Oleh : Fauzan Azima*
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri…” demikian para pimpinan GAM pada masa perang Aceh; periode 1999-2005, selalu membuka peyampaikan idiologi kemerdekaan kepada Bangsa Aceh dimulai dengan ayat Qur’an Surat Ar-Ra’d Ayat 11.
Karakter orang Aceh yang sejati akan bergetar hatinya ketika dibacakan ayat-ayat Qur’an. Sebagai mana firman Allah dalam QS. Al-Anfal ayat 2 yang berbunyi, “Orang-orang yang beriman itu adalah orang-orang yang apabila disebutkan nama Allah maka bergetarlah hati mereka. Apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya maka bertambahlah keimanan mereka.”
Tentu saja kesucian hati para pemberi materi “ceramah” waktu itu sangat mempengaruhi, sehingga ucapannya menghujam sampai ke hulu hati pendengarnya. Pertanyaannya, mengapa sekarang kita mendengar ceramah, masuk kuping kanan keluar kuping kiri? Jawabnya adalah hati penceramah sama kotornya dengan hati kita sebagai pendengar.
Selanjutnya para pemimpin GAM mengaitkan penderitaan orang-orang Aceh dengan penetapan Jakarta bahwa Aceh sebagai Daerah Operasi Militer (DOM) yang tidak saja melukai fisiknya, tetapi juga perasaannya.
Orang Aceh merasakan Agamanya telah dihina, tanahnya telah dikuasai, hartanya telah dirampas, nasabnya telah diputus dan harga dirinya telah diinjak-injak. Sehingga lengkap sudah syarat untuk bersatu padu berperang melawan Jakarta.
Tujuan perang adalah merubah nasib orang Aceh agar lebih baik. Bahkan disebut ingin mengembalikan kejayaan, seperti kejayaan Kesultanan Iskandar Muda di masa lampau. Meskipun banyak kalangan yang menganggap bahwa kerugian akibat perang tidak sebanding dengan apa yang kita dapat sekarang, kecuali Aceh hanya mendapat “dana konpensasi perang” berupa dana Otonomi Khusus (Otsus). Namun bagaimanapun kita telah berusaha dengan niat yang tulus, meskipun hasilnya Aceh hanya mendapat sebagai “Self Government” dalam bingkai NKRI.
Setidaknya Aceh tidak seperti wilayah jajahan Belanda lainnya, lanjut para pimpinan GAM yang menyisipkan sindiran halus di sela-sela penyampaian idiologinya, bahwa di masa lalu penjajah sangat bernafsu hanya karena “cara mengaduk teh dan kopi” kaum perempuan inlander.
Konon, penjajah telah melanglang buana ke seluruh dunia untuk mencari tanah jajahan. Semua kaum perempuannya mengaduk kopi dan teh dengan sendok yang berlawanan arah dengan jarum jam. Hanya di daerah Inlander kaum perempuannya mengaduk kopi dan teh dengan menggoyangkan gelasnya, sedang sendoknya dibiarkan tegak di tengahnya.
Aceh sepatutnya jangan pernah lagi membiarkan penjajah merasa nyaman menguasai Sumber Daya Alam (SDA) dengan memperbudak Sumber Daya Manusia (SDM)-nya. Bukan sekali dua kali Aceh ditipu, namun sudah berulang kali. Dengan begitu kita termasuk orang yang disindir dalam Hadits riwayat Abu Hurairah RA, dari Nabi SAW, “Seorang mukmin tidak boleh dua kali jatuh dalam lubang yang sama.”
Senada dengan peringatan Nabi kita, pun demikian pemikir Yunani kuno juga mengungkapkan, “Hewan yang paling bodoh adalah keledai, selalu jatuh pada lubang yang sama.” Itu hanya kiasan agar kita memilih hidup pintar.
Ungkapan itu jangan disalahartikan menjadi falsafah hidup berumah tangga ibarat HP dan charger, yaitu “Hendaklah perempuan itu seperti HP IPhone, khusus, tidak sembarangan charger bisa masuk, sedangkan laki-laki itu hendaknya seperti charger HP android, bisa masuk ke banyak HP.” Wah gawat!
Merubah nasib bukan saja menjadi dominasi manusia, seluruh makhluk yang ada di alam semesta ini, termasuk siluman pun ingin merubah nasibnya menjadi manusia. Mereka selalu berdo’a, untuk diberi kesempatan sepanjang masa sekali saja sebagai manusia.
Kita yang sudah dianugerahi sebagai manusia, sepatutnya terus bergerak menjadi “manusa” yakni orang yang dalam hidupnya mempengaruhi manusia lainnya menjadi lebih baik serta memelihara dan melestarikan alam semesta.
Tentu saja dalam merubah nasib kita juga harus punya prinsif. Tidak mudah menyerah, tidak mengeluh dan tidak ke sana ke mari. Yakin dengan pilihannya, “Kalahpun saya berada di pihaknya, apalagi menang.” Jangan karena di ujung sudah mengetahui jagoan kita akan kalah, lalu kita dengan mudah berpaling.
Berprinsiplah seperti orang Gayo, “Setie mate, gemaseh papa (setia sampai mati dan memberi sampai miskin).” Dalam merubah nasib, jangan pula seperti dalam istilah Jawa, “Resulo” atau “gedumel” kalau ternyata dalam perjuangan ada hambatan.
Tataplah masa depan dengan penuh optimisme. Jadikan masa lalu yang kelam sebagai hikmah. Jangan pernah berhenti bergerak untuk menjadi orang yang lebih baik. Balaslah kejahatan orang di masa lalu dengan kebaikan. Apapun keadaannya, jangan ada kebencian dan kesombongan walau sedebu serta tetap kasih sayang terhadap semua makhluk.
Tanamkan dalam diri, sebagai mana yang dinasehatkan Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali sebagai riyadhah, “Sedikit makan untuk mematikan syahwat, sedikit tidur untuk membersihkan keinginan, sedikit bicara untuk selamat dari bahaya lisan dan bersabar atas keburukan orang untuk mencapai tujuan.”
Akhirnya, saya tertarik dengan perkataan pengusaha Nahrawi Nurdin yang populer dengan panggilan “Toke Awi” pendiri PT. Pasha Jaya, “Ketika kita bodoh dan tidak bermoral adalah jalan masuk penjajah ke negeri kita. Bangunlah kepedulian sesama kita dan jangan bengak. Ketika kita berbuat baik, di situ akan terbuka pintu rizki.”
(Mendale, 6 Juni 2022)





