuhkan regulasi dan aksi nyata.
Sejarah mencatat bahwa pemimpin besar adalah mereka yang mampu menyeimbangkan kedua sisi ini.
Seorang pemimpin boleh saja menangis, asalkan air mata itu jatuh karena ia merasakan beban rakyatnya, bukan karena ia mengkhawatirkan elektabilitasnya.
Air mata yang berharga adalah air mata yang jatuh sebentar di hadapan publik, namun diikuti dengan kerja keras berjam-jam dilapangan untuk memastikan air mata rakyatnya berhenti mengalir.
Kuncinya bukan pada larangan berekspresi, melainkan pada proporsi. Pemimpin tidak perlu menjadi robot, namun ia juga tidak boleh menjadi aktor.
Rakyat tetap membutuhkan nahkoda yang meski matanya sembab, tangannya tetap kokoh memegang kemudi.





