TAKENGON-LintasGAYO.co : Sebuah pemandangan menyayat hati banyak warga, saat getek (transportasi menyebrang sungai tradisional) yang terbalik di Sungai Kala Ili, Kecamatan Linge, Aceh Tengah.
Sebelumnya, ada sebuah jembatan yang menghubungkan daerah yang dihuni 5 Kampung. Namun, jembatan ini hanyut terbawa arus saat bencana hidrometeorologi 26 November 2025 lalu.
Masyarakat kini, harus melewati sungai tersebut dengan bantuan getek dengan tali seling. Trasportasi ini, sangat rentan terjadi kecelakaan, terutama penumpang terjatuh atau terbalik.
Warga Gayo di daerah-daerah terisolir paska bencana, kini tengah mempertaruhkan nyawanya. Aliran sungai yang masih cukup deras, membuat semuanya harus ektra hati-hati.
Dalam tayangan sebuah video yang kini viral, memperlihatkan, ada sekelompok warga menyebrangi sungai Kala Ili dengan getek.
Di tengah perjalanan, getek yang mereka tumpangi oleng, sebagian barang bawaan hanyut ke sungai. Yang lebih miris lagi, di dalam getek ada seorang ibu bersama anaknya yang masih bayi.
Beruntung, mereka semua selamat. Namun, kejadian menegangkan itu tentu tak akan dilupakan seumur hidup.
Lain lagi di tempat lain di Gayo. Baru-baru ini, kejadian adanya relawan yang terjatuh dari saat melintas sungai dengan bantuan tali seling yang terbuat dari baja.
Wakil Bupati Aceh Tengah juga pernah merasakan bagaimana seling yang dia tumpangi terputus, hingga nyaris nyempung ke sungai berarus deras.
Di Terang Engon, Kecamatan Silihnara Aceh Tengah, dalam sepekan terakhir dilaporkan ada seorang warga yang terjatuh melintasi tali seling. Hingga kini, jenazahnya belum ditemukan.
Di Kabupaten Bener Meriah, seorang pria lanjut usia diduga terjatuh saat melintasi tali seling di sungai Tembolon, Kecamatan Syiah Utama.
Jenazahnya baru ditemukan sehari kemudian, dengan terseret arus sekitar 5 KM atau berada di Kampung Tembolon.
Melihat kejadian-kejadian ini, sampai kapan masyarakat Gayo dibiarkan oleh pemimpin daerah ini menyebrangi sungai dengan mempertaruhkan nyawa.
Hari ini, 1 Januari 2026, sudah 37 hari warga daerah ini terus berjuang mempertahankan hidup, di tengah keterbatasan paska bencana. Sementara penanganan bencana, terasa sangat-sangat lambat.
Bahkan, hingga saat ini, tidak ada kebijakan apapun yang terlihat dari seorang pemimpin daerah di Aceh Tengah. Yang ada hanya postingan penyerahan bantuan kepada korban bencana.
Belum lagi masalah ekonomi masyarakat Gayo yang kini terpuruk. Banyak perkejaan yang hilang yang secara otomatis membuat ekonomi masyarakatnya turut tergerus. Bahan pokok di jual mahal, kemiskinan sudah di depan mata.
Masihkah pemimpin itu buta dan tuli? Apakah penangan bencana cukup dengan penyerahan bantuan yang kebanyakan dirilis di akun-akun resmi pemerintah yang di nilai hanya sekedar konten, tanpa diikuti dengan kebijakan strategis?
Waullahualam.
[Catatan Redaksi]





