Oleh : Dr. Jamhuri Ungel, MA*
Setelah anak gadis atau anak beru menikah dengan anak lajang atau anak bujang, maka antara orang tua dari inen mayak dan orang tua dari aman mayak saling menyapa dengan panggilan (tutur) umè.
Umè ini bisa dikatakan dengan panggilan setara, arti setara tidak ada di antara mereka jarak umur ataupun jarak strata dalam panggilan.
Sebagai contoh dapat disebutkan apabila orang tua dari inen mayak berusia jauh lebih muda dari orang tua aman mayak atau sebaliknya orang tua aman Mayak lebih muda dari orang tua aman mayak, mereka tetap memanggil tutur umè.
Kalau selama ini mereka bertutur ama, abang,aka dan lain-lain maka ketika anak mereka menikah maka tidak boleh lagi bertutur karena panggilan keturunan, tetapi harus betutur umè.
Acara pertemuan keluarga besar pihak inen mayak dengan keluarga besar aman mayak berlangsung setelah opat ingi (empat malam) setelah munyawahni ukum atau setelah akad nikah. Acara ini dilakukan di kediaman keluarga dari inen mayak.
Sebelumnya bisa disebutkan bahwa pada saat itu, inen mayak dan aman mayak setelah akad nikah diantar kekediaman keluarga aman mayak untuk acara mangan penan (pesta dirumah aman mayak).
Kemudian pihak keluarga aman Mayak secara ramai-ramai atau pihak sara ine dari aman Mayak mengantar aman mayak dan inen Mayak ke kediaman keluarga Inen Mayak untuk acara mangan berumè (makan bersama).
Aman Mayak beserta inen mayak dengan ditemani rombongan keluarga aman mayak, datang ke kediaman keluarga inen mayak.
Dalam adat Gayo mereka membawa kero tum atau nasi bungkus. Bentuk kero tum yaitu nasi dibalut dengan daun pisang berbentuk bulat batangan dengan panjang kira-kira satu jengkal dan besrnyar kira-kira sebesar kepalan tangan orang dewasa.
Kero tum ini diikat dengan menggunakan tali yang disebut dengan cikè. Biasanya cike digunakan untuk bahan anyaman oleh masyarakat Gayo untuk membuat tape atau sentong.
Tape adalah tempat paling kecil yang digunakan oleh masyarakat Gayo untuk menyimpan atau membawa barang sebanyak kira-kira 2 kal (2 katok). Sedangkan sentong biasa berisi sebanyak dua sampai lima bambu. Di samping kero tum yang berjumlah enam belas tum, pihak keluarga aman mayak juga membawa lauk seperti gulai ayam kampung dan kue-kue.
Sesampai di rumah atau tempat kediaman keluarga inen Mayak, maka diadakanlah makan bersama. Tentu nasi yang dibawa oleh keluarga aman Maya tidaklah cukup untuk dimakan oleh semua tamu yang merupakan gabungan keluarga aman mayat yang datang dan keluarga Inna Maya yang ditemui di tempat kediaman tersebut.
Jadi kero tum dihidang khusus kepada pihak alik atau Pun dari pihak inen mayak. (Alik atau Pun adalah panggilan untuk keluarga pihàk ibu).
Sedangkan untuk keluarga aman mayak dan keluarga inen mayak yang lain dihidang dengan hidangan biasa. Nasi dan lauk disiapkan oleh keluarga (umè) pihàk aman mayàk.
Setelah selesai makan, biasanya salah seorang dari umè pihak inen mayak berdiri memfasilitasi perkenalan dengan mengucapkan salam, pujian, dan shalawat, serta penghormatan kepada tamu yang datang.
Kemudian memperkenalkan semua keluarga inen Mayak mulai dari yang terdekat sampai yang paling jauh, baik dari pihak umè rawan ataupun dari pihak umè banan.
Setelah itu dilanjutkan dengan perkenalan pihak ume dari aman mayak, Sama halnya dengan perkenalan Umè dari pihak inen Mayak dan Umè pihak aman mayak juga diperkenalkan baik dari keluarga pihak umè rawan dan juga umè banan.
Perkenalan ini dilakukan secara rinci, dan tidak ada satu orang pun yang dilupakan, karena perkenalan ini merupakan penentuan tutur apabila besok dan seterusnya bertemu di mana pun.
Bagi orang Gayo, panggilan-panggilan dari seseorang kepada orang lain ini tidak boleh salah, dan kalau salah dianggap tidak sopan atau tidak hormat. Karena ada sebagian orang yang bisa bercanda, tetapi ada juga sebagian orang yang memang dalam adat Gayo dianggap kemali (tabu) untuk bercanda.
Alasan perkenalan secara rinci karena boleh jadi keluarga Inen Mayak atau keluarga aman Mayak bepergian ke tempat-tempat tertentu, boleh jadi dekat atau jauh, disana terdapat xalah sstu keluarga aman mahak atau inen mayak, maka hendaklah dijadikan sebagai tempat persinggahan dan tidak perlu mencari tempat lain untuk singgah dan menginap. []





